Mahasiswa dan Kemajuan Pembangunan

Mahasiswa dan Kemajuan Pembangunan
Ilustrasi: crosswalk.com

Arus kemajuan zaman telah membentuk kontrol pada hiper-kompetitifnya sebuah pembangunan. Negeri yang berkeadilan adalah indikator utama dari kemajuan pembangunan.

Perspektif pembangunan yang maju tidak dapat diterjemah secara parsial. Walaupun kebijakan sektor ekonomi paling sering menunjukkan keberhasilan dalam pembangunan sebuah negeri, tetapi konsepsi yang melibatkan aspek sosial sebagai pertimbangan yang didukung oleh kebijakan politik yang pro pada lingkungan jika tampil secara padu telah menunjukkan indeks yang mapan.

Menurut Nugroho dan Rochim Dahuri (2004), kebijakan pembangunan yang mempertimbangkan aspek sosial tidak hanya menyerap aspirasi masyarakat. Tetapi, jauh melampaui dari itu, bahwa social capital (lembaga-lembaga sosial) terus dirawat bahkan ditingkatkan fungsi dan perannya.

Sementara, kelestarian nature capital dijadikan asas kebijakan demi keberlanjutan pembangunan umat manusia. Dan di atas semua itu adalah soal kebijakan yang dicetuskan dengan bersih tanpa tendensi kepentingan yang amoral dan benefit pribadi.

Konsepsi pembangunan yang maju sejatinya tidak dibangun atas aspek-aspek spasial. Relasional seluruh aspek pembangunan digerakkan secara bersama-sama untuk menopang kemajuan pembangunan yang hasilnya dapat dinikmati melintasi ruang dan waktu. Persis dengan pendapat Alexander (1994), bahwa baginya, pembangunan merupakan sebuah proses perubahan yang ada pada sistem sosial, yakni politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, infrastruktur, kelembagaan, pertahanan, dan budaya.

Sederhananya, pengambil kebijakan pembangunan mesti memiliki standar kemanusiaan yang baik yang didukung oleh social capital sebagai agen kontrol maupun sebagai partner kerja. Sinergitas keduanya berdampak pada simbiosis-mutualisme pembangunan suatu bangsa. Pendapat Nugroho dan Rochim yang menekankan sistem sosial dan lingkungan yang semua perannya bersumber pada pengambil kebijakan, atau pendapat Alexander yang menegaskan proses perubahan di semua laeding sektor.

SDM yang Visioner dan Bersih

Mayoritas uraian pembangunan suatu bangsa menegaskan pada kita bahwa di atas segala perencanaan dan konsepsi dari sebuah pembangunan yang berkemajuan, ada faktor sumber daya manusia (SDM) yang tampil sebagai peran utamanya. Identitas SDM menjadi penting sebab syarat tampilnya pembangunan agar berkemajuan kuasanya ada pada SDM yang visioner dan bersih.

Sebagaimana menurut United Nations Development Program (UNDP) bahwa fokus perhatian dari sebuah pembangunan adalah kualitas sumber daya manusia. Maka, yang terjadi adalah pengembangan berbagai pilihan yang dapat dilakukan oleh manusia. Karena dengan itu, manusia akan secara bebas dan terbuka memilih peluang dari kemajuan pembangunan yang diinginkan.

Karena muara dari sumber daya manusia ada pada fase usia produktif dan pengalamannya, maka dapat disimpulkan bahwa instrumennya adalah pemuda. Usia produktif seorang manusia terjadi pada usia muda dipilih karena mobilitasnya yang tinggi.

Dan mahasiswa terpilih sebagai jantung dari para pemuda karena ia memiliki kesempatan belajar memupuk daya intelektualnya agar dapat ditranformasikan sebagai investasi sosial, politik, dan kebudayaan. Tentunya, intensitas keterlibatan mahasiswa dalam pembangunan menjadi pendorong lahirnya ide-ide yang efektif tersebut.

Tak terkecuali di daerah, sinergitas antara sumber daya manusia (baca: mahasiswa) dan kelembagaan sosialnya (baik organisisasi kemahasiswaan) akan berpengaruh pada efisiensi pembangunannya. Kelembagaan sebagai pendorong suatu kemajuan pembangunan, sedangkan sumber daya manusia membutuhkan kelembagaan sebagai ruang penyampaian gagasan dan ide-ide kreatifnya. Integrasi keduanya sangatlah penting sebab membangun negeri tidak cukup seorang diri.

Menciptakan Pilihan Peluang

Oleh karena pembangunan itu adalah sebuah usaha terkoordinasi yang bertujuan menciptakan banyak alternatif kepada setiap warga negara agar aspirasinya yang paling manusiawi dapat tercapai, maka hakikat kelembagaan pada dasarnya adalah sarana dan ruang pengembangan kapasitas diri ke arah perluasan pengetahuan. Dan juga, sebagai tempat menguji kelayakan ide dan gagasan.

Pandangan Nugroho dan Rachim lebih lanjut menjelaskan bahwa yang dimaksud koordinasi tersebut merupakan upaya perencanaan mencapai kemajuan pembangunan. Sedangkan alternatif dapat diciptakan dengan mekanisme kelembagaan yang dapat berperan secara transparan dan adil, dan integrasi keduanya adalah bermuara untuk menjawab persoalan dan membina norma dan etika dalam pembangunan yang berkemajuan.

Biasanya kesenjangan dan kemiskinan, mekanisme kelembagaan yang lemah, kebijakan publik dan politik yang tidak berkeadilan sering kali menjadi kendala bagi kemajuan pembangunan. Namun, semua persoalan khas ini pada dasarnya adalah tantangan dan peluang dalam setiap proses pembangunan sebuah negara. Insan yang cerdas, dengan kapasitas dan kapabilitasnya, akan cerdik mengubah hambatan menjadi peluang.

Untuk sebuah kemenangan dalam persaingan pembangunan di lingkungan yang sudah kompetitif, maka mahasiswa dalam hemat penulis mesti visioner dan tahan atas perubahan dan gangguan. Sederhananya, sebagai bagian dari elite masyarakat karena memiliki kesempatan belajar di pendidikan tinggi dan memiliki mobilitas yang tinggi, mahasiswa memiliki peran strategis dalam kemajuan pembangunan sebuah bangsa.

Visioner juga berarti mampu menangkap dan memberdayakan kapabilitas yang ada. Responsif terhadap setiap perubahan yang terjadi. Taktis dalam mengolah tantangan dan kelemahan. Sebab itulah, masa produktif ini—oleh bapak bangsa kita Soekarno dengan berani disebut—sebagai kaum intelektual revolusioner karena pemuda adalah inisiator perubahan.

_____________________
Artikel Terkait:
    Moh Ariyanto Ridwan
    Latest posts by Moh Ariyanto Ridwan (see all)