Mahasiswa dan Organisasi Sosial

Mahasiswa dan Organisasi Sosial
Foto: http://webblogkkn.unsyiah.ac.id

Sangat jarang ada mahasiswa yang berpikir untuk kembali ke masyarakat membagikan ilmunya dan tumbuh bersama masyarakat untuk memajukan bangsa ini dengan organisasi sosial.

Mahasiswa seakan menjadi sebuah lambang bagi orang berpendidikan dan berpengetahuan luas di era ini. Fakta bahwa semakin tahun semakin banyak jumlah anak muda negeri ini yang mendaftarkan dirinya menjadi anggota dari sebuah kampus. Tentu ini menjadi hal yang menarik untuk dibahas mengingat ada fakta lain yang terungkap bahwa mahasiswa era milenial ini malah semakin sunyi dan sepi akan aspirasi.

Di masa lalu, ketika pendahulu kita dibungkam dan diasingkan, kita juga tahu bagaimana kesatuan dan suara para mahasiswa era itu. Mereka mampu menggulingkan sebuah rezim yang mengakar kuat dan dalam di bumi Indonesia ini. Kini, kita mahasiswa berada di era yang berbeda dari masa-masa kelam itu. Kini kita bebas bersuara. Kini kita bebas berorganisasi dan membuat komunitas, bersuara maupun kelompok.

Tetapi di manakah kita saat ini? Apakah kita sekadar sekumpulan muda-mudi malas yang suara dan aspirasinya dapat dibeli dengan uang dan hasutan penguasa? Seperti yang saat ini sering terjadi.

Dianggap sebagai agen perubahan, mahasiswa memang menyandang beban dan tugas mengasyikkan di mana kita harus aktif dan mengamalkan ilmu yang kita dapat di kampus atau kosan. Lucunya adalah saat ini banyak mahasiswa termasuk saya yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sehingga terasing dari masyarakat, terasing dari organisasi sosial, dan terasing dari dunia yang sesungguhnya.

Memang ada mahasiswa yang mampu turun dan aktif berorganisasi di masyarakat. Tetapi apa benar tujuan mereka benar-benar memajukan masyarakat, bukan sekadar untuk melancarkan kepentingan-kepentingan tertentu?

Mungkin terlalu kejam jika semua mahasiswa dipukul rata sama seperti itu. Tetapi, berapa banyak perubahan yang telah dilakukan mahasiswa? Kenapa yang ada hanya berita negatif seperti pornografi, narkoba, bully, bahkan pembunuhan dan masih banyak lagi? Apakah ini perubahan yang dimaksud?

Seolah berada di garda depan sebagai orang yang siap menghadapi kejadian di masa depan, kemajuan zaman dan tantangan bangsa Indonesia lainnya. Di kampus, mahasiswa hanya diajarkan untuk menilai dirinya sendiri dan menjadi yang terbaik walaupun menghalalkan segala cara. Lantas di dunia nyata mahasiswa dituntut untuk mengeyampingkan kepentingannya untuk kepentingan bangsa.

Tidak perlu terlalu muluk-muluk membahas kepentingan bangsa. Fakta bahwa mahasiswa menjadi salah satu konsumen dan pelaku pornografi, narkoba, dan bullying yang terbesar memunculkan pertanyaan bagaimana bangsa ini siap maju bersama mahasiswa jika mahasiswa yang seharusnya mendorong kemajuan malah menjadi penghambat dan menjadi korban dari kemajuan zaman. Melindungi siapa? Memajukan siapa? Jika yang dimaksud adalah untuk ideologi, nafsu, dan kepentingannya sendiri, mungkin masih ada benarnya.

Memiliki cita-cita luhur untuk memajukan masyarakat daerah dengan berbagai cara, salah satunya dengan aktif melakukan sosialisasi di daerah, melakukan penelitian, melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata), bahkan sampai aktif di organisasi sosial untuk memajukan masyarakat dan mencerdaskan bangsa dengan ilmu dan pendidikan yang telah didapat. Banyak mahasiswa yang mendidikasikan waktunya untuk keperluan masyarakat dan berorganisasi dalam daerah, tetapi hal ini hanya terjadi pada mahasiswa yang memang mempunyai kesadaran dan jiwa yang besar untuk itu.

Faktanya, banyak mahasiswa yang semasa kuliah menghabiskan waktunya di depan komputer bermain game, bermain media daring, bekerja mencari uang untuk kuliah, belajar sampai mati. Inilah fakta yang mengenaskan bahwa sistem yang ada saat ini menuntun muda-mudi kita. Mahasiswa kita mejadi bersikap apatis akan apa yang terjadi di lingkungannya jika hal itu menyangkut sesama manusia, tetapi begitu aktif ketika menyangkut media daring.

Mahasiswa dan muda-mudi kita akan lebih fokus pada berita yang terjadi pada rumah tangga dan drama yang dilakukan artis dan selebritis daripada dengan saudaranya sebangsa dan setanah air yang tengah terkena bencana. Pantas saja ketika saya melihat koran dan membaca berita di televisi, tokoh masyarakat yang ada sering kali muncul dari kaum pendidikan rendah.

Jika ada dari kaum terdidik seperti mahasiswa, sering kali berasal dari mahasiswa angkatan terdahulu. Jika pemuda dan pemudi yang katanya berada di era milenium ini terus dimanfaatkan teknologi yang seharusnya mereka manfaatkan, lalu ilmu dan gagasan apa yang kita mau bagi pada masyarakat?

Tujuan Mahasiswa

Tujuan dan arah gerakan dari mahasiswa adalah jelas untuk memiliki nilai tinggi. Lulus dengan membanggakan dan cepat. Dapat bekerja dengan penghasilan yang tinggi dan layak. Menyenangkan hati orangtua. Itulah kalimat yang keluar dari mulut rekan-rekan saya mahasiswa.

Sangat jarang ada mahasiswa yang berpikir untuk kembali ke masyarakat membagikan ilmunya dan tumbuh bersama masyarakat untuk memajukan bangsa ini dengan organisasi sosial. Karena doktrin yang mereka terima dan dengar, serta menjadi landasan mereka untuk menempuh jenjang kuliah adalah janji-janji manis dari perusahaan dan pemerintah untuk memberi mereka pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik dibanding kaum yang kurang terdidik.

Hampir semua mahasiswa tergabung dalam suatu organisasi, terlepas dari fungsi dan kegiatan dari organisasi tersebut, apakah positif atau negatif. Banyak kegiatan yang di selenggarakan oleh kampus dan pemerintah untuk mendorong peran aktif mahasiswa dalam memajukan dan memberikan sumbangsih untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Banyak pula mahasiswa yang berusaha keras membantu masyarakat. Sebut saja Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kuncup Mekar yang di dalamnya ada mahasiswa yang menjadi penggerak dan pemberi contoh pada rekan-rekan non-mahasiswa untuk giat menyebarkan dan membiasakan literasi di kalangan masyarakat desa. Contoh dan kegiatan organisasi sosial seperti inilah yang harus terus dipupuk oleh rekan mahasiswa lain. Sehingga mahasiswa mampu benar-benar mejadi motor dan pendorong bangsa ini untuk maju. Bukan hanya menjadi korban dari kemajuan zaman diusahakan oleh negara-negara lain.

Mahasiswa dan organisasi sosial memang dua hal yang sangat erat. Bahkan hampir setiap mahasiswa memiliki organisasi sosial, baik di dalam maupun di luak kampus. Media daring dan internet yang saat ini merata di seluruh bumi pertiwi Indonesia seolah menjadi pedang bermata dua. Jika digunakan dengan tepat, akan sangat membantu dan mempermudah kehidupan manusia. Namun, jika disalahgunakan, selayaknya sebagai kau, terpelajar mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu mengamalkan ilmu yang telah kita dapat dan kita terima.

Namun, masyarakat juga mulai mengalami pergeseran pandangan bahwa tidak semua mahasiswa itu berilmu. Kini masyarakat lebih melihat pada peran aktifnya seseorang dalam masyarakat.

Sebagai mahasiswa, janganlah tinggi hati karena status kita hendaknya kita tetap rendah hati dan memanfaatkan ilmu kita dengan bijak. Jangan sampai kita menuntut untuk diperlakukan istimewa dalam masyarakat, dipemudah dalam mencari kerja, ataupun hal-hal lainnya.

#LombaEsaiMahasiswa

*Janu Dwi Atmaji

_____________________
Artikel Terkait:
    Latest posts by Peserta Lomba (see all)