Mahasiswa dan Peran Intelektualnya

Mahasiswa dan Peran Intelektualnya
Ilustrasi: mahasiswabergerak.com

Pada perjalanannya, peran pemuda sangat berpengaruh besar dalam membangun bangsa. Selain memiliki semangat juang yang tinggi, pemuda juga punya tanggung jawab melanjutkan estafet perjuangan para pemimpin. Tapi tak hanya itu, ia sekaligus menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan rakyat.

Bicara pemuda, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kata “mahasiswa”. Status ini (baca: intelektual organik) seharusnya benar-benar direalisasikan melalui gerakan untuk membangun bangsa, baik dituangkan dalam bentuk kegiatan organisatoris maupun terlibat aktif berpartisipasi dengan lembaga atau intansi yang konsen pada masalah sosial (LSM). Bisa juga melalui karya kreatif dan kritis dalam bentuk tulisan.

Mahasiswa harus menjalankan ‘fatwa’ Gramsci sebagai intelektual organik. Bagi Gramsci, intelektual organik adalah para intelektual yang tidak sekadar menjelaskan kehidupan sosial dari luar berdasar kaidah-kaidah saintifik, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman riil yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat sendiri (Leszek Kolakowski, 1978: 240).

Selain Gramsci, Hamka juga memberi contoh yang bagus kepada pemuda Indonesia. Semangatnya yang tinggi sebagai intelektual tidak hanya ia aplikasikan sebagai teori saja. Namun, ia terapkan dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.

Beliau memang memiliki semangat yang tinggi dalam menggali ilmu. Bahkan, dalam pernyataanya, ia mengakui bahwa ia perlu membaca sampai lima puluh buah buku untuk memahami satu hal mengenai agama dan emosi. Dan, sebagai kaum intelektual, ia juga mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sosial.

Gagasan-gagasan di atas perlu terinternalisasi dalam diri mahasiswa sepanjang perjalanan akademiknya. Mahasiswa harus peka terhadap persoalan sosial, dekat dengan masyarakat yang dihimpit ribuan persoalan, mulai dari kemiskinan, kesenjangan sampai pada bentuk-bentuk keji: pemerkosaan dan penindasan.

Hal ini tidak lepas dari era modern seperti sekarang yang kita hadapi. Budaya konsumtif dan teknologisasi yang sangat riskan membuat mahasiswa menjadi apatis dan menginginkan segala sesuatu secara instan. Hal ini terlihat telanjang dari gaya hidup mahasiswa di beberapa kota besar, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

Antisipasi Ancaman

Berdirinya mall-mall besar di sekitar kampus menjadi potret tantangan tersendiri bagi dunia mahasiswa. Pasalnya, pengaruh untuk menjadi mahasiswa yang konsumtif sudah pasti lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa di daerah yang kesulitan mengakses hal itu. Apalagi dengan kecanggihan teknologi yang memacu corak atau slogan “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh” serta individualitas perilaku mahasiswa itu sendiri.

Ancaman ini perlu diantisipasi lebih jauh. Mengingat kecanggihan teknologi melahirkan beberapa gaya hidup baru kalangan mahasiswa, salah satunya dengan menerapkan sistem copypaste saat mengerjakan tugas. Jelas, hal seperti ini akan mematikan peran mahasiswa sebagai kaum intelektual, dengan slogan instanisasi di era modern.

Selain itu, yang lebih bahaya lagi apabila status mahasiswa sebagai kaum intelektual hanya sekadar menjadi status kosong tanpa isi. Lalu, apabila sudah seperti itu, siapakah yang akan diharapkan menjadi intelektual organik?

Tidak hanya di kalangan mahasiswa, kesenjangan ekonomi pun terjadi di kalangan masyarakat di mana masyarakat semakin terkotak-kotakkan dengan kelas-kelas sosial melalui gaya hidupnya.

Sebagai contoh, bagi kelas menengah ke bawah, ia memilih belanja di tempat-tempat ‘tradisional’. Berbeda dengan masyarakat kelas atas. Sudah otomatis dia akan  memilih tempat lebih elit sebagai tempat favorit untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagai kaum intelektual, mahasiswa menghadapi dua beban sekaligus. Pertama, ia harus mawas diri memposisikan perannya dalam era modern. Tekanan untuk berperilaku konsumtif, instanisasi perilaku, baik secara pribadi ataupun sosial, bak setan yang menggoda iman intelektual tersebut.

Kedua, memahami serta mampu memecahkan masalah kesenjangan yang terjadi di kalangan masyarakat. Bagaimana ia tidak digunakan oleh kecanggihan teknologi di era modern.

Namun, bagaimana ia menjadikan teknologi sebagai alat untuk membangun bangsanya. Salah satunya ialah bagaimana ia bisa menjadi bagian dari kaum intelektual organik seperti yang digagas oleh Gramsci serta dicontohkan oleh Hamka.

Satu hal yang pasti, bahwa mahasiswa harus menjadi kelompok sosial (collective social) yang berperan aktif, menjadi problem solving di tengah himpitan persoalan sosial. Ia harus berdiri paling depan, mempropagandakan tatanan sosial yang bebas dari najis penindasan dan pemerkosaan struktur. Menendang jauh-jauh bentuk pembodohan yang semakin canggih dengan wajah baru.

*Tri Mulyani, Penulis aktif di Human Literacy Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

___________________

Artikel Terkait: