Mahasiswa di Antara Kekhawatiran, Harapan, dan Panggilan

Mahasiswa di Antara Kekhawatiran, Harapan, dan Panggilan
Ilustrasi: IST

Eksistensi kampus tidak diragukan lagi terhadap kontribusinya dalam perkembangan sikap intelektual mahasiswa Indonesia. Utamanya tentang penanaman nilai-nilai kesadaran kemanusiaan, tanggung jawab, serta peran dan fungsinya dalam mengisi kemerdekaan. Juga turut mengawal penguasa dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dalam perjalanannya menimbulkan kekhawatiran di tengah kemajuan. Dewasa ini, semakin banyak penggosip intelek yang pelakunya merupakan manusia yang berlatar belakang kaum terdidik. Menggosipkan persoalan bangsa, namun berhenti di wacana dan hujat mengkritisi- Tidak ada solusi yang konkret, melainkan memperumit keadaan.

Sedangkan di ruang yang berbeda, kaum intelektual diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan. Ia diharapkan dapat menjadi tauladan dalam berkehidupan.

Mahasiswa dalam Definisi

Mahasiswa adalah gelar yang melekat secara otomatis kepada pelajar yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut, atau akademi.

Idealnya, seorang mahasiswa adalah kelompok intelektual yang memiliki legitimasi pengetahuan dan dianggap tahu atas solusi dari berbagai persoalan. Ia menjadi tauladan dalam berkehidupan, karena telah melalui perjalanan panjang mengikuti proses pembinaan dan pendidikan sejak usia dini.

Mahasiswa, sebagai kaum terpelajar dengan independensi dan idealismenya, memiliki peranan penting dalam menciptakan sebuah peradaban. Geraknya mesti menghantarkan masyarakat kepada kehidupan adil makmur yang diridhoi Allah Tuhan yang Maha Esa. Dengan demikian, sangat disayangkan kiranya ketika mahasiswa tidak memiliki kualitas sebagaimana idealnya. Karena bukan hanya akan menjadi virus yang merusak, melainkan juga benalu yang menghambat upaya-upaya kemajuan bangsa.

Maka, dalam tulisan ini, saya mengajak rekan pelajar, khususnya mahasiswa untuk terus berbenah, berproses, dan menanamkan nilai-nilai independensi etis (keberpihakan kepada kebenaran) sejak dalam pikiran. Sehingga ada integrasi dan keharmonisan antara rasionalitas dan moralitas dalam berkehidupan.

Kampus dan Pembangunan

Hakikatnya, manusia-manusia berkualitas dapat muncul dari mana saja. Bisa di desa dari kelompok petani, penggembala atau di kota dari keluarga aritokrat, dan pengusaha. Siapa pun mereka, tentunya lahir dari “bibit” serta “proses” penempaan dan pembinaan (aktualisasi potensi) yang bersifat continue atau berkesinambungan.

Periode mahasiswa merupakan masa pembentukan profesionalisme keilmuan serta pengembangan jati diri. Dalam perjalanannya, banyak yang terjebak dalam budaya yang menyesatkan dan membentuk watak jiwa pragmatis.

Ada juga yang kuat secara ideologi dan kesadaran, sehingga tetap istiqomah dalam bait idealismenya. Maka kampus diharapkan bisa menempatkan diri sebagai oposisi non-politis (ide dan gagasan). Sehingga tidak tercampur baur dengan urusan politik dan bisa fokus dalam ranah akademisnya.

Perlu diingat bahwa dalam konteks politik paradigmanya adalah ‘kawan atau lawan’ dan ‘kalah atau menang’. Akan sangat miris tentunya ketika mahasiswa dan kampus ikut terlibat dalam ritual politik, terlebih menjadi alat kepentingan

Jika benar adanya demikian, ini merupakan suatu masalah besar dalam dunia pendidikan bangsa kita. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan moral, bukan gerakan politik. Pun jika gerakan tersebut berimplikasi politis, itu wajar-wajar saja. Tapi jangan sampai menjadi gerakan politik. Karena dalam waktu yang bersamaan kita akan berhadapan dan berperang dengan orang-orang yang memiliki kepentingan yang berbeda.

Perguruan tinggi merupakan pintu gerbang bagi kaum terdidik untuk memasuki wilayah pengabdian di kehidupan nyata melalui Tridharma-nya (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian). Ini diamanahkan untuk melahirkan kaum intelektual yang mencerahkan.

Mahasiswa di Antara Kekhawatiran, Harapan, dan Panggilan

Dari dimensi tridharma tersebut, sekiranya mampu melahirkan para pemimpin-pemimpin yang berkarakter, cerdas, kreatif-inovatif, berintegritas, serta mampu memenej berbagai sektor kehidupan bangsa.

Idealnya, manusia intelektual ini merupakan ‘wakil Tuhan’ di bumi untuk mengatur dan mengelola alam semesta. Oleh karenanya, kampus merupakan tempat yang paling diharapkan untuk melahirkan “manusia-manusia paripurna”.

Namun, realitasnya kampus belum mampu maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagaimana yang diharapkan di atas. Justru banyak melahirkan kaum intelektual yang mengalami disorientasi hidup.

Lulusan perguruan tinggi banyak yang tidak berkualitas, pengetahuan dan skillnya rendah, kemampuan leadership dan moralitasnya lemah. Kegagalan melahirkan “intelektual-ideolog” dicurigai bermula dari pola pengajaran yang terlalu “theoretical-oriented”, sukses secara sempit diukur melalui tinginya “IPK” saja.

Fenomena ini berdampak pada potensi dan eksistensi mahasiswa sebagai mahkluk multi-intelligence terabaikan. Bakat minat termatikan. Potensi intellectual quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ) tidak tumbuh dengan baik.

Mahasiswa dipenjara dari satu teori keteori lain tanpa merasakan realitas sosial yang sesungguhnya. Bukannya diajari memahami secara utuh tujuan pendidikan dan hakikat keberadaannya di bumi, melainkan didorong untuk sesegeranya menyelesaikan studi.

Mahasiswa diarahkan menjadi “mesin” bagi para tuan, memenuhi pasar tenaga kerja. Apakah ini bukan tergolong eksploitasi manusia? Terlebih korbannya merupakan generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan perjuangan para pahlawan dalam mengisi dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara perlahan terdoktrin dan mendarah daging watak materealis, pragmatisme, dan hedonisme di tubuh mahasiswa. Tanpa disadari, kampus menjadi penyumbang pengangguran dan supplier utama hama (koruptor, penggosip intelektual, penjahat kemanusiaan, dll) untuk negri ini.

Menyadari ketidakmampuan kampus secara utuh dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa, seyogianya kita membangun gerakan intelektual. Membatasi diri dari sebatas wacana di ruang perkuliahan. Terlibat lebih luas dalam forum diskusi, dialog, kajian, penelitian, dan aktivitas sosial dan keorganisasian.

Di sini harapannya mahasiswa menumukan jati diri. Mengasah dan mengembangkan potensi. Mengepakkan sayapnya di berbagai aktivitas sosial. Memperdalam kesadaran peran dan fungsinya sebagai agen perubahan sosial (Agent of Change). Mengarahkan perubahan tersebut (Direction of Change). Pribadi tangguh yang memiliki akhlak mulia dan mampu melanjutkan estafet kepemimpinan (Iron Stock). Penjaga nilai-nilai dimasyarakat (Guardian of Value). Dan, sebagai elemen pengawal segala jenis kebijakan pemerintah yang menyangkut kehidupan masyarakat luas (Agent of Control).

Dengan banyaknya organisasi yang bermunculan dan bervariasi, baik intra maupun ekstra kampus, tentu ini merupakan berita bahagia. Mahasiswa bisa memilih sesuai dengan bakat dan minatnya.

Namun, tidak seluruh kampus yang mengapresiasi eksistensi organisasi-organisasi ini. Ada yang memberikan asistensi untuk kemajuannya. Namun, ada juga yang dicurigai dan membungkam aktivitas dan keberadaannya karena takut dikritisi dan berafiliasi dengan kekuasan dan ideologi menyimpang, sesat dan radikal.

Eksistensi Organisasi Daerah

Dalam sebuah organisasi, diharuskan ada visi-misi yang jelas serta keharmonisan antara kepentingan setiap individu keanggotaannya dengan kepentingan organisasi dan kelahirannya tidak didasari kepentingan politik pragmatis. Ketika batang tubuh dan kerangka sebuah organisasi kuat, jelas, dan berkarakter, maka dengan sendirinya akan menarik partisipan menjadi bagian dari organisasi dan bersikap loyal dan total untuk organisasi.

Idealnya begitu. Namun, kenyataannya banyak organisasi yang mempertontonkan disorientasi aktivitas. Sehingga mengikis eksistensinya karna dianggap tidak penting dan ada juga yang masih kolot berlindung dengan nama yang besar.

Ini salah satu PR bersama untuk melakukan upaya revitalisasi peran fungsional organisasi mahasiswa kedaerahan. Karena kenyataannya hari ini masih terlihat organisasi daerah memiliki taring tidak lebih tajam dan bersinar dibandingkan organisasi kampus. Bahkan ada yang tak bergigi.

Ini merupakan problem vital dan harus ditemukan titik permasalahannya dan diformulasikan solusinya. Sehingga dengan demikian organisasi daerah bisa menjadi wadah yang nyaman dan produktif untuk mencapai tujuannya.

Dengan demikian, diharapkan mampu menciptakan pelajar dan mahasiswa yang peduli dan bertanggung jawab terhadap pembangunan daerah secara cerdas, kreatif, dan inovatif.

Akhir-akhir ini, hubungan mahasiswa dan organisasi daerah sering kali dipertentangkan. Antara memelihara nilai-nilai kedaerahan dan menjaga amanah keluarga untuk serius belajar di kampus. Terlebih pergi merantau jauh tinggalkan kampung halaman dengan modal ekonomi seadanya, kadang dipandangnya secara dikotomis.

Orang yang menjaga amanah dan kewajiban pribadi acap kali abai terhadap kontribusi penjagaan nilai-nilai kedaerahan. Memperjuangkan nilai-nilai kedaerahan kadangkala lalai dengan kewajiban dan pengembangan potensinya.

Mahasiswa dan daerah seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Selain melanjutkan estafet kepemimpinan daerah mahasiswa, juga sebagai duta daerah. Ia diharapkan turut berkontribusi dalam mempromosikan kearifan nilai-nilai daerahnya. Turut mengoptimalkan pembangunan nilai-nilai kedaerahan, budaya, adat, sosial, ekonomi, politik, dan religi.

Sehingga, dengan demikian, diharapkan terciptanya daerah yang bermarwah, mandiri, dan makmur. Memiliki daya saing tinggi dengan daerah lainnya sekaligus berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Mahasiswa sebagai Tulang Punggung

Generasi muda merupakan aset utama dan masa depan sebuah bangsa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Mereka adalah tulang punggung utama dalam menopang projek pembangunan nasional, khususnya di daerahnya masing-masing.

Sejarah mencatat, kemerdekaan Republik Indonesia dimulai dengan adanya kesadaran dan gerakan kolektif kaum muda yang penuh semangat menggandeng kaum tua dan masyarakat luas. Itu ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo (1908), ikrar Sumpah Pemuda (1928), penggulingan Orde Lama Rezim Soekarno (1966), dan tumbangnya Orde Baru Rezim Suharto (1998).

Pada generasi tersebut, kaum muda berdiri tegak dan kokoh di garda terdepan sebagai penggerak perubahan dan sebagai ujung tombak perjuangan. Namun, dewasa ini sepertinya ada pergeseran urat saraf otak pemuda dan mahasiswa yang tidak sesuai pada tempatnya. Mereka lupa dengan eksistensi diri dan kekuatan yang dimilikinya serta besarnya harapan yang dibebankan di pundaknya.

Aktivitas manusia hari ini banyak disibukkan dengan membangun popularitas dan menjadi budak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak ada upaya mempertajam nalar dan kemampuan hard skill dan soft skill-nya.

Ketika tetap mempercayakan untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan kepada generasi yang disebut milenial ini, maka mari berdoa secara berjamaah agar pahlawan bangun dari kubur dan menghantui mereka hingga mati. Karena kualitas sebuah bangsa dipengaruhi oleh bagaimana kemampuan para pemimpinnya menjalankan amanah. Ini didukung oleh masyarakat yang memiliki kesadaran dan semangat pembangunan.

Ketika pemimpin tidak bisa menyatu dengan masyarakat secara sempurna dan atau sebaliknya, maka tujuan sebuah bangsa hanyalah sebuah fatamorgana.

Berangkat dari tulisan di atas, diharapkan mahasiswa mampu membebaskan diri dan merdeka dari pemikiran dan budaya yang membelenggu. Sehingga bisa menjalankan tugas, fungsi dan perannya sebagai kaum intelektual dan duta daerah.

Ketika telah menyelesaikan studi, dengan segala kemampuan yang dimiliki, hendaknya kembali kerahim tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Mengabdi untuk mewujudkan kehidupan adil makmur bermarwah yang diridhoi Tuhan yang Maha Esa.

Sumber Bacaan:

Muniruddin, Said. 2014. Bintang Arasy. Majelis Wilayah KAHMI Aceh: Banda Aceh.
Hamzah, Alfian. 1998. Suara Mahasiswa, Suara Rakyat. Remaja Rosdakarya: Bandung.
Hatta, Mohammad.2008. Demokrasi Kita. Sega Arsy: Bandung.

#LombaEsaiMahasiswa

*Rizki Juli Andika, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Wakil Ketua Umum Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta Periode 2015-2016, Instruktur HMI Cab.Yogyakarta, FB/IG Rizki Juli Andika.

___________________

Artikel Terkait:
    Latest posts by Peserta Lomba (see all)