Mahasiswa Organik dan Kontribusinya pada Orda

Mahasiswa Organik dan Kontribusinya pada Orda
Foto: Antara

Mahasiswa organik adalah mahasiswa yang menjadi bagian kaum pengggerak perubahan dan terlibat dengan problem sosial yang  sosial.

Peradaban dunia tak lepas dari peran mahasiswa, khususnya pemuda. Mereka yang menjadi pelopor sekaligus pencipta peradaban.

Sejarah telah mencatat bahwa peran mereka tidak bisa diremehkan. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika mahasiswa dan pemuda kita hari ini hanya menjadi penonton dari perubahan. Seharusnya pemuda menjadi penentu perubahan.

Ingat, peradaban tidak akan pernah mati, melainkan berpindah dari suatu daerah ke daerah lain dengan pemudanya yang memiliki kesiapan untuk menerima peradaban.

Tak berlebihan rasanya jika kemudian Ali Bin Abi Thalib mengatakan: “Rijalul Yaum Syabbanul Ghodi (Pemuda hari ini adalah pemimpin di esok hari). Namun, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pemuda Indonesia hari  ini? Sudahkah mereka menjadi pelopor perubahan?

Sejarah Mahasiswa

Bila kita membaca sejarah, pasti kita akan tahu betapa rentetan kronologis perjuangan kemerdekaan ini dipenuhi oleh pergerakan yang dipelopori oleh mahasiswa dan pemuda.

Pada tahun 1908, muncul sebuah gerakan Boedi Utomo. Kemudian disusul gerakan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Bahkan Soekarno dan Mohammad Hatta masih menyandang sebagai status sebagai pemuda ketika memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tak lepas di situ, 1966, mahasiswa menumbangkan Orde Lama. Lalu, 1998, mahasiswa menurunkan Orde Baru (lawan kata dari orde lama) yang sangat otoriter. Kemudian lahir era reformasi. Semua itu adalah bukti sejarah bahwa mahasiswa menjadi tonggak perubahan.

Mahasiswa yang selalu identik dengan Agent of Change, agen perubahan, harus sadar atas fungsinya. Status  intelektual yang dipikulnya harus menjadi  beban moral. Pemberian status bukan semata-mata karena kita mahasiswa. Namun, sejarah panjang yang pernah dilakukan mahasiswa terdahulu dalam perjalanan bangsa ini.

Semua itu tentu tidaklah lahir dari ruang kosong semata, melainkan dilalui dengan perjuangan yang menguras keringat atau bahkan harus dibayar mahal secara materi dan non-materi. Sangat malu jika kita menjadi mahasiswa yang a-historis (terputus) terhadap sejarahnya.

Sudahkah kita menjadi mahasiswa yang seperti  dalam sejarah sebelumnya? Jangan-jangan kita hanya menjadi  “mahasiswa zaman now”, mahasiswa yang hanya bangga dengan statusnya. Atau mahasiswa zaman sekarang yang dikenal 3K (Kampus-Kantin-Kos) tanpa peduli pada persoalan atau apatis terhadap lingkungan. Menjadi beban masyarakat. Menjadi penonton perubahan.

Ingat! Mahasiswa punya fungsi tri darma mahasiswa; Agent of Change, Agent of Control, dan Agent of Analis. Kita harus mampu menerjemahkan itu dalam tatanan masyarakat. Meminjam Bahasa Julian Benda, jangan sampai menjadi pengkhianat intelektual.

Sederhanya, bila mahasiswa lupa dengan fungsinya, berarti secara tidak langsung kita sudah menjadi  bagian mahasiswa pengkhianat intelektual. Jadilah mahasiswa organik seperti bahasa Antonio Gramsci. Mahasiswa organik adalah mahasiswa yang menjadi bagian kaum pengggerak perubahan dan terlibat dengan problem sosial yang  sosial.

Peran Organisasi Daerah dalam Pembangunan

Organisasi daerah (orda) yang ada di luar daerahnya mempunyai tantangan tersendiri untuk memberikan kontribusi.

Banyak problem yang menjadi kendala. Misalnya, yang karena akses yang jauh dengan daerahnya. Sisi lain, tidak punya komunikasi dengan pihak pemerintah daerahnya. Pemerintah daerah tidak peduli dengan organisasi daerah yang ada di luar provinsi.

Kendala seperti itu seharusnya bukan kendala kita untuk tetap berkontribusi terhadap daerah kita. Karena bagaimanapun, kita lahir di sana. Jangan sampai kita lupa terhadap daerah. Jangan jadi kacang lupa kulitnya.

Apalagi pasca-reformasi, daerah diberikan hak otonomi daerah untuk mengelolanya. Daerah diberikan ruang untuk mengembangkan sendiri. Secara otomatis daerah yang kekurangan sumber daya manusia sangat membutuhkan tenaga mahasiswa yang kompeten yang sesuai dengan keilmuannya. Dari sinilah organisasi daerah punya peran strategis untuk menjadi penyambung lidah terhadap daerah.

Sudah saatnya organisasi daerah membangun daerahnya. Membagun Indonesia dari pinggiran sesuai dengan jargon Presiden Jokowi: “membangun Indonesia dari pinggiran”, dengan berperan aktif terlibat dalam proses pembangunan daerah dan sumber daya manusia.

Organisasi daerah harus menjadi garda terdepan mengawal perubahan daerah. Biar Indonesia bisa mengejar ketertinggalanya dari negara lain. Saya yakin, ketika organisasi daerah berperan aktif dalam transformasi sosial dalam memberikan kontribusi nyata, akan sangat berdampak signifikan terhadap disparitas daerah yang tertinggal dengan daerah yang maju.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan organisasi daerah, organisasi apa lagi? Kalimat ini mungkin tepat untuk mengambarkan penting fungsi organisasi daerah dalam memberikan kontribusi.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Alan Akim (see all)