Majene dalam Pusaran Kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Kome-Kome’

Majene dalam Pusaran Kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Kome-Kome’
©iStock

Harapan menjadikan Majene sebagai kota pendidikan harus dikubur dalam-dalam; hanya akan menjadi kenangan masa suram Majene yang katanya kota pendidikan.

Sewaktu masih kuliah di Jogja, saya kerap mendapat kabar dari seorang karib bahwa salah satu penyumbang terbesar terkurasnya keuangan daerah adalah kegiatan sosialisasi atau pelatihan yang dilaksanakan secara kome-kome’. Waktu itu, karena tidak melihat secara langsung, saya sama sekali tidak menanggapinya.

Selang beberapa tahun kemudian, setelah menyelesaikan kuliah dan memutuskan untuk kembali ke daerah, seorang kawan baik mengirim pesan pendek. Isi pesan pendek tersebut berisi ajakan untuk mengikuti sebuah pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh salah satu instansi pemerintah. Saya yang kebetulan pada saat itu pengangguran langsung mengiyakan dan mengajak seorang teman lainnya untuk ikut serta.

Setelah mengiyakan, saya lalu dikirimi jadwal dan tempat kegiatan tersebut akan dilaksanakan. Tentu saja, selain keinginan untuk mendapat hal baru, salah banyak yang membuat saya memutuskan untuk mengikuti pelatihan itu adalah ingin membuktikan benar-tidaknya apa yang disampaikan seorang karib saya beberapa tahun silam.

Di hari pertama, sebagaimana kegiatan pelatihan pada umumnya, peserta melakukan registrasi peserta dan diminta untuk menandatangani daftar hadir sebanyak enam kali. Setelah itu peserta mendapatkan seminar kit berupa tas dan alat tulis yang dibagikan oleh panitia penyelenggara.

Kejanggalan mulai muncul sebelum kegiatan dimulai. Normalnya, semua hal teknis seperti banner kegiatan sudah harus terpasang rapi sebelum kegiatan tersebut dimulai. Tapi pada kenyataannya, setelah semua peserta masuk ke ruang pelatihan, panitia baru sibuk mengurusi pemasangan banner yang tanggal pelaksanaannya memakai tanggal tempelan.

Tidak sampai di situ, kejanggalan lain juga saya jumpai pada saat registrasi peserta. Salah satu panitia bertanya pada seorang ibu peserta perihal nama wirausaha yang diwakilinya. Dengan sangat tidak terduga, peserta tersebut menjawab bahwa ia tidak hanya lupa dengan nama wirausaha yang diwakilinya tetapi juga lupa membawanya.

Kejanggalan yang lebih parah saya temukan di hari terahir kegiatan. Saya yang penasaran dengan keseriusan panitia melaksanakan kegiatan tersebut iseng bertanya ke salah satu panitia, “Anda ini panitia kegiatan atau pendamping salah satu wirausaha di ruangan ini?”

“Saya panitia sekaligus sebagai pendamping,” jawabnya dengan mantap.

Ketika saya kembali bertanya perihal wirausaha yang didampinginya, ia kebingungan tidak bisa menjawab pertanyaan saya dan pergi begitu saja. Saya tentu saja marah sekaligus kecewa.

Itu cerita sekira setahun silam yang bukti rekaman suara pemateri dan foto kegiatannya masih saya simpan sampai hari ini.

Hari ini, kegiatan pelatihan yang serupa kembali saya temui. Pelaksananya masih dari instansi plat merah dengan tema pelatihan yang berbeda.

Jika dihitung-hitung, di luar biaya pelaksanaan kegiatan, anggarannya hampir mencapai 150 juta. Anggaran sebanyak itu ditransfer ke setiap peserta pelatihan dua minggu setelah kegiatan selesai. Anehnya, anggaran yang sudah ditransfer itu diminta untuk ditransfer kembali ke rekening panitia kegiatan.

Saya, kan, jadi bingung dan bertanya-tanya, “Ada apa?”

Saya menduga, mengindikasi, mencurigai apa yang saya temui hari ini masuk dalam kategori kegiatan sosialisasi dan pelatihan kome-kome’. Dan jika memang demikian, harapan kita untuk menjadikan Majene sebagai kota pendidikan harus dikubur dalam-dalam dalam angan dan hanya akan menjadi kenangan masa suram Majene yang katanya kota pendidikan ini.

Dan jika memang benar dugaan, indikasi, serta curiga yang saya rasakan, maka hanya ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan pada panitia penyelenggara kegiatan tersebut sekaligus menjadi renungan kita semua, “Natipolo innao taruno?”

    Andi Kaneko
    Latest posts by Andi Kaneko (see all)