Malang Kota Kenangan

Malang Kota Kenangan
©Pixabay

Malang sebuah kota kenangan
Yang selalu kuudarakan lewat syair

Keramaian di kota ini tercipta setiap saat
Hilir mudik pejalan kaki
Pun riuh kendaraan
Tak pernah luput dari pandangan

Asap kendaraan mengudara
Kegaduhan dan canda tawa
Menjadi aksesori kota
Tanpa disengaja semua tercipta

Sekarang kota ini hening
Tiada terdengar riuh kendaraan terlintas
Malang sebuah kota kenangan
Yang selalu kuudarakan lewat syair

Renungan Kerinduan

Berjalan sendiri meratap nasib
Tanpa kehadiranmu di sisi
Kisah sedih hidup ini
Takkan pernah mudah bagiku

Menaungi jejak langkah bersama bayanganmu
Kisah hidupku tiada sempurna, bila tanpa dirimu
Cahaya kerinduan terpancar dari wajahmu
Yang seakan-akan berbicara

Lewat rona merah bibirmu
Walau tiada sepatah
Bicara dari hati ke hati
Batinku memuji

Walau batinmu menguji
Rasa yang sungguh tiada pantas
Terucapkan dari bibir kita berdua
Karena kita saling mengisi
Dan kita mengalir, bagaikan air

Hingga menjadi awan yang menjatuhkan hujan
Yang membasahi disetiap tanah kerinduan
Agar tiada lagi sedih
Dan agar tiada lagi hampa
Berbenih duka dan berbuahkan luka

Kasih tanpa Suara

Beribu kata terucap
Aku harus cakap diantara kita
Mendengar kasih tanpa suara
Dengan bayang-bayang menjunjung

Dalam sajak-sajak pilu
Tersekat dalam pesona
Hingga sewaktu kata masih ada
Menabur kasih tanpa suara

Enu, Aku Menunggumu di Salang Dangka

Pada dentang lonceng waktu
Bukan angka yang meneteskan
Detik dan menit di atas meja kopi
Menunggu hari-hari panjang menuju revolusi

Telah kutatap ke sana-kemari
Tak ada yang melambai dan senyum yang kekal
Ketika kuhafal wajahmu
Berjalan hanya mencipta bayang-bayang

Biarkan waktu tak seulas dengan senyumnya Enu hari ini
Menunggu di persimpangan jalan
Kan kunikmati cintamu dalam sunyi
Yang penuh dengan cerita manis

Setitik Rasa Tak Bernama

Sejak setitik rindu terpisahkan koma
Puing kerapuhan mampu bertahan pada jiwa
Sedemikian sesal yang membawa arti
Namun hujan tetap mewakili hingga tanah tersadar dahsyatnya hujan

Perih penantian telah di ujung kebahagiaan
Puing kerapuhan tenggelam dalam ruang kerinduan
Kepadamu yang telah pergi
Telah kutitip rindu pada langit

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)