Malaqbiq, Karakter Masyarakat Mandar yang Berkenyataan

Malaqbiq, Karakter Masyarakat Mandar yang Berkenyataan
Ilustrasi: Towaine Mandar Malaqbi

Malaqbiq merupakan salah satu kata yang memiliki kekuatan besar pada jiwa masyarakat Sulawesi Barat. Bahkan, kalimat ini juga menjadi penyokong semangat dari Paku hingga Suremana, dari Ulu Pitunna Salu hingga Pitu Baqbna Binanga, yang mampu melepaskan diri dari pemerintahan Sulawesi Selatan menjadi sebuah rumah baru. Para politisi, budayawan, tokoh agama, dan segenap masyarakat menyebutnya sebagai rumah malaqbiq Sulawesi Barat sejak tahun 2004.

Secara sederhana, malaqbiq dipahami sebagai suatu yang mulia. Adalah filosofi kehidupan yang ideal dalam historisitas-kebudayaan Sulbar. Malaqbiq menjadi sebuah karakter kehidupan yang didambakan oleh segenap masyarakat Sulbar. Para tokoh politisi bahkan sering menggunakan kata ini dalam jargon  politiknya.

Semisal waktu Pilgub Sulbar 2017 lalu. Pasangan ABM-Enny dengan semboyan kampanyenya “Sulbar Maju dan Malaqbiq” mampu mendapatkan hati masyarakat hingga mengantarkan kemenangannya sebagai Gubernur dan Wagup Sulbar. Namun, belakangan ini wibawa Sulbar malaqbiq begitu jatuh ketika ABM melakukan kesalahan fatal saat membacakan teks Pancasila pada 30 Oktober 2017 di halaman Kantor Gubernur Sulbar.

Saya sendiri sangat syok berat merespons itu. Betapa tidak, sebagai mahasiswa Sulbar di Yogyakarta, saya mendapat pengalaman memilukan dari rekan-rekan mahasiswa se-Indonesia di Jogja akibat salah baca Pancasila itu. Padahal, di saat yang sama, saya dan kawan berusaha mengharumkan nama baik Sulbar dengan falsafah ke-malaqbi-an sebagai landasan hidup Sulbar.

Semua terasa hambar akibat hanya kesalahan satu orang. Mengapa? Karena dia gubernur, sebagai representasi masyarakat Sulbar. Singkatnya, jatuhlah wibawa kami di hadapan mahasiswa, masyarakat  dari berbagai kalangan se-Indonesia.

Hal ini juga dialami oleh Asri Anas sebagai anggota DPD RI perwakilan Sulbar di Senayan Jakarta. Beliau menceritakan kepada kami menyoal respons dari rekan-rekannya di Jakarta. Itu merupakan contoh yang tidak malaqbiq dari seorang oemimpin. Dan hanya masyarakat bodoh yang membiarkan hal itu terulang lagi.

Namun, bukan itu prinsip dasar yang hendak saya utarakan dalam tulisan ini. Lebih subtantif dari semua hal tentang malaqbiq adalah penjiwaan kita terhadapnya.

Bagaimanakah tolok ukur malaqbiq itu sebagai representasi kehidupan kita? Kita ingin tidak hendak malaqbiq dipolitisir untuk meraup pembodohan dalam labirin politik kampanye oleh orang-bodoh. Apalagi saat sekarang ini adalah masa-masa Pilkada serentak. Dan di Sulbar, kabupaten Mamasa dan Polman terdaftar di dalamnya.

Malaqbiq semestinya “jangan hanya ikon identitas pencitraan semata, namun harus dilaksanakan secara utuh,” kata mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Barat, H. Hamzah Hapati Hasan, yang saat ini mendekam di dalam panjara karena jadi terdakwa kasus korupsi. Lagi-lagi, ini juga sangat memilukan.

Masyarakat Sulbar dalam memahami malaqbiq, paling tidak, ada tiga elemen etis yang termuat di dalamnya dan harus benar-benar dimengerti, yaitu “pakarayai to tondodai, pakalaqbiq si patummu, assayanni to tondonaung”. Bahwa malaqbiq mewujudkan diri dalam sebuah tindakanya yang menghormati siapa saja yang ada di atas kita, memuliakan siapa saja yang setara dengan kita, serta menyanyangi semua yang berada di bawah kita. Seperti itulah tolok ukur yang paling banyak dipahami oleh sengenap masyarakat Sulbar.

Ketika hal ini dijadikan sebagai landasan oleh pemerintah dalam hal pelayanan publik, maka sungguh begitu mulialah provinsi kita. Sebab kejujuran dan kebenaran yang akan selalu mewarnainya. Namun, yang sering terjadi adalah “kalau bisa dipersulit, mengapa meski dimudahkan”. Begitu sangat berbanding terbalik.

Ayolah hai segenap masyarakat Sulbar, terutama para politisi dan kalangan birokrasi yang saya dan masyarakat Sulbar cintai. Mari kita hentikan basa-basi kita semua. Kepedulian kita bersama meski terbukti. Malaqbiq harus menjadi karakter hidup kita secara nyata. Sekali lagi, ia harus berkenyataan dalam segenap hati sanubari kita yang menyatu pada semua tindakan kita.

Lihat juga: Towaine Mandar dalam Tarian Siwaliparriq

Sebuah kehidupan yang mulia tidak akan pernah membiarkan eksistensi Sulbar berada dalam labirin yang memilukan. Segenap masyarakat yang malaqbiq tidak hanya cukup memuliakan yang di atas kita, yaitu para pemimpin. Malaqbiq meski berwujud pada dua arah.

Satu sisi menghormati para penguasa yang benar-benar nyata kiprah kerja dan kepeduliaannya kepada rakyat dan pembangunkan SDA, SDM Sulbar. Namun, ketika tidak, maka segenap rakyat yang menjadikan malaqbiq sebagai karakter hidupnya yang berkenyataan, tentunya bukan akan memuliakan para pemimpin dan birokrasi biadab semacam itu, tapi ia terwujud dalam sebuah pendidikan dan perlawanan.

Ia akan tampil menuntasnya seperti ketegasan-ketegasan dari ayahanda (alm.) Baharuddin Lopa yang tak asing lagi bagi kita semua. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Didiklah penguasa dengan perlawanan.” Tentunya, kepada penguasa yang zalim, biadab, yang hanya bisa tebar pesona.

Siapakah yang harus mengajarkan atau yang menjadi pelopor utama dalam membumikan malaqbiq sebagai karakter hidup kita yang berkenyataan? Secara sederhana, adalah kita semua diharuskan terlibat langsung. Namun, masyarakat sebagai sebuah kesatuan totalitas hubungan  social, tentunya yang paling besar menanggung amanah ini.

Adalah para pemimpin kita bersama para alim ulama, tokoh-tokoh agama (yang diakui), para budayawan, tentu juga tidak lagi boleh hanya sekadar menjadikan malaqbiq sebatas panggung sandiwara atau lahan garapan jual beli acara kegiatan yang terkesan budaya, tapi semangat kapital yang merusak.

Para guru jangan lagi menjadi penakut dari ancaman penundaan gaji atau mutasi oleh kesewenang-wenangan kepemimpinan bupati ketika kalian semua benar-benar membumikan malaqbiq sebagai karakter hidup yang berkenyataan, yang tertuang secara gamblang dalam logo Sulbar, yaitu “millete di attonganan”. Itulah kuncinya, bukan malah “millete di apo’lasang”.

Saya menutup tulisan ini dengan sebuah statemen, bahwa malaqbiq sebagai karakter hidup yang berkenyataan adalah kabar gembira bagi tatanan kehidupan yang mulia, sekaligus laknat kepada mereka yang berpaling dari kebenaran, yaitu orang-orang yang hanya bisa menipu serta membodohi kita semua.

Malaqbiq adalah panduan hidup dan gerakan rakyat, kita semua. Sebab, Sulbar adalah rumah kita bersama, kecuali para pemimpin yang korup, yang hanya bisa tebar pesona; kecuali para agamawan yang berpaling dari hakikat pesan tuhan; kecuali para budayawan yang hanya menjadikan tradisi sebagai intrumen-transaksi kapital yang meraup laba; kecuali para pelajar yang hanya sibuk dengan semangat individual yang merusak.

Sekali lagi, kecuali kita semua yang tidak punya niat baik dan tindakanya yang berkenyataan dalam menjadikan Sulbar sebagai rumah amalaqbian kita bersama.

___________________

Artikel Terkait:
Nasaruddin Ali
Latest posts by Nasaruddin Ali (see all)