Malaqbiq, Karakter Masyarakat Mandar yang Berkenyataan

Ia akan tampil menuntaskan seperti ketegasan-ketegasan dari ayahanda (alm.) Baharuddin Lopa yang tak asing lagi bagi kita semua. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Didiklah penguasa dengan perlawanan.” Tentunya, kepada penguasa yang zalim, biadab, yang hanya bisa tebar pesona.

Siapakah yang harus mengajarkan atau yang menjadi pelopor utama dalam membumikan malaqbiq sebagai karakter hidup kita yang berkenyataan? Secara sederhana, adalah keharusan kita semua untuk terlibat langsung. Namun, masyarakat sebagai sebuah kesatuan totalitas hubungan sosial tentunya yang paling besar menanggung amanah ini.

Adalah para pemimpin kita bersama para alim ulama, tokoh-tokoh agama (yang diakui), para budayawan, tentu juga tidak lagi boleh hanya sekadar menjadikan malaqbiq sebatas panggung sandiwara atau lahan garapan jual-beli acara kegiatan yang terkesan budaya, tapi semangat kapital yang merusak.

Para guru jangan lagi menjadi penakut dari ancaman penundaan gaji atau mutasi oleh kesewenang-wenangan kepemimpinan bupati ketika kalian semua benar-benar membumikan malaqbiq sebagai karakter hidup yang berkenyataan, yang tertuang secara gamblang dalam logo Sulbar, yaitu “millete di attonganan”. Itulah kuncinya, bukan malah “millete di apo’lasang”.

Saya menutup tulisan ini dengan sebuah statement, bahwa malaqbiq sebagai karakter hidup yang berkenyataan adalah kabar gembira bagi tatanan kehidupan yang mulia, sekaligus laknat kepada mereka yang berpaling dari kebenaran, yaitu orang-orang yang hanya bisa menipu serta membodohi kita semua.

Malaqbiq adalah panduan hidup dan gerakan rakyat, kita semua. Sebab, Sulbar adalah rumah kita bersama, kecuali para pemimpin yang korup, yang hanya bisa tebar pesona; selain para agamawan yang berpaling dari hakikat pesan tuhan; tidak termasuk para budayawan yang hanya menjadikan tradisi sebagai instrumen-transaksi kapital yang meraup laba; bukan juga para pelajar yang hanya sibuk dengan semangat individual yang merusak.

Sekali lagi, kecuali kita semua yang tidak punya niat baik dan tindakanya yang berkenyataan dalam menjadikan Sulbar sebagai rumah amalaqbian kita bersama.

Artikel Terkait:
Nasaruddin Ali
Latest posts by Nasaruddin Ali (see all)