Maman Suratman: Hanya Orang Bodoh yang Anggap ABM Raja Sulbar padahal Gubernur

Maman Suratman: Hanya Orang Bodoh yang Anggap ABM Raja Sulbar padahal Gubernur
©Wordpress

Nalar Politik – “Hanya orang bodoh yang menganggap ABM Raja Sulbar padahal posisi atau jabatan politiknya di Sulbar adalah gubernur.”

Demikian makna unggahan Maman Suratman di Facebook, 24 Juni 2020, yang menuai kontroversi. Banyak pihak yang menilai itu sebagai bentuk penghinaan, tetapi tak sedikit pula yang mendukungnya sebagai bentuk satire (kritik berupa sindiran).

Kami, Redaksi Nalar Politik, sudah mencoba menghubungi Maman untuk meminta keterangan terkait unggahannya tersebut. Tetapi sampai hari ini, hingga reportase ini diturunkan, kami belum berhasil mendapat informasi secara langsung dari yang bersangkutan.

Akun Facebook-nya pun tak bisa diakses lagi. Entah yang bersangkutan menutup akunnya secara pribadi atau kena report dari sesama pengguna media sosial.

Berbekal klarifikasi tertulisnya, yang sudah beredar luas sebelum akunnya tak bisa diakses lagi, kami pun mendapat informasi terkait. Dari sanalah kami mengetahui apa maksud pernyataan “maraqdiana to cangngo” (rajanya orang bodoh) dari mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar-Yogyakarta (IPMPY) ini.

“Kepada semua pihak yang merasa terganggu atas unggahan saya tentang ‘maraqdiana to cangngo’ di Facebook, 24 Juni 2020, berikut ini adalah klarifikasi sekaligus permintaan maaf saya secara pribadi. Tindakan ini saya lakukan dengan penuh kesadaran,” tulis Maman memulai.

Pertama, terkait “maraqdia”. Menurut mahasiswa kelahiran Mamuju, Sulawesi Barat ini, kata yang dimaksud itu memiliki arti sebagai “Raja Sulbar”. Itu adalah bentuk satire (kritik berupa sindiran) yang merujuk langsung ke Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar (ABM).

“Saya tahu, Sulbar bukanlah kerajaan. Sulbar adalah provinsi, sebuah wilayah atau daerah yang dikepalai oleh seorang gubernur. Menyebut ABM sebagai Raja Sulbar, bukan Gubernur Sulbar, adalah tindakan keliru,” jelasnya.

Kedua, tentang “to cangngo”. Frasa yang bermakna “orang bodoh” ini Maman rujuk ke mereka yang menganggap ABM adalah Raja Sulbar.

“Tentu saya berani sebut mereka ‘bodoh’ karena ABM, secara jabatan di Sulbar, bukanlah seorang raja. ABM adalah gubernur yang bertugas mengurusi tata kelola pemerintahan tingkat provinsi. Sehingga, jika ada yang menganggap ABM sebagai Raja, merujuk Sulbar secara administrasi, maka bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan adalah orang bodoh,” jelas Maman lebih detail.

Terkait siapa yang menganggap ABM demikian, sebagai Raja Sulbar, Maman mengaku tidak tahu pasti.

“Hanya kalau ada, dialah yang saya maksudkan sebagai ‘to cangngo’,” tegas penulis yang kini bekerja sebagai Editor Qureta ini.

Salah Paham

Ketiga, adanya keterlibatan warga Tapango (sebuah kecamatan di Polewali Mandar) dalam unggahan tersebut membuat Maman heran. Ia heran karena banyak tuduhan yang menganggap unggahannya itu adalah upaya pelecehan atas diri atau kelompok tertentu.

Padahal, menurut pengakuannya, ia sama sekali tidak menyinggung, sedikit pun. Tidak ada kata atau frasa terkait itu yang terkandung dalam tulisannya.

“Saya yakin, itu murni kesalahpahaman belaka. Mereka menganggap frasa ‘maraqdiana to cangngo’ itu merujuk ke ABM sebagai maraqdia di Tapango, sehingga maknanya jadi berubah: ‘orang bodoh’ adalah ‘orang Tapango’. Sementara yang saya maksudkan adalah ‘Raja Sulbar’, ungkapnya.

Alih-alih menyinggung kelompok mereka (orang Tapango), Maman sendiri mengaku baru tahu kalau ABM ternyata adalah “maraqdia” di Tapango. Atas kesalahpahaman itulah maka dirinya meminta maaf.

“Ke depan, perkara ini akan saya jadikan pelajaran berharga. Saya lebih akan berhati-hati lagi dalam menggunakan media sosial. Saya sudah sadar, ternyata tidak semua pengguna media sosial bisa memahami sebuah unggahan sebagaimana yang pengunggah maksud. Semoga klarifikasi dan permintaan maaf ini bisa berguna sebagaimana mestinya. Hormat saya, Maman Suratman,” pungkasnya.