Maniak Medsos dan Pola Pikir Pengemudi

Maniak Medsos dan Pola Pikir Pengemudi
©Odyssey

Insan maniak medsos cenderung memiliki jari-jari yang berkemampuan lebih gesit dalam mengetik tuts-tuts keyboard daripada keseimbangannya dengan jalan pikiran.

Now, everyone can fly. Moto yang terdengar bombastis dari sebuah maskapai penerbangan ini turut mengafirmasi betapa elegannya realitas kemajuan zaman. Segalanya menjadi simpel dengan kehadiran smartphone yang sekaligus menempatkan fungsi alat elektronik lainnya seperti jam, beker, kamera, radio, televisi.

Aktivitas pun tidak terlampau menguras tenaga, waktu, dan asa lagi sebab dipermudah oleh varian alat teknologi, di antaranya motor, mobil, angkutan umum, bis kota metropolitan, kapal laut, dan pesawat.

Memang tak ayal lagi, lanskap realitas tidak mampu menafikan tampang postmodernisme yang mengusung eksisnya varian kemajuan dengan wajah baru, khususnya pada era industri 4.0 sekarang ini. Kehadiran alat teknologi dilengkapi dengan kehadiran alat elektronik.

Peranti tersebut sekaligus melatari lahirnya media sosial (medsos) yang kian trend. Ketika pada kasus tertentu kehadiran medsos menuai implikasi buruk berupa distorsi nilai, maka diskusi mengenai respons insan milenial terhadap varian peranti kemajuan zaman itu pun terasa penting.

Distorsi nilai saya artikan sebagai berseliwerannya atau simpang siurnya berbagai paham asing yang membanjiri bangsa Indonesia. Hemat saya, makin banyak orang berkutat dengan kemajuan itu hingga hampir tidak ada orang yang prosofobia (fobia terhadap kemajuan), makin banyak pula paham asing yang mengumatkan kepala.

Di bawah panji relativitas dan kebebasan tafsir, malah makin banyak insan milenial yang menciptakan dan menghayati suatu tindakan semata-mata menurut penilaiannya sendiri. Orang makin mengagung-agungkan otonomi diri atau kebebasannya, hingga menjurus pada egosentrisme.

Kemajuan tanpa penyaringan atau resistensi diri dari insan milenial hanya akan berdampak buruk. Oleh karena itu, kemajuan juga menuntut transformasi pola pikir.

Pola pikir, menurutRhenald Kasali (2017: 305), adalah bagaimana manusia berpikir yang ditentukan oleh setting yang kita buat sebelum berpikir dan bertindak. Ini sama seperti ponsel yang kita setting bahasa, fitur-fitur, suara, dan lain-lain sebelum kita pakai. Maka, mari kita bercermin diri sambil menilik aktivitas ber-medsos insan Indonesia, dengan penekanan khusus pada bias-bias negatif kehadiran medsos.

Wahana Mati Rasa

Dalam sebuah angkutan, penumpang boleh mengantuk, tertidur, diam, bengong, sibuk sendiri, mabuk, maunya dijamin, pasif, dan praktis kurang berani mengambil risiko. Sementara pengemudi adalah sosok yang sebaliknya.

Tidak mungkin sebuah angkutan umum dikendalikan secara manual bersamaan oleh semua orang yang berada dalam angkutan. Tentu ada pengemudi, ada penumpang, dan ada kondektur. Semuanya dengan fungsi masing-masing walau memiliki tempat tujuan yang sama karena menggunakan peranti yang sama pula.

Rhenald Kasali (2014: 122) menilai bahwa untuk mencapai taraf transformasi diri yang ideal. Insan Indonesia harus berubah dari tradisi berpola pikir“penumpang” menjadi berpola pikir ”pengemudi”.

Secara sejajar, proses ini dapat dikaitkan dengan aktivitas bermedia sosial. Terlepas dari kompleksitas makna katanya, media sosial lazim diartikan sebagai peranti modern (beragam platform) yang memungkinkan setiap orang berelasi atau berinteraksi meski tanpa tatap muka secara langsung.

Sebuah media virtual yang serba dalam jaringan. Setiap orang dimungkinkan untuk membuat blog pribadi, menonton atau berbagi konten, misalnya WhatsApp, YouTube, Facebook, Twitter, dan lain sebagainya.

Baca juga:

Penyalahgunaan media sosial menjadikannya sebagai sumber kejahatan, dan tanpa sadar mendorong penggunannya pada kondisi mati rasa tingkat akut. Menggantungkan diri secara berlebihan pada media sosial, menjadikan semua tawaran dan informasi di dalamnya dianggap benar, dan cenderung menjebak pengguna untuk berprasangka buruk terhadap sesama. Maka, selayaknya penumpang, pengguna menjadi budak media sosial.

Budak media sosial saya artikan sebagai kegagalan sistem pengemudi. Seorang pengemudi, selain harus terampil mengemudi, juga harus mengenal baik medan atau nama-nama wilayah tujuan, tarif ideal, memiliki daya ingat kuat, selalu waspada, konsentrasi penuh, teliti, menyediakan peranti serep, dan tuntutan lainnya.

Pengemudi dan kondekturnya yang tidak bertanggung jawab saat terjadi kecelakaan dalam perjalanan merupakan kegagalan sistem pengemudi. Selain itu, bisa juga terjadi beragam manipulasi dan pelecehan, seperti manipulasi tarif, jumlah penumpang normal, atau jadwal keberangkatan. Perbuatan ini keliru dan melahirkan cap pengemudi berpola pikirpenumpang.

Media sosial adalah sebuah sistem yang netral. Dan sistem media sosial itu diciptakan oleh manusia dengan tujuan meningkatkan taraf kesejahteraan hidup manusia, bukannya mendominasi atau menindas manusia. Dominasi ekstrem media sosial menjadikan banyak orang terjebak pada pola pikir banal dan dangkal. Maka insan yang gagal dalam merespons media sosoail pun rentan terhadap berbagai penipuan.

Teler dan Mabuk Medsos

Apa jadinya bila seseorang sedang mabuk berat dalam perjalanan menggunakan angkutan umum, yang mencipratkan muntahan kemudian teler? Tentu ia sangat membenci dan trauma terhadap momen tersebut, menghujat segala stimulus yang berpotensi menambah parah rasa mabuknya, dan lahirlah insan dengan cap alergi angkutan umum.

Namun bagi setiap insan yang sedang ‘mabuk medsos,’ setiap kesempatan beraksi bersama medsos dihayati sebagai momen yang makin dan paling menyenangkan. Maka lahirlah cap maniak medsos.

Teler dan mabuk prasangka yang juga digolongkan sebagai suatu bentuk kejahatan. Kejahatan dunia maya dapat digolongkan sebagai kejahatan diam (silent crime), yaitu kejahatan yang tersembunyi dari pandangan dan pengetahuan umum.

Dari sekian kejahatan serupa hoaks, ujaran kebencian, makar-provokatif, gosip, dan lainnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang lebih tertarik pada perpecahan, cenderung berkutat dengan kesenangan pribadi, dan dominasi ekstrem perasaan. Banyak maniak medsos yang layak dicap teler dan mabuk prasangka bila kurang bijak dalam memutuskan setiap unggahan ataupun informasi yang dibagikan dalam jaringan.

Beragam platform barangkali tampak mudah dimonitor petugas bila ada benih-benih kejahatan. Namun menjadi tentunya sulit khusus untuk platform yang lebih ke ranah privat atau tertutup seperti WhatsApp.

Bisa saja pembiasan informasi, hoaks, konspirasi radikalisme, opini pemecah persatuan berawal dari platform yang menjamin keamanan informasi ini.Contohnya kasus pencemaran nama baik terhadap Presiden Joko Widodo, penculikan ulama, dan soal kebangkitan Partai Komunis Indonesia (Kompas, Rabu, 28/02/2018), yang modus operandi-nya terkait persekongkolan anggota grup dalam WhatsApp.

Budaya Basa-Basi ala Kondektur

Peran kondektur sangat penting dalam bisnis angkutan umum. Kondektur dikenal sebagai sosok yang pantang menyerah, kerja keras, pemberi petunjuk kepada sopir dan penumpang, serta tahan banting.

Kondektur yang pasif tentu akan kalah saing untuk mendapatkan penumpang. Kebanyakan kondektur angkutan umum mengadopsi atau dipaksakan untuk memiliki kompetensi berbasa-basi.

Menipu calon penumpang adalah tindakan halal: manipulasi jadwal keberangkatan ataupun tarif sebagai bias target, terdorong oleh keinginan mendapatkan keuntungan ekstra. Cara-cara pamungkas biasanya berupa rayuan, janji, dan simpati untuk mengambil hati penumpang.

Negara kita memang kental dengan budaya basa-basi, yaitu ucapan kata-kata menjadi wahana formalitas. Berikut adalah beberapa contoh konkret.

Pertama, pada sebuah terminal, terdapat seorang ibu yang hendak memakan sepotong kue. Ia pun menyodorkan potongan kue tersebut kepada orang lain di sekitarnya sambil berkata, “Mari makan, Pak/Bu. Jelas, itu hanya basa-basi, sebab tidak mungkin kue sepotong dibagikan kepada lebih dari empat orang.

Kedua, saat kita sedang tidak ingin menerima tamu, namun pada saat bersamaan ada tamu yang datang berkunjung, dan bertanya apakah kita sedang sibuk, namun dengan senyum yang dipelintir sedemikian rupa kita menjawab, “Oh tidak. Mari, silakan masuk.

Ketiga, ketika sedang membersihkan halaman rumah, maka tetangga yang lewat akan berkata, “Lagi bersih-bersih, ya.”

Baca juga:

Inilah kebudayaan basa-basi, sekaligus menjadi kebanggaan kita, sebab di dalamnya tebersit kerinduan setiap insan untuk makin merekatkan relasi dengan sesama. Inilah khazanah budaya yang muncul melalui hasrat meniru (mimetic desire).

Filsuf Prancis Rene Girard melihat segala proses pembelajaran dibangun atas dasar meniru. Jika saja manusia tiba-tiba berhenti meniru, maka varian bentuk budaya akan hilang.

Apa yang salah dengan budaya ini? Tidak ada yang salah, hanya bias negatif hasrat ini dapat menjatuhkan orang pada jurang hasrat imitasi ekstrem. Setiap  orang cenderung bersaing untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa, seperti pengakuan, popularitas, dan distraksi. Demi memaniskan suasana mulut mengumbar kata-kata walau hati bermaksud lain.

Penulis melihat bahwa budaya basa-basi ini kerap tertuang dalam aktivitas bermedia sosial. Sering medsos menjadi ranah dominan budaya basa-basi dan menghasilkan efek-efek yang tak diinginkan. Hal apa saja langsung diumbar maniak medsos, termasuk kondisi batin ataupun masalah-masalah keluarga.

Medsos menjadi ‘tempat’ curahan hati, tampilan diri ter-up date, dan arena mengemis perhatian. Seorang maniak medsos seolah-olah merasa hampa bila belum mengunggah foto, meng-update status(pagi, siang, sore, malam), memberi like atau comment unggahan sesama warganet.

Bahwasanya insan maniak medsos cenderung memiliki jari-jari yang berkemampuan lebih gesit dalam mengetik tuts-tuts keyboard daripada keseimbangannya dengan jalan pikiran. Perasaan dan verbal basi-basi selalu menjadi prioritas. Komentar-komentar minus nalar pada akhirnya melahirkan problem baru, baik berupa verba provokatif, ujaran kebencian, maupun beragam kejahatan.

Budaya basa-basi dalam medsos memang baik, sejauh itu aman bagi diri sendiri dan sesama. Namun ingat bahwa negara ini tidak hanya butuh insan yang mabuk prasangka, infantil ataupun labil, dan pengemis perhatian, tetapi negara ini butuh buah pemikiran hangat inovatif dan keyakinan (core beliefs) yang membangun.

Pola Pikir Pengemudi

Pengemudi adalah penentu keselamatan penumpang sekaligus keselamatan dirinya sendiri. Pengemudi, selain sebagai figur yang memiliki keterampilan khusus, juga sebagai figur yang berani menyatakan identitas diri, selalu berpikir, dan bertindak.

Pola pikir pengemudi penulis artikan sebagai kemampuan berpikir kritis-inovatif. Cenderung mengedepankan perasaan, popularitas, hasrat untuk diakui, dan kemahiran menghafal tuts-tuts keyboard  hanya akan mematikan nalar kritis insan milenial dalam etiket berkomunikasi dan menyaring beragam informasi.

Roberto Bala menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu dari 4 keterampilan abad ke-21, selain collaboration, communication, dan creative (Kompas, Kamis, 25/10/2018). Terkait pola pikir kritis ini, kita perlu kembali pada tujuan asal baik medsos yang dirancang untuk mempertautkan pengguna sekalipun terpisah satu sama lain, untuk membahas bersama secara proaktif apa yang tengah semarak terjadi di lingkungan sosial.

Quo vadis, transformasi diri insan Indonesia? Jadilah “pengemudi” atau pengguna medsos yang bijak sambil berpijak pada semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Referensi
  • Kasali, Rhenald, 2014, Let’s Change, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  • _______, 2017, Disruption, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
    Carlo Dagur
    Latest posts by Carlo Dagur (see all)