Mantra Kebebasan

Mantra Kebebasan
Ilustrasi: keepingcurrentmatters.com

Dua Mantra Kebebasan:

Sebelum Jiwa Melangit

Mereka mendekap mulutku
Didekap dengan ayat misterius
Suaraku yang harus menderu keras
Dibungkam dengan hal yang katanya suci dari langit

Mereka membombardir pikiranku
Dibombardir dengan hujatan kekafiran
Mereka memperkosa keyakinanku
Memperkosanya beramai-ramai

Katanya:
“Darahku dihalalkan!”
“Ketiadaanku dimungkinkan!”

Oh, kebebasanku dirampas dengan beringas
Aku ingin begini, dipaksa untuk begitu
Aku tak mau
Habislah aku
Tamat jiwa ini
Disiksa tertatih hingga mati

Biadab memang pihak sebelah
Dipaksa setia pada pendapat kebanyakan

Ah, barangpasti aku tak mau
Mau dikemanakan hati kecil dan akalku?
Pada itu kesetiaanku penuh

Sebelum jiwa melangit
Darah berkucur di bumi
Pesanku begini:

Biarlah aku pada hak-ku, kamu pada hak-mu
Aku tak mengganggumu, kau pun begitu
Aku tak merampas damaimu, kau tak merampas damaiku

Aku tetap menjadi aku, kau tetap menjadi dirimu
Dengan begitu, kau dan aku adalah SATU
Satu dalam kebebasan
Atas nama menghargai
Kedamaian menyertai

Yang Dikutuk untuk Bebas 

Ah, kau lagi
Biarkan aku merdeka membentuk diriku
Jangan ganggu dulu
Pergi, pergilah sebentar dan menjauh

Aku ingin bebas mencipta segala hal
Mencipta ke-akuan-ku tanpa menafikan ke-diri-anmu
Tanpa kau ulah-ulah
Sebab aku bukanlah lagi tabula rasa
Kecuali lahirku

Juga, aku sedang memupuk bibit baru pada aku
Kumulai menelanjangi
Kemudian menghasrati, penuh nafsu
Pada buku-buku

Bercumbu bersama Descartes
Bersama Locke
Bersama  Hobbes
Bersama mereka yang sodorkan diri
Aku pasrah
Tak kuasa mengkritik sebab menggelitik
Nikmat sekali

Ah, kau
Jangan ganggu dulu
Pergi, pergilah sebentar dan menjauh
Jangan datang sebelum usai
Sebab mereka sedang memaksaku bersetubuh
Menarikku ke atas ranjang diskusi
Dan harus aku layani

Kelak, jangan kutuk dengan mantra moralitasmu
Sebab Nietzsche telah menggantinya
Ia namai Mantra Kebebasan

Kau tahu, Sartre tersenyum sepakat
Telingaku merasai angin panas menggeliat
Ia berbisik tegas:
“Manusia dikutuk untuk kebebasan!”

Kau tak percaya?
Ya sudah!
Terserah kau saja
Tapi lain waktu, kau perlu mencobanya

Baca juga:
Uci Susilawati
Latest posts by Uci Susilawati (see all)