Manusia dan Segala Kepenuhannya

Manusia dan Segala Kepenuhannya
©Ministries

Manusia dan Segala Kepenuhannya

Perkembangan dunia masa kini membuat manusia bimbang untuk menerimanya. Segala karya dan aktivitas manusia telah dimudahkan dalam hal dari yang  konu menuju modern. Manusia masa kini dikenal dengan manusia yang serba cepa dan tidak terlalu menyukai hal-hal yang memakan waktu lama. Kerinduan untuk memenuhi hasratnya menjadi prioritas utama yang secara berkala diperjuangkan.

Singkatnya bahwa manusia masa kini tidak menginginkan apa yang menjadi fenomena-fenomena atau faktor yang membuatnya tidak berkembang secara leluasa. Manusia tidak menginginkan kemiskinan, penderitaan, kesedihan, dan pengalaman getir lainnya. Manusia, sebagai mahkluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, memiliki dimensi kehidupan yang luar biasa kompleks.

Pada mulanya, ketika Allah menciptakan manusia, Ia melihat bahwa segalanya amat baik, dalam artian; manusia yang diciptakan setelah segala isi bumi sangatlah baik, dan menjadikan manusia itu serupa dengan Sang Pencipta yakni Allah itu sendiri, (bdk. Kej.1.26-28). Manusia diberi tanggungjawab yang amat besar untuk menguasai dan mengolah apa yang dapat dimakan atau diminum, (Bdk. Kej. 1: 29-31).

Pada fase atau langkah awal pezirahan manusia di dalam taman Allah (taman Eden), seolah-olah menyakinkan Sang Pencipta bahwa subyek yang diciptakan-Nya sangat baik adanya. Manusia bersahabat dan hidup berdampingan dengan sesama ciptaan. Manusia merupakan ciptaan yang sangat istimewa seba, dikaruniai pengetahuan dan nurani yang baik. Artinya manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Ketika kita mengkaji lebih dalam mengenai kehidupan manusia pada periode awal-mula, kita akan hanyut dalam sebuah nostalgia lama yang penuh dengan romanitisme bersama Sang Ilahi. Dia yang berkuasa memberikan kehidupan dan berkuasa melenyapkan hal-hal yang kuranga baik. Segala aspek yang membentuk keberadaan manusia – fisik, mental, emosional, dan spiritual saling terkait dan membentuk satu kesatuan yang kompleks. Inilah yang disebut sebagai “kepenuhan” manusia, yaitu segala aspek yang membentuk manusia dalam keutuhannya yang sebenarnya.

Perjalanan manusia untuk menyusuri kehidupan yang dikeruniai oleh Sang pencipta merupakan sebuah jalan panjang yang harus dilalui. Peziarahan itu terbentur dalam sebuah hasrat kemanusia yang tidak disadari, membuat manusia terjerumus dalam dosa. Manusia yang tadinya secitra dengan Allah, Sang Penciptanya, telah tercoreng dan menjadi tidak taat pada-Nya. Pada poin ini, tentunya ular yang sama-sama diciptakan dengan manusia itulah menjadi sumber masalh utama. Manusia  jatuh kedalam dosa dengan segala tipu daya ular, (bdk. Kej. 2:4-24).

Ketika Allah mendatangi manusia, Ia merasakan sebuah dosa yang dilakukan oleh manusia. Ia tahu bahwa manusia yang ditempatkan dalam taman itu mengkhianati kepercayaan-Nya. Hubungan erat yang telah terjalin indah antara dua pribadi (Manusia dan Sang Pencipta) remuk bagaikan pecahan beling yang berpotensi untuk melukai. Allah murka dengan tindakan manusia hingga memutuskan hubungan-Nya dengan manusia. Allah mengusir manusia keluar dari taman yang indah, sejuk, dan berlimpah segala kebutuhan hidup.

Setelah, Allah mengutuk tindakan manusia karena perbuatannya. Maka, manusia terus berusaha untuk memperjuangkan kebutuhan hidupnya. Segala tindakan yang dilakukan ialah bentuk terbesar untuk memperoleh segala sesuatu atau segala usaha manusia ialah untuk pemenuhan diri. Manusia yang tadinya menikmati segala-galanya tanpa usaha yang jauh lebih rumit, kini harus berjuang dengan giat dan penuh pengorbanan untuk memperoleh segala sesuatu.

Baca juga:

Pada saat itulah manusia merasakan sebuah kekosongan yang tak terelakan dalam dirir mereka. Manusia seolah berjuangan mengarungi samudera tanpa seorang pemandu. Kekesongan manusia dikenal sebagai sense of Emptiness (sebuah perasaan kosong). Perasaan manusia yang telah nyaman bersama Sang pencipta kini harus dirajut dengan penuh perjuangan.

Hal ini menjadi sebuah pengalaman yang sangat pahit antara lain: mengalami pengusiran, kehilangan harapan, atau berada dalam zona yang tidak nyaman. Charles Taylor mengatakan bahwa: segala kegagalan manusia bukan hanya berasal dari setan-setan atau makhluk gaib lainnya, namun hal itu berasal dari pribadi manusia itu sendiri.

Krisis Manusia akan Realitasnya

Krisis manusia modern merujuk pada tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh individu-individu dalam masyarakat kontemporer. Hal ini mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk teknologi, lingkungan, sosial, ekonomi, dan kesehatan mental. Realitas manusia modern mencerminkan pengaruh globalisasi, teknologi canggih, urbanisasi, perubahan budaya, dan berbagai pergeseran sosial yang terjadi dalam masyarakat modern.

Era reformasi kuno menuju sebuah babak baru dalam sejarah kehidupan manusia merupakan sebuah penanda bahwa manusia telah menemukan sebuah jalan baru yang harus dilalui.  Manusia mengesampingkan refleksi tentang agama dan Tuhan lalu berusaha untuk mencermati situasi hidup yang dialaminya dengan rasionalitas.

Dalam perkembangan Filsafati, jaman ini disebut sebagai jaman filsafat modern. Artinya bahwa segala refleksi, perspektif, dan argumentasi hanya dapat dibenarkan atau diterima jika hal itu masuk akal. Peran dan diskusi rasionalitas mnejadi lebih besar dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan manusia, maka jaman baru atau modern ini menjadi sebuah ruang dimana manusia harus menyadiri dan mengetahui dirinya atau realitas.

Realitas menjadi poin utama dan refleksi dari subjek (manusia) untuk mengetahui hal-hal yang ada disekitarnya. Refleksi Filsafat menganai manusia dan realitasnya dipahami sebagai upaya kritsi yang dikemukakan oleh subjek untuk menetralkan adanya paham atau perkembangan teknologi dan memberikan tempat yang layak bagi cara pandang filsafat dalam kehidupan modern.[1]

Usaha manusia dalam membingkai kehidupan yang penuh gejolak melahirkan sebuah cara pandang atau kehidupan baru. Apakah manusia sang kreator dari realitas alam semesta? Sejauh mana manusia mengadakan sesuatu untuk mendukung kehidupannya? Untuk menjawab pertantanyaan-pertanyaan tersebut kita tentunya tidak berhenti pada sebuah refleksi yang dangkal.

Misalnya: manusia itu mempunyai kesamaan dengan Sang Pengada, sebab berhasil mengadakan sesuatu. Melainkan kita harus mampu berpikir secara luas bahwa manusia itu menciptakan sesuatu dari yang ada. Manusia tidak dapat menciptakan sebatang pohon jati. Namun, manusia dapat mengolah pohon menjadi sebuah kursi atau meja.

Halaman selanjutnya >>>
Krisanto Lafu Babu
Latest posts by Krisanto Lafu Babu (see all)