Manusia yang Puitik di Era yang Kaotik

Manusia yang Puitik di Era yang Kaotik
©Regnum

Kita adalah manusia yang puitik yang hidup di era yang kaotik.

Apakah Anda menyukai sastra atau tidak menyukai sastra? Entah Anda suka atau tidak suka, saya tetap yakin Anda memiliki gaya bahasa dan pengalaman puitik. Gaya tutur bahasa dan vokal diksional kita berbeda-beda.

Sensibilitas terhadap keindahan adalah pengalaman yang sah dari hidup. Kita hidup di dalam keterberian dan kemungkinan untuk sanggup merayakan bahasa. Keindahan manusia haruslah keindahan bahasa. Karena itu saya mesti ajukan proposal kesusatraan untuk mengafirmasi rekayasa bahasa puitik di dalam proses kreatif penyair. Kekhasan diksi, gaya bahasa, dan lisensi puitik tampak aktual di dalam ekspresi sastrawan, khususnya pengalaman bahasa penyair.

Penyair memiliki dunia privat penciptaan. Dunia yang benar-benar miliknya. Itulah kreativitas. Kreativitas bukanlah kerja main-main, melainkan kerja keras nan tekun menciptakan gaya bahasa, menemukan dan mengembangkan bahasa.

Sutardji Calzoum Bachri pernah bilang bahwa yang tidak menemukan bahasa takkan pernah disebut penyair. Karena itu, lanjutnya, kita harus melakukan pencarian-pencarian, kau harus mencari dan menemukan bahasa.

Dalam suatu kesempatan diskusi di Ledalero (Maumere, Flores), saya ajukan keterangan afirmatif tentang kreativitas penyair, kreativitas bahasa. Namun ada tanggapan sinis dan skeptis soal ini. Kreativitas bahasa penyair kurang mengemban validitas data dan pengalaman. Habitus proses kreatif penyair bergerak di dalam kerangka berpikir subjektif.

Saya menerima komentar itu dengan gembira sambil membayangkan cara berpikir partikular macam itu. Kebakuan pola pikir yang menerangkan ini seharusnya begini dan itu seharusnya begitu. Sastra tidak datang dari kebiasaan itu. Sastra melapangkan kebebasan mencipta dan menafsir dengan kekuatan kritisisme. Sudut pandang sastra bersifat majemuk dan logikanya logika kreatif yang terbuka terhadap berbagai bentuk penalaran pembacaan dan penafsiran.

Karya sastra yang ditulis sastrawan tetap memiliki muatan data dan pengalaman. Namun porsi itu mesti dibentuk dengan tenunan bahasa kreatif, puitik dan prosais. Pengalaman empiris dikonfigurasi lewat daya cipta olah bahasa untuk menghasilkan karya yang sanggup membawa transformasi, pertama-tama bagi jiwa pembaca dan pengarang, dan implikasi sosial merupakan konsekuensi yang mungkin ada. Sastra menangkap pengalaman dengan lensa imajinasi kreatif sehingga memungkinkan suatu pandangan yang lebih sublim tentang hidup dan sanggup menangkap inti kerinduan dan masa depan.

Saya berpikir bahwa sastra tetap krusial di era yang kaotik ini. Era disrupsi. Era yang melampaui rasionalitas natural manusia karena mengedepankan kecerdasan artifisial (artificial intelligence). Era mesin cerdas sudah pasti melemahkan kepekadaan nurani dan kesadaran puitik manusia. Sastra mesti menjadi gairah bahasa yang baru untuk menata jiwa, mengola afeksi, melapangkan imajinasi demi autentisitas. Dengan sastra Anda bisa menjadi diri sendiri yang benar-benar khas pada dirinya.

Saya boleh mengatakan bahwa kita adalah manusia yang puitik yang hidup di era yang kaotik.  Manusia yang puitik ialah manusia kreator yang menciptakan bahasa keindahan, kreatif meluruskan pikiran, terampil mengolah hati lalu menghasilkan karya. Kita adalah makhluk berkarya karena kita memiliki bahasa.

Penciptaan merupakan proses panjang kreativitas yang dihasilkan dari endapan pengalaman dan penghayatan kesunyian. Perwujudan diri dalam berkarya tetap jadi jalan sunyi yang menyiksa, hidup dalam gelisah, mencipta selalu pelik dan masygul. Kirjomulyo menyatakan bahwa penciptaan puisi sudah pasti bersusah payah sebab serupa kelahiran puisi/bukan lahir tiada dera/bukan kata tiada arti.

Manusia yang Puitik: Sastrawan, Penyair?

Karakter puitik kita jumpai dalam bahasa. Entah bahasa lisan ataupun bahasa tulis. Satu-satunya perkakas penting yang dipakai sastrawan untuk berkarya ialah bahasa. Referensi yang tepat soal ini ialah kerja penyair mencipta puisi.

Berpuisi berarti mencipta. Dalam bahasa Yunani disebut poeima (membuat), bahasa Inggris poem yang mengandung arti to make atau to create, dan bahasa Latin poeta yang bermakna menyebabkan, membangun, menyair, dan menimbulkan. Dengan demikian kerja penyair menulis puisi adalah kerja kreatif. Penyair menciptakan makna dan mengembangkan bahasa.

Sastrawan adalah identitas profesionalisme penulis sastra. Sastrawan adalah term umum yang bisa dibayangkan sebagai rumah besar bagi para penghuni yang kerjanya menulis karya sastra. Penyair, novelis, cerpenis, dramawan, kritikus sastra menghayati kerja kreatifnya dengan menulis.

Istilah sastra sudah pasti bermakna tulisan (bahasa), tetapi tulisan itu diolah dengan keterampilan estetis yang menciptakan keindahan bahasa. Keindahan bahasa sastra bukan tanpa pesan, tetapi mendistribusikan pedoman arah hidup, amanat moral dan memberikan kerangka masa depan dalam tuntutan imajinasi kreatif yang menghidupkan.

Menurut saya, sastra adalah kerja kreatif sastrawan untuk menghasilkan karya literer yang mengandung nilai-nilai, pesan-pesan moral bagi hidup manusia, dan meentukan arah perubahan. Lalu apa artinya saya menyebut manusia yang puitik?

Manusia yang puitik adalah manusia yang merumuskan dirinya di dalam bahasa dalam kesunyian dan keheningan yang dalam. Manusia yang puitik memiliki diksi sendiri, mengarahkan impian dan cita-cita masa depan berdasarkan kebebasannya tanpa terjebak dalam arus umum disrupsi. Ia mandiri dan berani merdeka untuk menjadi diri yang benar-benar sendiri.

Sastrawan memiliki dimensi puitik dan itu terbaca lewat penyair. Penyair adalah manusia yang puitik yang hidup dengan gaya bahasa.

Gaya bahasa adalah karakter individual seorang penyair. Puisi yang ia hasilkan adalah ekspresi kepribadian dari pengalaman hidup yang benar-benar menyatu dan sudah diinternalisasi. Penyair dan puisi adalah dua kenyataan proses kreatif dari satu fakta yaitu bersastra. Penyair dalam proses kreatif menciptakan puisi dan puisi sebagai hasil karya sastra yang ditulis penyair menyimpan pengalaman individual tentang proses penciptaan itu, tetapi tetap memuat implikasi tentang dan untuk dunia.

Penyair adalah seorang yang individual. Ia merdeka. Sebab kekhasan dan kreativitas adalah miliknya. Ia wujudkan lewat bahasa. Bahasa dengan kekuatan stilistika. Gaya berpuisi itulah pribadinya. Pengalamaan penciptaan seorang penyair merupakan spesifikasi dari perwujudan diri individual yang puitik.

Baca juga:

Dari penyair kita belajar tentang individualisme kreativitas sebagai cita-cita kepribadian. Dengan ini kita bisa bertumbuh menjadi manusia yang puitik.

Menjadi puitik tidak berarti harus menulis puisi, tetapi menjadi pribadi yang memiliki bahasa sendiri, membangun proposisi individual untuk menyatakan diri lewat gaya bahasa personal yang murni dan tulus. Menjadi manusia yang puitik berarti hidup dengan gaya bahasa yang diciptakan sendiri dalam laku hidup yang etis, religius, dan estetis.

***

Sastra adalah bagian dari kebudayaan. Bersastra dimaksudkan untuk mencari bentuk budaya lewat bahasa. Budaya literasi hari-hari ini merupakan afirmasi kebudayaan melalui bahasa. Namun fondasinya mesti dipikirkan kembali sebab era digital memungkinkan artifisialitas. Proses penciptaan dengan gaya bahasa dan lebih serius lagi memuisi bisa jadi dipandang sebagai kerja kreatif di luar arus umum keterampilan teknokratik.

Era percepatan informasi dan ketepatan pencarian mengeliminasi daya puitik kita. Kita masih menyandang estetika, tetapi lumrah dan artifisial. Era ini adalah era yang kaotik. Kacau di jagat virtual, renggang dan menegangkan di luar jaringan. Kita berpijak pada layar. Bahasa muncul begitu saja. Kita bercakap-cakap tanpa mengatakan apa-apa. Chatting dan komentar adalah catatan lepas tanpa referensi konseptual.

Dari penyair kita belajar memuisi. Kita memuisi karena kita berbahasa. Memuisi berarti menghidupkan bahasa di dalam penghayatan dan perilaku yang puitik. Memuisi menandakan kemajuan budaya. Sebab daya cipta telah mencapai tingkat optimal dan terbukti melalui bahasa yang dihayati di dalam proses kreatif. Proses kreatif manusia tidak terlepas dari proses menghidupi dan melestarikan bahasa.

Penyair memuisi lewat puisi. Ini merupakan kreativitas yang menunjukkan bahwa penyair adalah manusia yang puitik. Gambaran puitik selalu merupakan gambaran religius. Inspirasi-inspirasi puisi ada juga di dalam agama. Memuisi berarti juga berdoa, tetapi bukan ritus formal, melainkan ritus bahasa yang sanggup tiba pada esensi: makna.

Kita tetap punya keindahan. Alam menyediakan keindahan yang asli. Kita masih memandang langit. Keterberian masih tersedia. Kita masih memiliki puisi. Kita adalah manusia yang puitik di era yang kaotik.

Kita menciptakan gaya bahasa kita sendiri. Kita memuisi lalu menjadi diri yang benar-benar sendiri. Kreativitas kita hendaknya mengambil bentuk kreativitas penyair yang dalam semangat individualisme menciptakan tutur bahasa yang pribadi dan murni. Dengan sastra kita bisa menjadi diri sendiri. Menulis puisi adalah jalan menuju jati diri.

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)