Manusia yang Soliter dan yang Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius
©Pinterest

Manusia yang soliter dan yang religius adalah manusia yang menyadari dirinya sebagai keutuhan yang tidak utuh.

Manusia adalah subjek otonom. Ia memiliki partikularitas di dalam dirinya. Demikian diferensiasi asali dari manusia bahwa ia berbeda dari pengada lain di dalam dunia. Driyarkara menegaskan gambaran manusia sebagai makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri di dalam dunianya (Driyarkara, 1976).

Sebagai subjek rasional, manusia sanggup menentukan makna dan nilai hidup. Ia bebas dan bertangging jawab atas hidupnya. Ia mencari kemungkinan ultimnya lewat dialektika hidup (Van der Weij, 2017). Pencapaian yang hendak diperoleh ialah referensi teleologis dan substansial tentang kemungkinan paling akhir dan paling menentukan, peruntukan dan tujuannya.

Kerangka subjektivitas ini saya coba tempatkan di dalam situasi pandemi Covid-19. Apakah otonomi rasional manusia menemui batasnya atau malah menentukan signifikansi yang lebih ideal? Ternyata aktualitas kedirian manusia bergerak di dalam kemungkinan-kemungkinan, proses berkesinambungan untuk menjadi seperti apa yang diharapkan. Manusia tidak pernah bebas dari keterbatasan hidupnya.

Aktivitas fisik-biologis memiliki batas waktu aktif dalam sistem kerjanya. Jantung dapat berhenti berdetak, pancaindra dapat rusak, dan ada pula keterbatasan fisik lain yang disebabkan oleh cacat badan atau kelainan genetik. Tubuh manusia dengan seperangkat anatominya bisa berhenti bekerja karena virus korona menyerang para-paru. Virus korona menyebabkan pneumonia akut berat. Tubuh dapat mati dan itulah makna finalnya, kefanahan.

Virus korona menyebar lewat transmisi sosial pergaulan manusia. Menghadapi keadaan ini pemerintah membuat kebijakan yang membatasi mobilitas sosial. Segala bentuk aktivitas publik dilaksanan di dan dari rumah (working from home).

Istilah-istilah yang menunjukkan determinasi sosial masa pandemi ialah physical distancing (in social life), lockdown, karantina, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Relasi politik dan ekonomi terhambat. Interaksi sosial dibatasi dengan suatu jarak sosial yang mengurangi penyebaran. Indonesia berada pada situasi krusial penanganan dan pencegahan Covid-19 dan penyebarannya. Sebagian orang masuk ruang isolasi dan sebagian besar harus tetap berada di rumah. Kebebebasan manusia diukur dan diberi batasan yang jelas di dalam situasi ini.

Namun, saya membaca suatu peluang kesunyian dan kesendirian dari implikasi hidup individu di masa pandemi. Bekerja dari rumah atau berada di ruang isolasi mandiri melewati masa karantina merupakan aktivitas yang sungguh memberikan gambaran eksistensial tentang hidup. Sebagian orang yang tidak biasa bekerja dari rumah menerima kenyataan ini sebagai pengalaman baru yang cukup sulit disesuaikan.

Karantina di ruang yang spesifik adalah pengalaman batas menghadapi kegelisahan dan kesendirian. Tubuh menerima kenyataan sakit dan menderita karena positif Covid-19. Gejala-gejala serius seperti sesak napas, sulit berbicara dan sulit bergerak, nyeri di dada dan terasa seperti sangat menyengsarakan hingga menimbulkan depresi, kecemasan, dan putus asa.

Ini seperti retret dari pengalaman batas yang sungguh menghadirkan kesunyian dan kesendirian eksistensial. Saya berpikir bahwa pandemi Covid-19 memberi ruang bagi aktualisasi diri dan ekplorasi psikologis-meditatif dari pihak individu lewat penghayatan akan kesunyian, keheningan, kesepian dan kesendirian.

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Ada makna tentang manusia sebagai gambar dirinya yang individual. Saya melihat dua citra diri yaitu citra soliter dan citra religius. Yang pertama menunjukkan spesifikasi dari karakter manusia yang padanya dirinya bersifat reflektif, otonom, dan bebas. Ini merupakan gambaran individualitasnya yang khas. Dirinya adalah teman dialognya. Seorang soliter menghayati hidupnya di dalam solilokui.

Pergaulan sosial yang dibatasi dan komunikasi yang dibuat di dalam jaringan (online) menentukan jarak dan cara artikulasi diri di dalam interaksi sosial yang kini di tengah situasi pandemi dimungkinkan sebuah komunikasi reflektif-meditatif dengan diri sendiri. Perjumpaan biasa dari muka ke muka (face to face) kepada komunikasi virtual, di satu sisi, menyebabkan alienasi diri. Subjek individu kadang kehilangan atensi dan konsentrasi rohani.

Baca juga:

Di sisi lain, fakta kesendirian, kesepian, kesunyian dan keheningan dari pengalaman isolatif berada di rumah saja atau hanya berkomunikasi lewat media sosial bisa menyediakan ruang dialog kreatif bagi individu dengan dirinya sendiri. Pada pengalaman lain yang lebih sublim dan agung, manusia mencapai transendensi, keterbukaan spritualitas dari iman yang dialogis bagi Yang Kudus. Manusia mengikat dirinya dengan Tuhan yang ia imani.

Citra manusia yang religius dirawat dengan baik di dalam agama. Agama memungkinkan persatuan dan perdamaian dan mengikat kembali (re-ligare) relasi vertikal dan horizontal di dalam hidup bersama. Manusia memiliki kedalaman spiritualitas dan kepekaan afeksional yang menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang beragama (homo religious).

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi Covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Dari puisi Aku, saya menemukan makna dari citra manusia sebagai subjek yang soliter yang mengindividuasi dirinya supaya menjadi pribadi yang autentik (an authentic person). Si “aku” berada di dalam partikularitasnya. Aku ini binatang jalang/dari kumpuluan yang terbuang.  Aku tetap terus berjuang mengembangkan individualitasnya dan dengan itu mencapai vitalitas dirinya sebagai seorang pencinta kehidupan.

Biar peluru derita terus menembus kulit, luka itu terus dibawa berlari kepada kesembuhan supaya hidup menjadi lestari. Aku adalah seorang biofil sejati yang ingin menumbuhkembangkan hidup. Aku menginginkan hidup, bahkan hidup seribu tahun lagi.

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Corak individualitas dari pribadi yang soliter saya duga (juga) dimiliki oleh setiap pribadi. Setiap orang memiliki individualitas, kekhasan personal sebagai person. Ini merupakan diferensiasi psikologis dan pilihan bebas manusia.

Manusia pada sisi tertentu adalah soliter. Paus Yohanes Paulus II menyebut istilah kesendirian asali (orginal solitude) bahwa manusia adalah makhluk individual yang di dalam kondisi kemanusiannya yang kodrati, dilahirkan seorang diri, bertumbuh menuju otonomi diri, dan pada akhirnya mati sebagai yang tunggal.

Manusia adalah subjek yang soliter. Afirmasi diri dalam gambaran ini saya referensikan ke dalam pegalaman hidup manusia di tengah pandemi. Ketika mobilitas sosial dan akses relasi komunikasi langsung (face-to-face communication) antarpersonal dibatasi, manusia masuk ke dalam ruang hidup paling privat, ke dalam konteks dirinya yang autentik yaitu di dalam kesendirian asali yang menyediakan kecemasan dan absurditas, tetapi bisa memberi peluang bagi usaha memantapkan dan memantaskan diri menjadi “aku” sejati, menjadi diri (self) yang tidak dibelenggu oleh keadaan.

Bisa saja manusia menjadi pemberontak dan bertumbuh di dalam sikap indepedensi yang radikal. Chairil Anwar menulis, Kalau sampai waktuku/‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu/Tidak juga kau/Tak perlu sedu sedan itu. Harapan dan autentisitas dari subjek terus bergelora. Manusia memaknai dan memanfaatkan kekuatan kemungkinan. Pandemi menciutkan hasrat hidup dan melemahkan cita-cita, tetapi tepat memberi peluang bagi individu untuk membangun kreativitas dan bertumbuh di dalam bakat memproduksi pengatahuan dan mengembangkan budaya teknologi yang lebih menjawabi kebutuhan zaman.

Kemudian di dalam puisi Doa, saya membaca realitas pribadi manusia yang di dalam hidupnya tetap membutuhkan kehadiran Tuhan. Ide dasarnya ialah manusia subjek yang religius.

Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh

Caya-mu panas suci
Tinggal kerlip lilin dikelam sunyi

Citra manusia sebagai subjek yang religius saya yakin tetap optimal di tengah situasi kaos Covid-19. Manusia menumbuhkan semangat spiritualitas dan religiositasnya ketika penderitaan tampak begitu aktual di dalam hidup. Puisi Doa Chairil Anwar menampilkan format diri religius yang terus-menerus memohon dan mengadu harapan, serta memanjatkan doa untuk memperoleh ketenangan dan damai.

Tempat ibadah boleh ditutup, tetapi dari rumah umat beriman masih terus berdoa. Sebab di dalam kesusahan nama Tuhan stabil selalu didengungkan. Di dalam puisi Doa, kata “Tuhan” disebut sampai empat kali. Artinya, Tuhan adalah suara kerinduan metafisis yang tak pernah terpuaskan. Tuhan selalu disapa, selau diharapkan, selalu dirindukan. Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu.

Hati manusia yang religius adalah hati yang terbuka kepada bimbingan Roh Kudus. Hati yang hidup oleh iman, harap, dan kasih. Hati yang berharap dalam iman dan kasih tidak pernah berpaling. Tuhanku/Di pintu-mu aku mengetuk/Aku tidak pernah berpaling//.

Tuhan menjadi satu-satunya pengharapan ketika pandemi membuat manusia hilang bentuk dan remuk, lalu pengalaman ini menghantar manusia ke dalam situasi keterasingan eksistensial – mengembara di negeri asing – suatu wilayah batin yang menyatakan kepiatuan. Namun mata batin dan pandagan rohani tetap memfokuskan suasana hati ke arah cahaya yang memberi jalan harapan dan memberi hangat bagi tubuh yang terasing. Cahaya itu tetap misteri. Caya-Mu panas suci/Tinggal kerlip lilin dikelam sunyi.

Baca juga:

Puisi Aku dan Doa karya Chairil Anwar menampilkan makna hidup manusia yang dalam hidupnya terus berproses mencari jati diri, mengalami situasi batas, membentuk dirinya sendiri sebagai subjek yang soliter dan yang mengarahkan hati kepada Tuhan sebab ia orang yang beragama (having a religion) dan lebih dari itu sanggup mengada sebagai makhluk religius (being religious).

Kedua gambar diri ini, yaitu sebagai subjek yang soliter dan subjek yang religius, dikontekskan ke dalam gambaran diri manusia yang hidup di abad ini yang tengah mengalami pandemi covid-19. Pandemi menyebabkan manusia berada di dalam posisi yang dibatasi ruang geraknya, berada dalam dinamika isolatif yang kadang membawa desolasi, tetapi kehendak iman memberikan konsolasi karena memang manusia selain soliter, ia juga religius.

Saya begitu yakin bahwa manusia abad 21, meskipun mengalami pandemi Covid-19, tetap mencari makna dan nilai hidupnya. Barangkali makna diri yang dicari ialah apa artinya menjadi soliter dan religius. Manusia yang soliter dan yang religius adalah manusia yang menyadari dirinya sebagai keutuhan yang tidak utuh, kesatuan yang terbagi sebab ia terbatas, tetapi punya harapan iman dan cita-cita personal untuk merayakan hidup dengan merdeka. Selamat berjuang menjadi seorang yang soliter dan yang religius!

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)