Marak Driver Gunakan Fake GPS, Go-Jek Inisiasi Gerakan #HapusTuyul

Marak Driver Gunakan Fake GPS, Go-Jek Inisiasi Gerakan #HapusTuyul
Ilustrasi: Driver Go-Jek

Nalar PolitikDriver Go-Jek pengguna aplikasi “Fake GPS” dapat diancam dengan hukuman paling lama 12 tahun penjara. Aturan hukum yang digunakan untuk menjeratnya adalah pasal 30 Ayat (3) juncto pasal 46, dan atau pasal 32 Ayat (1) juncto pasal 48, dan atau pasal 35 juncto pasal 51 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman pidana 8-12 tahun penjara, dan atau Pasal 378 KUHP dengan pidana paling lama 4 tahun penjara.

Pasalnya, aplikasi GPS palsu ini dikatakan cukup ampuh untuk mendapat penumpang meski berada jauh dari lokasi. Bahkan, aplikasi ini juga memfasilitasi para driver untuk membuat order fiktif.

Penggunaan aplikasi ini merupakan suatu tindak kecurangan yang dapat merugikan kedua belah pihak, baik driver maupun konsumen. Karena Mitra Go-Jek (driver) yang menggunakan aplikasi ini mendapat keuntungan secara tidak adil sekaligus membahayakan data dari akun yang ia miliki.

“Tolong jangan menormalisasi hal-hal ini, apalagi kita bicara perlindungan data. Fake GPS merupakan aplikasi pihak ketiga,” tutur Vice President Corporate Communication Go-Jek.

Dikatakan, aksi ini telah marak beredar sejak Februari 2018. Belakangan, Polda Metro Jaya juga telah merilis berita penangkapan 12 orang tersangka yang membuat order fiktif dengan menggunakan aplikasi ini.

Dengan bantuan aplikasi ini, para driver, baik ojek maupun taksi,  tidak perlu repot untuk melayani pelanggan. Mereka tinggal membuat order fiktif, kemudian order tersebut diterima dirinya sendiri dengan akun lain dan secara otomatis kendaraan yang terlihat pada GPS di aplikasi bergerak seakan-akan sedang melayani penumpang.

Melihat masalah ini, Go-Jek mengambil langkah dengan menginisiasi sebuah gerakan bertajuk #HapusTuyul.

“Go-Jek tengah mengembangkan sistem yang dapat mendeteksi apakah si pengemudi menggunakan GPS palsu atau tidak. Menghapus para ‘tuyul’ ini menjadi penting untuk menciptakan kondisi yang Fair Flay di antara para mitra Go-Jek,” imbuh Michael Say. (ab)

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi