Maraknya Pinjaman Online Di Indonesia

Maraknya Pinjaman Online Di Indonesia
©CekAja

Maraknya Pinjaman Online Di Indonesia

Dunia modern sangat dipengaruhi oleh teknologi, khususnya teknologi informasi yang maju dengan kecepatan yang sangat cepat. Kemajuan teknologi informasi memberikan sejumlah manfaat dan kemudahan untuk melakukan berbagai tugas.

Fintech, atau teknologi keuangan, saat ini makin populer di Indonesia melalui pinjaman peer-to-peer, khususnya pinjaman online, seperti yang terlihat dari banyaknya peminat. Salah satu manfaatnya adalah kemudahan akses pembiayaan yang ditawarkan oleh pinjaman online.

Peer-to-peer lending, atau praktik pinjaman online yang dikenal sebagai “pinjol,” telah menjadi lebih umum karena efek ekonomi negatif pandemi Covid-19 serta sifat konsumtif dari komunitas online dan lemahnya undang-undang yang memberlakukan hukuman terhadap bisnis yang tidak jujur.

Pinjaman online ini menggoda banyak orang dengan persyaratannya yang mudah. Tidak diragukan lagi, seiring dengan meningkatnya jumlah nasabah layanan pinjaman online ini, semakin banyak contoh yang muncul.

Masalah dimulai ketika mereka tidak mampu membayar tagihan penyedia pinjaman online. Mereka diserang oleh berbagai teror, sampai-sampai beberapa dari mereka bunuh diri karena mereka tidak bisa menerima penghinaan. Ada beberapa pelanggaran hukum, termasuk yang paling serius, yaitu pelanggaran hak asasi manusia.

Salah satu kemajuan di sektor keuangan adalah pinjaman, atau pinjaman berbasis teknologi informasi, yang menggunakan teknologi untuk memungkinkan pertemuan tatap muka antara pemberi pinjaman dan peminjam untuk menyelesaikan transaksi pinjam meminjam tanpa harus bertemu.

Fintech Landing adalah nama lain dari pinjaman online, dan salah satu bentuk dan tujuan fintech adalah untuk meningkatkan layanan dalam bisnis keuangan. Pinjaman online dimungkinkan oleh penyedia jasa keuangan yang telah mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam operasi mereka.

Baca juga:

Seluruh prosedur pinjaman, mulai dari aplikasi hingga persetujuan dan pencairan dana, dapat diselesaikan secara online, melalui SMS, atau melalui konfirmasi telepon. Pemberi pinjaman online dan penerima pinjaman terhubung melalui penyelenggara, yang hanya berfungsi sebagai perantara. Banyak pinjaman online yang kini terdaftar di OJK selama keberadaannya.

Namun demikian, sejumlah besar pemberi pinjaman internet juga berfungsi tanpa pengawasan atau otorisasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ini disebut sebagai pinjaman online ilegal.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kemenkominfo, menyatakan pada November 2018 bahwa individu tidak perlu takut untuk mengambil pinjaman ilegal karena tidak ada kewajiban untuk membayar kembali uang yang dipinjam.

Pernyataan yang disebutkan di atas dari Direktur Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika menimbulkan pertanyaan apakah itu menyiratkan bahwa tugas pembayaran utang tidak diperlukan bagi mereka yang mengambil pinjaman yang melanggar hukum.

Ketika mempertimbangkan bahasa dan pedoman untuk meminjam, pernyataan ini tidak pantas. Menurut pernyataan itu, ada masalah hukum yang selalu menarik untuk dibicarakan karena melibatkan terjadinya tindakan hukum dalam hal ini, pinjam meminjam yang melibatkan pihak yang tidak disetujui, khususnya pinjaman yang tidak disetujui.

Pasal 1754 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengatur syarat-syarat yang berkaitan dengan pinjam meminjam itu sendiri. Dikatakan sebagai berikut:

“Pinjam pakai habis adalah suatu perjanjian, yang menentukan pihak pertama yang mengajukan barang yang dapat diselesaikan terpakai kepada pihak kedua dengan persyaratan kedua akan membawa barang-barang ke jumlah pertama dan jumlah ke dua.”

Selain itu, karena struktur perjanjian, sangat penting untuk mematuhi ketentuan Pasal 1320. Menurut KUH Perdata, harus ada empat hal agar perjanjian dapat dilaksanakan: 1) kesepakatan harus ada; 2) para pihak harus dapat membuat perjanjian; 3) objek yang pasti; dan 4) alasan yang dilarang.

Halaman selanjutnya >>>
Aldi Wisnu Nugraha
Latest posts by Aldi Wisnu Nugraha (see all)