Marhaenisme, Jalan Pembaru Pendidikan di Tengah Dualisme Paradigma

Marhaenisme, Jalan Pembaru Pendidikan di Tengah Dualisme Paradigma
©Jatim1

Tulisan ini saya buat pada 18 Januari 2021, dan saya sumbangkan opini tersebut yang dimuat di dalam buku. Dalam hal ini sebagai refleksi pengantar saya, saya mencoba menggunakan pendekatan pendidikan, yang mana pendidikan merupakan salah satu metode atau cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta berkepribadian sosial yang baik antar-lingkungan, baik dalam konteks lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, atau bahkan lingkungan masyarakat.

Dengan jalan pendidikan, maka masyarakat mendapatkan pola pembelajaran yang dapat mengembangkan jalan paradigma insan al-kariim dengan membangun jiwanya serta membangun raganya.

Tokoh Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, mempunyai konsep pendidikan dengan memasukkan kebudayaan kepada anak sejak dini, yakni konsep belajar Tri N (3N). Konsep tersebut yakni nonton (Kognitif), niteni (Afektif), dan nirokke (Psikomotorik).

Nonton (kognitif) di sini adalah secara pasif dengan segenap panca indera. Niteni (afektif) adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap pancaindra, dan nirokke (psikomotorik) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan manusia.

Dalam suatu kehidupan tidak terlepas dengan adanya suatu permasalahan yang terjadi di dunia ini. Namun sebagai insan manusia diberikan akal untuk berpikir imajinatif serta solutif yang berlandaskan dengan jiwa yang baik serta tenang. Oleh karena itu, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka perlu adanya pemikiran yang sifatnya kolaboratif dan konstruktif demi terwujudnya tatanan peradaban yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi bangsa dan negara yakni Indonesia.

Konteks apa pun mengenai konflik, pastinya setiap masyarakat di Indonesia tidak mengharapkan terjadinya suatu konflik antar manusia, karena pada dasarnya sebagai insan manusia adalah dengan mewujudkan manusia yang berkepribadian baik antar manusia dan Tuhan-Nya. Jika dalam konteks ke-Islaman, ada yang namanya Hablum Min Allah dan Hablum Min Annas.

Bung Karno yang merupakan Pahlawan Nasional yang dikenang hingga saat ini dengan memperjuangkan bangsa Indonesia di tengah penjajahan kaum Kolonial dan Imperial. Semangat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dapat diperoleh dengan beberapa cara melakukan perlawanan atau mengorganisir massa atau masyarakat dengan keberagaman agama, suku, ras dan bahasa yang mampu mempengaruhi cara pandang masyarakat untuk bersatu.

Sebagaimana orang pengagum Bung Karno, kata “Marhaenisme” tidaklah asing di telinga para pengagum serta ajaran-ajarannya. Marhaenisme merupakan ideologi yang sengaja digagas oleh Bung Karno sebagai Asas Perjuangan atau sebagai sikap politik Bung Karno yang dijadikan sebagai tumpuan gerakan, sebagaimana dalam Buku Di Bawah Bendera Revolusi Djilid I, Bung Karno menuliskan tentang Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi.

Baca juga:

Di tengah adanya dualisme paradigma yang kontradiktif dapat memengaruhi adanya dualisme secara individu maupun kelompok (komunitas maupun organisasi), sehingga dapat memengaruhi pola pikir dan jiwa yang berdampak pada kerancuan road map kehidupan yang seharusnya disusun sedemikian rupa dengan menyelaraskan paradigma.

Berkaca dari semangat perjuangan Bung Karno, ia dapat menyatukan beragam-ragam bangsa kedaerahan menjadi satu bangsa yang sifatnya nasional yakni Bangsa Indonesia. Hal tersebut merupakan bukan sebuah perkara yang mudah, dengan cara ekspansi serta mengonsolidasikan tenaga, pikiran serta rasa yang mempunyai kesamaan rasa nasib dan seperjuangan.

Maka bangsa ini dapat dipersatukan Sebagaimana Bung Karno mengutip peribahasa Tokoh dari India yang mampu mengusir kaum Imperial Inggris. Peribahasa tersebut berbunyi “My Nation is Humanity” yang mempunyai makna Nasionalisme Saya adalah Indonesia.

Sebagai pemuda di zaman milenial merupakan menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan suatu paradigma yang konstruktif dan kolaboratif di tengah zaman yang makin distruktif, baik cara pandang pemikiran serta jiwanya. Keberagaman pemikiran serta sikap inilah yang menjadi tantangan yang besar untuk membangun suatu bangsa yang besar.

Oleh karena itu, pastinya dalam suatu kehidupan perlu adanya romantika historis dengan mengingat serta merawat kembali ingatan-ingatan gerakan serta perjuangan yang mengatasnamakan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan sosial di tengah distruktif peradaban dengan cara menyatukan kembali keselarasan pikiran serta jiwa melalui diskusi-diskusi yang konstruktif serta menjiwai pokok dari bahasan tersebut.

Salah satu contohnya adalah dengan menerapkan pola pendidikan diskursif dengan pendekatan marhaenisme sebagai jalan pembaharu ditengah dualisme kontradikitf, menyelaraskan kembali jalan perjuangan-perjuangan bagi kaum proletar, marhaen, maupun miskin kota dengan adanya rekonsiliasi basis paradigma pemikiran serta jiwa yang terorganisir masif atau adanya reposisi gerakan dengan menggaungkan Marhaenisme sebagai jalan pembaharu menangkal kaum radikalis kapitalisme, baik orang asing maupun pribumi.

Aji Cahyono
Latest posts by Aji Cahyono (see all)