Marhamisme, Konsep Masyarakat Berkasih Sayang

Marhamisme, Konsep Masyarakat Berkasih Sayang
©Kumparan

Marhamisme, Konsep Masyarakat Berkasih Sayang

Hazrat Pir seorang sufisme kontemporer mengatakan, keadilan sosial akan tercapai, baik pada skala nasional maupun internasional, jika masyarakatnya dididik dan diajarkan tentang keadilan.

Mencapai keadilan tidaklah mudah, dengan keadaan masyarakat yang tidak memiliki kesadaran akan keadilan. Bagaimana mungkin keadilan akan tercapai kalau masyarakatnya sendiri belum mengetahui bagaimana itu keadilan.?

Marhama adalah sebuah konsepsi hidup ideal yang sebenarnya sudah mengakar pada masyarakat. Hanya saja, akibat pengaruh kapitalistik dan hidup individualistik, masyarakat kehilangan kesadaran terhadap kehidupan sosial.

Marhamah sendiri merupakan kata benda, berasal dari kata kerja arhama dan kata dasarnya adalah rahima yang artinya sendiri merujuk kepada sifat kasih sayang.

Marhama atau marhamisme adalah ideologi yang menekankan kepada masyarakat untuk hidup gotong royong, hidup dengan saling mengingatkan tentang kesabaran akan penderitaan, tolong menolong, bantu membantu dan saling berkasih sayang. Konsepsi itulah yang disebut sebagai masyarakat marhamah.

Darwis Thaib, seorang yang pertama kali mengenalkan konsepsi tentang marhamisme yang berasal dari kata marhama, mengemukakan bahwa konsep marhamisme digali dan diambil intisarinya dari Al-Quran surah Al Balad.

Surah Al Balad yang diartikan sebagai negeri (negara) menurut Darwis Thaib adalah surah yang mendidik masyarakat untuk memperdalam keyakinan (iman), menjalani jalan yang sulit dan memberikan harta serta tenaga untuk memberantas segala macam perbudakaan dan pemiskinan.

Baca juga:

Konsep marhamah yang dikemukakan oleh Darwis Thaib mulai digali dan menjadi laku hidupnya sejak tahun 1947. Keseriusan menggali makna marhamah bisa dilihat dengan ia menerbitkan brosur kecil yang bertuliskan marhamah dan disebar kepada masyarakat, khususnya kepada kader-kader Partai Masyumi.

Menurut Buya Hamka, dasar-dasar marhamisme yang telah digali oleh Darwis Thaib pada Q.S. Al Balad masih sangat relevan dan memberikan inspirasi perjuangan untuk setiap masanya.

Melaksanakan salat lima waktu, puasa, zakat fitrah, zakat harta, memberikan pendidikan agama pada kanak-kanak, adalah syarat yang mutlak untuk mencapai masyarakat Marhamisme.

Marhamisme dan Dunia Modern

Bagi seorang muslim, konsep yang digali dan diambil dari intisari setiap ayat pada Al-Quran memiliki relevansi yang kuat. Masyarakat modern saat ini, di tengah gempuran teknologi, telah membawa kepada kehidupan yang bersifat individual.

Francisko Budi Hardiman mengemukakan dalam bukunya yang berjudul “Aku Klik Maka Aku Ada” telah membuka keran kehidupan baru masyarakat saat ini. Masyarakat yang berimigrasi ke media sosial dengan segala keterbatasannya.

Keberadaan dunia modern saat ini, dengan peradaban yang begitu maju, di lain sisi menimbulkan banyak persoalan. Di antaranya: kehidupan sosial yang terasa asing. Seorang tetangga cenderung tidak bersosialisasi pada tetangga lainnya, karena kesibukan pekerjaan dan lain sebagainya. Namun kita akan menemukan orang tersebut aktif bersosialisasi dalam media sosial.

Selain itu, seseorang akan terlihat baik, peduli, dan mau menolong jika hal demikian terjadi dengan proses melibatkan media sosial. Dengan kata lain, seseorang akan terlihat peduli hanya di media sosial saja, namun pada realitasnya tidaklah seperti itu.

Konsep masyarakat marhamah justru menginginkan agar seseorang menyadari dirinya sebagai mahkluk sosial. Masyarakat marhamah menolak kehidupan individualistik, tidak sesuai dengan fitrah sebagai manusia. Masyarakat marhamah haruslah giat menegakkan jihad dalam menggandakan amal kebaikan, tolong menolong, membangun kualitas pendidikan, dan sebagainya.

Halaman selanjutnya >>>
Asman