Masa Depan Kebebasan

Masa Depan Kebebasan
©Pixabay

Semua peradaban terdahulu punah, atau setidak-tidaknya mandek, jauh sebelum mereka mencapai tingkat kemajuan materiel yang berhasil dicapai peradaban modern Eropa. Bangsa-bangsa mengalami kehancuran, baik karena perang dengan musuh mereka maupun pergolakan di dalam negeri. Anarki merusak pembagian kerja; kota, perdagangan, dan industri mengalami kemunduran; dan, karena landasan perekonomian menjadi keropos, pembaruan moral dan intelektual tersingkir akibat ketidaktahuan dan kebrutalan.

Orang Eropa pada zaman modern berhasil mempererat ikatan sosial di antara individu dan negara, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Ini merupakan pencapaian ideologi liberalisme, yang, mulai akhir abad ke-17, diuraikan dengan makin jelas dan tepat dan memengaruhi makin banyak orang. Liberalisme dan kapitalisme menjadi landasan dari semua keajaiban yang menjadi ciri kehidupan modern.

Saat ini, peradaban kita mulai mengendus hawa kematian di udara. Pencinta seni berkoar-koar bahwa semua peradaban, termasuk peradaban kita, pasti punah: ini hukum yang tak terbantahkan.

Saat-saat terakhir Eropa telah tiba, para nabi kiamat itu mengingatkan, dan mereka menemukan alasan bagi keyakinan itu. Di mana-mana suasana kemunduran dapat dirasakan. Akan tetapi peradaban modern tidak akan punah, kecuali akibat tindakan penghancuran diri. Tidak ada musuh dari luar dapat menghancurkannya seperti ketika bangsa Spanyol menghancurkan peradaban Aztec, karena tidak ada seorang pun dapat menandingi kekuatan pengusung panji-panji peradaban modern. Telah muncul kesadaran bahwa kemajuan materiel hanya mungkin terjadi dalam masyarakat kapitalis liberal.

Sekalipun hal ini tidak secara tegas diakui oleh kelompok antiliberal, hal itu sepenuhnya diakui secara tidak langsung dalam berbagai pernyataan yang memuji ide tentang stabilitas dan ketenteraman. Kemajuan materiel yang dicapai oleh beberapa generasi terakhir tentu saja sangat menyenangkan dan bermanfaat. Sekarang saatnya untuk berhenti.

Hiruk pikuk kapitalisme modern digantikan oleh kontemplasi penuh ketenangan. Orang harus meluangkan waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri, dan sistem lain ekonomi harus menggantikan kapitalisme sehingga orang tidak dirundung kegelisahan dalam mengejar hal-hal baru dan membuat inovasi.

Kalangan romantis bernostalgia tentang kondisi ekonomi abad pertengahan bukan abad pertengahan sesungguhnya, tetapi bayangan tentang abad itu yang dibangun oleh angan-angan yang tidak ada kaitannya dengan realitas sejarah. Atau ia berpaling ke timur bukan timur yang sesungguhnya, tetapi yang dibangun atas fantasi mimpinya.

Baca juga:

Betapa bahagianya orang tanpa teknologi modern. Bagaimana mungkin kita bisa dengan mudah meninggalkan surga ini? Siapa pun yang menganjurkan agar kita kembali ke bentuk-bentuk sederhana dari organisasi ekonomi masyarakat tak boleh melupakan kenyataan bahwa hanya corak sistem ekonomi kita yang menawarkan kemungkinan menunjang penduduk yang dewasa ini memenuhi bumi dalam cara yang sudah terbiasa kita nikmati. Kembali ke abad pertengahan berarti pemusnahan ratusan juta orang.

Mereka yang mendukung stabilitas dan ketenangan mengatakan orang tidak perlu melangkah sejauh itu. Cukup untuk mempertahankan dengan sekuat tenaga apa yang telah dicapai dan untuk tidak melangkah lebih jauh.

Mereka yang mendewakan ketenteraman dan ekuilibrium lupa bahwa dalam diri manusia ada keinginan melekat untuk memperbaiki kondisi materialnya. Dorongan ini tidak bisa dihapus karena dorongan itu merupakan kekuatan yang memotivasi semua tindakan manusia. Jika orang mencegah orang lain bekerja untuk kepentingan masyarakat dan pada saat yang sama memenuhi kebutuhannya, maka hanya ada satu cara untuknya: membuat dirinya makin kaya dan orang lain makin miskin melalui penindasan penuh kekerasan dan penjarahan terhadap sesama manusia.

Memang benar bahwa semua usaha dan perjuangan untuk meningkatkan standar hidup mereka tidak membuat orang lebih bahagia. Namun demikian, merupakan sifat manusia untuk terus berjuang demi memperbaiki kondisi materielnya.

Jika ia dilarang memenuhi aspirasinya ini, ia akan berubah menjadi membosankan dan kasar. Masyarakat tidak akan mendengarkan imbauan agar mereka bersikap moderat dan merasa puas; besar kemungkinan para filsuf yang membuat imbauan tersebut sedang berkhayal. Jika seseorang mengatakan bahwa ayah mereka mengalami hal yang jauh lebih buruk, mereka akan menjawab bahwa mereka tidak mengerti mengapa mereka tidak boleh menikmati kondisi yang lebih baik.

Apakah itu baik atau buruk? Apakah hal itu dibenarkan secara moral atau tidak? Yang pasti manusia selalu berusaha untuk memperbaiki kondisi mereka dan tidak akan pernah berhenti berusaha.

Ini adalah takdir manusia yang tak terelakkan. Keresahan dan kegelisahan manusia modern mengaduk pikiran, syaraf, dan indra. Orang dapat dengan mudah mengembalikan kepolosan masa kanak-kanaknya dan menuntunnya kembali ke periode pasif masa lalu sejarah manusia.

Tapi, apa yang ditawarkan sebagai ganti penolakan terhadap kemajuan materiel lebih lanjut? Kebahagiaan dan kepuasan, harmoni dan kedamaian dalam diri tidak akan tercipta hanya karena orang tidak lagi berniat melakukan perbaikan guna memenuhi kebutuhan mereka. Diracuni oleh rasa tidak suka, kalangan sastrawan membayangkan bahwa kemiskinan dan ketiadaan keinginan menciptakan kondisi yang menguntungkan, terutama untuk pengembangan kapasitas spiritual manusia, tapi ini semua omong kosong.

    Latest posts by Lalik Kongkar (see all)