Masa Pandemi Adalah Saat yang Tepat Hadirnya UU Cipta Kerja

Masa Pandemi Adalah Saat yang Tepat Hadirnya UU Cipta Kerja
©Pikiran Rakyat

Nalar Politik – Menyikapi pro-kontra soal UU Cipta Kerja, pengamat industri pariwisata Muslim Jayadi mengatakan, UU Cipta Kerja urgen dihadirkan pada masa pandemi sekarang di tengah perekonomian Indonesia terdampak Covid-19, demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Sekarang (masa pandemi) inilah saat yang tepat disahkannya UU Cipta Kerja. Karena untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi perlu pertumbuhan investasi. Dalam UU Cipta Kerja perizinan investasi dimudahkan supaya investasi meningkat,” jelas Jayadi dalam diskusi daring bertajuk Outlook Industri Pariwisata dalam UU Cipta Kerja pada Kamis (19/11) lalu.

Dengan adanya investasi, tambahnya, lapangan kerja baru tercipta dan bisa meningkatkan daya beli masyarakat yang secara tidak langsung akan juga berpengaruh baik pada sektor pariwisata.

Terkait dampak Covid-19 pada industri pariwisata, Jayadi membeberkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang berwisata ke Indonesia menurun secara drastis sampai 80 persen yang berdampak besar pada sektor pariwisata dan perhotelan.

“Puncaknya bulan April 2020, hanya 158 ribuan wisatawan. Jika dibandingkan April 2019 yang jumlahnya 1,3 jutaan, itu jauh sekali bandingannya. Hingga September 2020 year on year, penurunnya sampai 80 persen jika dibanding tahun sebelumnya,” beber Jayadi mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS).

Imbasnya, banyak karyawan hotel yang di-PHK dan dirumahkan. Terang Jayadi, terdapat beberapa karyawan hotel ketika dirumahkan, statusnya tidak pasti. Mereka tidak di-PHK tapi tidak mendapatkan gaji dan dibolehkan mencari pekerjaan di tempat lain.

“Itu namanya mengusir (mem-PHK) dengan halus. Para karyawan itu akhirnya cari kerja di tempat lain dan dapat pekerjaan, tapi tidak mendapatkan pesangon (dari perusahaan sebelumnya). UU yang baru (UU Cipta Kerja) ada jaminan kehilangan pekerjaan.”

Untuk membuat sektor pariwisata tetap hidup, Jayadi menyarankan pemerintah memberlakukan hal yang sama kepada tempat-tempat wisata seperti Kemenaker memberlakukan pada perusahaan-perusahaan. Yakni, mereka diminta memberikan model protokol kesehatannya masing-masing.

“Kementerian harusnya meminta model protokol kesehatan di tempat-tempat pariwisata. Kenapa ini penting, karena pengunjung akan merasa aman dan nyaman kalau protokolnya ketat. Sekarang, yang ketatlah yang dicari,” ujar Jayadi.

Itulah mengapa Jayadi juga menyarankan kepada pelaku usaha di sektor perhotelan atau pariwisata; jika ingin mengundang daya tarik wisatawan dalam kondisi pandemi, harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Karena menurutnya, yang dipilih oleh konsumen adalah tempat yang protokol kesehatannya ketat.