Masihkah Kita on the Right Track?

Masihkah Kita on the Right Track?
┬ęCouncil for World Mission

Pertanyaan penting yang gereja-gereja, termasuk GKI MY, hadapi pada saat ini adalah ini: Masihkah kita on the right track? Masihkah kita berada di jalur yang benar?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, orang pasti akan bertanya: Apa ukuran dari ‘yang benar’ itu? Untuk soal ini orang punya jawaban yang berbeda.

Ada argumen bahwa yang benar itu adalah ad fontes, gereja harus kembali ke tradisi atau warisan lama. Alasan ini membuat banyak gereja menggali kembali tata ibadah kuno. Ini juga yang membuat teologi Calvin, yang diciptakan pada abad pertengahan di dalam konteks Eropa yang homogen etnik dan agamanya, diakomodasi tanpa memperhitungkan konteks dan situasi yang baru.

Bagi kelompok ini, kepatuhan pada tradisi masa lalu adalah ukuran dari kebenaran. Ini jebakan tradisionalisme! Sikap ini membuat gereja stuck! Jalan di tempat. Gereja mengalami kejumudan. Bukannya maju, malah mundur ke belakang.

Argumen lain berpendapat yang benar itu harus sebaliknya. Gereja harus beradaptasi total dengan berbagai perubahan di dalam dunia modern. Agar tidak ketinggalan, gereja harus ‘nunut’ dalam kemodernan.

Padahal kemoderanan tidak selalu positif. Ada juga berbagai aspek negatif seperti materialisme, individualisme, dan konsumerisme. Aspek-aspek ini menciptakan nafsu ketamakan tanpa batas yang berakibat eksploitasi serta ketidakadilan terhadap sesama dan alam raya.

Bagi kelompok ini, gereja yang beradaptasi pada berbagai aspek baru adalah gereja progresif. Yang lama sudah berlalu. Gereja harus cepat berakselerasi. Maju terus. Kelompok kedua ini disebut moderisme. Sikap ini membuat gereja seperti mobil yang berjalan cepat. Efeknya, gereja bisa terjebak pada conformisme. Gas pol dengan rem blong. Semua OK tanpa kritis.

Ternyata tradisionalisme dan modernisme menyimpan bahaya laten. Kalau begitu, apa ukuran yang benar itu? Jangan khawatir, masih ada jalan ketiga.

Bagi gereja, jalan yang benar yang masih on track adalah bila gereja tetap taat pada Yesus Kristus yang berkarya untuk keselamatan umat manusia dan segala makhluk. Dalam ketaatan, gereja bisa bertransformasi secara kritis. Menerima tradisi lama tanpa terjebak pada tradisionalisme, dan mengakomodasi aspek baru tanpa kebablasan pada modernisme.

Gereja dengan jalan ketiga selalu berjalan on track, mengikuti Yesus dengan selalu berkarya dalam kerendahan hati untuk menghadirkan keselamatan berupa keadilan, perdamaian dan cinta bagi sesama dan segala makhluk.

Baca juga:

Ketaatan pada Yesus ini penting karena gereja tidak akan terjebak untuk memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Gereja juga tidak terjebak pada materialisme dan godaan kekuasaan yang merapuhkannya.

Sebaliknya, dengan rendah hati melakukan berbagai perubahan dengan berpegang pada Firman: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rm 12:2).

Dirgahayu ke-54 GKI MY. Tuhan memberkati selalu!

    Albertus Patty
    Latest posts by Albertus Patty (see all)