Maskulis

Maskulis
©Pinterest

“Aku maskulis,” perempuan itu bilang.

Ada di mana waktu terus membawaku pada jarak dan sesak yang terus menyalak. Layaknya gonggong anjing di kala malam, meneriaki orang tanpa sarung juga peci, namun di hatinya melantunkan ayat-ayat suci.

Dia berjalan sendiri, mencari tempat duduk yang sungguh ingin ia lekas temui. Di mana dirinya dan orang yang sungguh penting pernah menautkan janji di dalam hati.

“Aku akan pergi dari Desa Pesayangan Utara[1] dan terbang menuju Papua!”

Saat perempuan yang dia sukai ditugaskan oleh pemerintah untuk bekerja di sana. Yang lelaki terdiam di kamar, menyepi, padahal di kalbunya sudah tidak ada apa-apa lagi.

“Sa? Pernah bilang bila kamu tidak akan menjadi pegawai negeri dan berjualan sembako denganku di desa ini?”

Yang perempuan diam. Menyisakan tanda sudah dibaca di layar kaca sampai lelaki berotot itu berkaca-kaca.

Menurutnya, melawan harimau adalah mudah. Asal dia ditemani pedang panjang milik kakeknya yang sekarang jasadnya ada di makam pahlawan. Juga panah di setiap anak panahnya didoai oleh dukun di desa agar makin tepat sasaran. Namun lelaki ini luluh, lemah, dan gundah saat orang yang dia cintai pergi.

“Chairil pun pada akhirnya menyerah,” gumamnya di sela-sela dia berjalan mengingat puisi sastrawan[2] itu.

Sayangnya, otak lelaki tidak didesain untuk mudah menyerah. Mereka menyerah saat darah sudah mengucur, nyeri sudah tak tertahan, sekelujur kulit mengelupas, dan harapannya kandas.

Cuma, coba lihat lelaki itu kini? Dia sudah mencapai tempat duduknya. Ada perempuan lain berkemeja pink, dengan rambut pendek hitam, celana jins biru, yang membikin dia terkesan kurus, duduk di mana tempat kekasihku pernah duduk.

“Tidak biasanya aku melihat ada laki-laki duduk tanpa permisi di dekat perempuan!”

“Aku bosan dengan feminis. Mereka meniupkan harapan layaknya jiwaku hanya balon mainan.”

“Aku maskulis[3],” perempuan itu bilang.

Apa itu maskulis, heh?

Aku tetap berdiam. Menabung harapan di kotak hatiku yang sudah berlubang, dan angin mengempas bersamaan ketika dia bernapas, dan suara manis ini kudengar lagi, layaknya yang sudah-sudah pernah bergetar dan menggetarkan jiwaku.

“Aku membela laki-laki.”

Untuk kedua kalinya, aku terdiam. Gema, “Apa?” ada di kepalaku. Dan psikosomatik[4]ku kambuh.

“Kenapa kamu mimisan?”

Perempuan itu tampak betul-betul memperhatikan laki-laki. Perbedaannya, seorang feminis mungkin pada awalnya akan berburuk sangka atas kebaikan laki-laki yang mengaku feminis, dan kami, laki-laki, berbaik sangka, dengan bahasa semacam ini di dalam hati: “Makhluk polos macam apa kamu, dik?”

“Aku sudah menjadi adikmu?”

Tentu tidak, namamu saja belum kupunyai di otak dan ingatanku.

Saat aku hendak bertanya siapa namanya, suaranya yang bervolume cukup lantang itu terkesan mungil, lugu, dan lucu. Mirip nada A pada senar E di alat musik biola. Namanya Sasa. Terasa cinta dan kasih sayang menggema. Tapi aku merasa ada yang salah. Tidak seharusnya perempuan semacam ini ada.

Dunia sudah berubah. Kehormatan menjadi topeng. Pedang ada di lidah. Semuanya kehilangan tameng untuk melindungi kebahagiaannya masing-masing.

Yang membuatku agak sedih dan bahagia adalah namanya persis seperti feminis yang meninggalkanku.

Feminis ini bercerita akan masa lalunya yang kelam. Bahkan darah dan sayatan di tangannya ia kirimkan di kotak pesan.

Melihat itu, awalnya aku iba. Lama-lama aku cinta. Dan tinggal menunggu waktu, sampai aku dilupakan.

Luka-luka di sana berasal dari satu perkara. Aku bahkan sangat sulit menceritakannya. Ayahnya punya ketidak-seimbangan id[5], atau nafsu. Dan karena dia keturunan orang saleh, maka dia meneruskan kesalehannya itu padahal dia berwatak orang tanpa agama.

Baju putih, serban putih, sarung putih, atau gamis[6] sudah bisa mengubah pandangan orang-orang desa yang hanya tahu bercocok tanam dan beternak. Orang ini bosan dengan istrinya, maka anak perempuannyalah yang dia lecehkan.

Di telepon, mendengar ceritanya itu, aku menangis. Dan anehnya, perempuan feminis ini tertawa, girang, dan senang, “Kamu polos banget siii,” dan tentu, waktu itu aku tidak paham.

Aku tidak pernah dibegitukan, seumur hidupku ketika mendengar cerita sedih. Dan perempuan yang tidak di luar kota dan menemaniku di bangku taman ini bilang, “Aku pernah tidur di taman ini, sendirian.”

“Ah, kau mirip sekali dengan orang yang aku cintai itu. Pernah dia bercerita bahwa dia kabur dari rumah, dan tidak punya tempat untuk singgah, dan dia terlelap di sini, bangku taman ini. Kini, dia ada di luar pulau. Bekerja sebagai pegawai. Mengabdi kepada negara. Aku sangat merindukannya.”

Aku melanjutkan kenanganku, “Dia bilang, dia sangat mencintaiku. Tapi saat aku mencintainya, dia ingat masa lalu kelamnya. Dia ingat akan ayahnya yang kejam. Kemudian dia memutuskan untuk pergi. Meninggalkanku sendiri.”

Kemudian, perempuan ini menangis. Tiba-tiba saja begitu. Tak ada angin, tak ada tsunami, tak ada pesan daring yang menyatakan cintanya ditolak. Tiba-tiba dia menangis.

“Namaku Sasa, sayang! Aku tidak menjadi pegawai negeri meski bersekolah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Aku bunuh diri! Aku bunuh diri saat tahu ibuku dibunuh ayahku!”

Dan aku menelan ludah. Bukan karena takut atas arwah gentayangan yang aku sayang ini, tapi karena kesadisan ayahnya. Ke mana ayahnya kini? Kemudian aku tahu, dia berangkat ke luar pulau agar bisa lari dari tanggung jawabnya.

Dia tidak ingin masuk penjara. Dan Sasa adalah feminis sejati yang aku cintai. Kemudian, Harno, kekasih Sasa, menjadi maskulis dan tidak menikah. Seumur hidupnya.


[1] Desa di Kalimantan, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

[2] Angkatan 45. Puisi yang dimaksud adalah Derai-derai Cemara.

[3] Dari kata “maskulin”, pembela laki-laki.

[4] Psikosomatik singkatnya adalah penyakit mental yang mempengaruhi fisik.

[5] Id, ego, dan superego. Teorinya Sigmund Freud. Singkatnya, id adalah nafsu, ego adalah logika, dan superego adalah keinginan berbuat baik. Sisanya cari sendiri. Aku ingin bersedih malam ini. Perempuan yang aku khawatirkan tidak online. Apa dia betul bunuh diri, atau … pura-pura mati lagi? Perasaanku betul-betul kayak gelembung sabun. Indah tapi mudah pecah.

[6] Tak peduli jiwanya amis atau manis.

Arham Wiratama
Latest posts by Arham Wiratama (see all)