Masyarakat Kota dalam Persepektif Emile Durkheim, Karl Marx, & Max Weber

Masyarakat Kota dalam Persepektif Emile Durkheim, Karl Marx, & Max Weber
©University of York

Masyarakat kota dianggap lebih maju bila dibandingkan dengan masyarakat desa yang biasanya digambarkan dengan kesederhanaannya.

Masyarakat bisa dikatakan sebagai suatu komponen yang begitu penting dalam berbagai macam bidang, seperti sosial, budaya, ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya.

Masyarakat dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan peradabannya, yaitu antara lain masyarakat primitif, masyarakat desa, dan masyarakat kota. Hal ini dapat juga kita lihat melalui berbagai aspek lainya. Karena bila ditinjau dari segi karakteristiknya, ada perbedaan antara masyarakat primitif dengan masyarakat perdesaan dan masyarakat perkotaan. Semua itu saling bertolak belakang.

Akan tetapi, mari kita coba menariknya pada era kontemporer saat ini, apakah hal tersebut masih relevan atau justru sudah tidak relevan?

Tulisan ini akan menfokuskan pembahasanya pada masyarakat perkotaan, seperti anggapan orang bahwa kota adalah tempat mengundi nasib. Biasanya masyarakat desa berkata, “Saya ingin bekerja di kota untuk mengundi nasib.” Hal ini tidak masalah karena itu hak mereka. Namun apakah nanti hasilnya akan seperti yang mereka impikan atau tidak, itu tergantung keberuntungannya. Yang jelas, di daerah perkotaan, harus punya ilmu dan skill, lebih-lebih punya gelar sarjana; risiko kecil untuk gagal.

Wajah perkotaan dengan segala kepadatannya dan seluruh peristiwa yang dialami oleh setiap penduduknya menjadikan sebuah refleksi bagaimana bentuk karakteristik masyarakat kota tersebut. Sebagian orang menganggap bahwa masyarakat kota dianggap lebih maju bila dibandingkan dengan masyarakat desa yang biasanya digambarkan dengan kesederhanaannya, lebih-lebih masyarakat perkotaan didukung dengan berbagai fasilitas yang memadai seperti teknologi, informasi, dan komunikasi.

Untuk memahami masyarakat perkotaan, kita bisa melihat bagaimana ciri dan  karakteristik yang melekat pada masyarakat tersebut, begitu juga dengan masyarakat perdesaan. Ada tokoh besar dalam sosiologi yang tentunya tidak asing lagi bagi mereka mahasiswa jurusan sosiologi dan ilmu sosial, yaitu Emile Durkheim, Karl Marx, dan Weber. Mari kita bahas satu per satu tentang masyarakat kota dalam pandangan ketiga tokoh ini!

Pertama, masyarakat kota dalam pandangan Durkheim. Menurut Durkheim, masyarakat perkotaan itu tertuju pada solidaritas dan di mana solidaritas masyarakat perkotaan ini berbeda dengan masyarakat perdesaan. Perbedaan ini karena masyarakat kota memiliki solidaritas organik. Dalam masyarakat perkotaan, berlaku yang namanya hukum restitutif. Hukum ini menghendaki bagi para pelanggar untuk memberikan ganti rugi untuk kesejahteraan mereka.

Dari sini kita paham bahwa masyarakat kota memiliki solidaritas kolektif rendah, karena sebagai masyarakat urban atau pendatang. Berbeda dengan masyarakat perdesaan yang sebagai masyarakatnya merupakan penduduk asli dan memiliki ikatan solidaritas yang begitu kuat, atau dalam bahasa Durkheim disebut solidaritas mekanik, saling gotong royong dengan menerapkan slogan “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”.

Pekerjaan seberat apa pun, apabila dilakukan secara bersama-sama, akan terasa ringan. Inilah masyarakat kota dalam pandangan Emile Durkheim.

Selanjutnya, masyarakat kota dalam padangan Karl Marx. Menurut Marx, masyarakat kota masuk dalam struktur sosial dan lebih condong kepada sistem ekonomi. Maka dari itu, masyarakat dipandang sebagai struktur yang menderita sehingga ketegangan organisasi atau perkembangan dari adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.

Baca juga:

Bila kita tarik pada masyarakat perkotaan, maka dapat dibagi menjadi dua bagian masyarakat, yaitu masyarakat borjuis dan proletariat. Dalam status kedudukan, keduanya sangatlah berbeda. Borjuis dikatagorikan sebagai kaum kaya, sedangkan proletar dikatagorikan sebagai kaum miskin yang mana keduanya menjadi dua kelas utama dalam kedudukan sistem kapitalisme.

Bagi Marx, kota sebagai sebuah perserikatan yang dibentuk guna melindungi hak milik dan juga memperbanyak alat produksi dalam mempertahankan diri.

Selanjutnya, masyarakat kota menurut Weber. Ia menyebut masyarakat perkotaan dengan konsep yang dicetuskannya, yaitu the protestant etics and the spirit of capitalism. Ini merupakan suatu karya yang agung bagi Weber.

Jika melihat realitas yang terjadi pada zaman sekarang ini, maka dapat kita lihat bahwa masyarakat perkotaan memiliki semangat yang sama dengan konsep Weber. Dalam hal ini, mereka dibekali dengan semangat kapitalisme dalam bekerja agar memperoleh uang yang sebanyak banyaknya, mereka berlomba-lomba dalam mencari materi.

Bagi Max Weber, sebuah wilayah bisa dikatakan menjadi kota apabila penduduknya sebagian besar mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya lewat pasar. Hal tersebut mendapat dukungan dari konsep yang dibawa Weber yaitu mengenai etika protestan. Menurut Weber, masyarakat disebut urban society apabila penghuni setempat bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya lewat pasar lokal.

Berbagai dafinisi masyarakat perkotaan di atas menunjukkan bahwa perkotaan dinilai dari kondisi peradabannya yang berbeda dengan perdesaan. Jika Durkheim menafsirkan masyarakat kota melalui bentuk solidaritasnya, Marx melalui sistem kapitalismenya yang melahirkan istilah kaum borjuis dan proletar, dan Max Weber dengan konsep semangat kapitalisme, maka dari sinilah masyarakat dapat dipahami sebagai masyarakat pendatang atau urban society.

Tapi apabila dipikir-pikir, apakah pemikiran ketiga tokoh tersebut masih dirasa relevan dengan kondisi perkotaan saat ini yang makin membaur? Maka bisa dikembalikan pada sistem yang ada di dalamnya.

Sebagaimana gagasan Durkheim mengenai solidaritas. Saat ini, solidaritas tidak ditentukan oleh batas wilayah kota dan desa karena sering kali kita jumpai ada masyarakat yang memiliki solidaritas tinggi meskipun tinggal di kota. Begitu juga sebaliknya mengenai pemikiran Marx dan Weber tentang konsep kapitalisme dan semangat kapitalisme, semua ini tidak dapat dicocokkan dengan realitas sekarang karena masanya berubah, tentu saja sistem yang ada di masyarakat juga ikut berubah.

    Ferry Fitrianto