Matematika Sebaiknya Dihapus Saja, Ganti dengan Ini…

Matematika Sebaiknya Dihapus Saja, Ganti dengan Ini…
©The Week

Nalar Warga – Menghapus Matematika? Apa hanya untuk membuat semua orang senang?

Warganet berakun @AleamsBarra mendorong penghapusan Matematika di sekolah. Mata pelajaran yang sudah kadung termaknai sebagai keterampilan berhitung oleh masyarakat umum ini, menurutnya, harus kita hapus dan kita ganti dengan yang lain yang memberi persepsi berbeda.

“Siapa tahu kalau matematika dihapus dan diganti dengan yang lain, kesan yang ditangkap akan berbeda. Ganti dengan apa? Ganti dengan mata pelajaran Berpikir. Isinya apa? Ya beberapa di antaranya adalah materi yang ada di mata pelajaran Matematika,” kicau @AleamsBarra (18/2).

Meski isinya relatif sama, tetapi tujuannya terlihat jelas. Dalam pelajaran Berpikir, materi yang diajarkan bukanlah tujuan akhir sebagaimana Matematika.

“Materi yang diajarkan adalah sebagai jembatan untuk mengajarkan kemampuan berpikir.”

Dalam pelajaran Berpikir, jelas pemilik kanal YouTube Bermatematika ini, aspek algoritma untuk sampai kepada suatu jawaban bukan lagi jadi penekanan dalam materi Matematika. Untuk abad 19-20 mungkin masih relevan karena informasi belum berlimpah seperti sekarang.

“Ketika Anda ingin menyelesaikan persamaan kuadrat, apakah Anda perlu hafal rumus ABC? Kalau hafal itu mah bonus. Setiap siswa bisa ngecek di Google bunyi rumus ABC seperti apa.”

Karena ini mata pelajaran Berpikir, tidak masuk akal lagi untuk memberi 50 soal latihan, misalnya, untuk mencari akar persamaan kuadrat yang semuanya hanyalah memasukkan angka-angka ke rumus.

Baca juga:

“Di mana aspek berpikirnya?”

Melalui mata pelajaran Berpikir, ia berharap siswa terbiasa menghadapi masalah baru yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

“Kita gak bisa ngasih masalah baru ini berupa masalah sosial yang nyata kepada siswa karena pakar pun belum mendapatkan solusinya.”

Oleh karenanya, perlu koleksi masalah baru yang penyelesaiannya masih dalam jangkauan siswa.

“Nah, matematika adalah sumber yang murah dari masalah baru ini. Misalnya, setelah belajar rumus ABC, alih-alih memberi 50 soal latihan masuk-masukin angka ke rumus ABC, kita bisa memberi soal persamaan pangkat empat yang dengan melengkapi kuadrat bisa kita ubah menjadi persamaan kuadrat.”

Hal itu bergantung kematangan siswa bisa memberi hint atau tidak, bahwa ini bisa kita ubah ke persamaan kuadrat dan membiarkan siswa untuk berpikir, mengalami kebuntuan, dan mencoba lagi.

“Yang perlu kita hindari: setiap kali ada situasi khusus yang solusinya kita temukan, janganlah solusi/rumus yang baru ini kita beri figura dan kita jadikan rumus yang baru yang layak dihafalkan. Karena ini nanti akan mengembalikan siswa-siswa kita sebagai penghafal rumus.”

Solusinya adalah memberi soal yang sedikit baru yang dengan sedikit langkah siswa bisa menyelesaikannya dengan pengetahuan menyelesaikan persoalan yang lama.

Halaman selanjutnya >>>
    Warganet