Materialisme-Dialektis, Konsep-Metode Filsafat Marx

Materialisme-Dialektis, Konsep-Metode Filsafat Marx
Ilustrasi: militanindonesia.org

Materialisme sebagai konsepsi filsafat Marx, bermakna bahwa keseluruhan objek yang menyusun realitas adalah efek dari aktivitas subjek. Jadi, tak ada yang benar-benar natural dalam realitas.

“Wacana kiri” selalu saja menarik perhatian yang tak sedikit. Terutama di bulan-bulan September dan Oktober, bulan yang menjadi saksi tragedi maut yang melibatkan anggota/simpatisan PKI dengan aparat beserta ormas di Indonesia.

Melalui tulisan ini, saya tidak akan menyoal lebih jauh tentang tragedi besar yang pernah menimpa bangsa kita itu. Hal ini lebih disebabkan oleh banyaknya kesimpangsiuran yang masih belum mendapat benang merah yang bisa menjadi solusi atasnya.

Hematnya, saya hanya akan mengulas soal materialisme dialektis sebagai sebuah pengantar untuk mengenal konsep dan metode filsafat Karl Marx, yang dalam perjalanannya acap kali mendapat perhatian yang kurang proporsional.

Materialisme sebagai Asas

Adalah lazim untuk menyebut bahwa materialisme merupakan konsep filsafat dari seorang filsuf abad modern bernama lengkap Karl Heinrich Marx—lahir di Trier, Prusia, Jerman, 5 Mei 1818 dan meninggal di London, Inggris, 14 Maret 18 pada umur 64 tahun. Meski di zaman Yunani Kuno, bahkan di awal munculnya filsafat dalam pemikiran para filsuf alam di mana materi (ihwal indrawi) dimengerti sebagai hakikat realitas, tetapi munculnya filsafat Marx, terutama soal kritiknya atas Feuerbach, melahirkan pengertian baru yang lebih progresif dari materialisme.

Di mata Marx, materialisme melulu hanya diarahkan ke dalam pemahaman materi sebagai objek indrawi semata. Padahal, objek material juga adalah hasil dari aktivitas subjektif manusia: karsa, kerja, dan karya. Inilah yang Marx sebut sebagai “materialisme subjektif”.

Menurut Marx, sejarah umat manusia (sejak zaman primitif) dibentuk oleh faktor-faktor kebendaan. Awal sejarah ini dimulai dari adanya kepemilikan pribadi. Ini yang kemudian menimbulkan pertarungan untuk memperebutkan materi atau kekayaan ekonomi.

Ya, materialisme adalah paham serba-benda. Bertitik tolak dari asumsi itu, Marx meyakini bahwa tahap-tahap perkembangan sejarah ditentukan oleh kebendaan material. Bentuk dan kekuatan produksi material tidak saja menentukan proses perkembangan dan hubungan-hubungan sosial manusia, serta formasi politik, tetapi juga pembagian kelas-kelas sosial.

Marx berpendapat bahwa hubungan-hubungan sosial sangat erat kaitannya dengan kekuatan-kekuatan produksi baru manusia, yang selanjutnya akan mengubah bentuk-bentuk atau cara produksi mereka.

Jadi, materi, baik dalam bentuk modal kekuatan-kekuatan maupun alat-alat produksi, merupakan basis-struktur. Adapun kehidupan sosial, politik, filsafat, agama, seni, dan negara merupakan supra-struktur.

Maka, terlihat jelas makna materialisme ini merupakan sesuatu yang baru dalam pemikiran kefilsafatan di zamannya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan pula oleh Etienne Baliber, “Selama materialisme tampak hanya sebagai esensi realitas, maka materialisme tak akan lebih dari sekadar idealisme terpasung.

Singkat kata, materialisme sebagai konsepsi filsafat Marx, bermakna bahwa keseluruhan objek yang menyusun realitas adalah efek dari aktivitas subjek. Jadi, tak ada yang benar-benar natural dalam realitas. Semuanya merupakan konfigurasi aktivitas manusia sebagai subjek. Hal inilah yang selanjutnya disebut sebagai “kondisi materialis”.

Dialektika sebagai Metode

Sebagai konsepsi filsafat, dialektika berposisi sebagai sebuah metode atau pendekatan—salah satu cara berpikir khas dalam kefilsafatan.

Sudah lazim dalam sejarah pemikiran bahwa “dialektika” bukanlah istilah yang pertama kali muncul dalam alam filsafat seorang Marx. Sejak tampilnya Socrates sebagai pengkritik ulung kaum Sofis, pemikiran filsafat senantiasa dicirikan dengan sifat dialektis.

Dari akar katanya, dialektika (Yunani: dealegesthai) berarti “dialog”. Hal ini kemudian berlanjut ke Hegel. Dialektika dipakai guna menunjukkan dinamika internal dari realitas dan pikiran manusia.

Dalam pandangan Socrates, seperti diungkap dari muridnya bernama Plato, dialektika menjadi piranti untuk mencari pengetahuan terdalam dari seorang manusia. Metode khas yang dipakai Socrates ini kelak dikenal dengan sebutan “teori bidan”. Seperti terlihat, cara kerja metode ini layaknya seorang bidan yang hanya berperan untuk membantu si ibu melahirkan bayinya, tanpa punya kuasa yang melebihi dari itu.

Adapun menurut Hegel, keseluruhan kenyataan yang ia pahami sebagai manifestasi-diri Roh, senantiasa terhubung satu sama lain dalam jejalin yang tak putus. “Yang Ada” hanya dapat dinyatakan sejauh ada juga “Yang Tidak Ada”. “Yang Ada” dapat dimengerti jika ia koeksis dengan “Ketiadaan”. Inilah yang Hegel sebut sebagai “relasionalisme internal”, yang kemudian menjadi sumbu metode filsafat Marx yang dikenal dengan dialektika.

Seperti sejatinya seorang pembelajar, Marx juga tampil sebagai “pembangkang”, murid yang tak setia pada gurunya. Ketika Hegel membawa dialektika dalam rupa yang abstrak-idealis, Marx melakukannya dan mencirikan dialektika dengan sifat progresif-revolusioner. Perbedaan keduanya ini sangat mencolok, baik secara definitif maupun praktik.

Bagi Hegel, proses pemikiran, yang ia transformasikan menjadi subjek independen di bawa nama “idea”, merupakan pencipta dunia riil. Dan dunia riil hanyalah penampakan eksternal dari idea.

Sebaliknya, bagi Marx, yang ideal lain dari dunia material. Dunia ini kemudian direfleksikan dalam pikiran manusia dan diterjemahkan ke dalam bentuk pemikiran.

Sebagai kesimpulan, materialisme dialektis adalah cara berpikir Marx (khususnya kaum Marxis) tentang realitas. Realitas ini adalah efek dari mekanisme perjuangan kelas. Demikianlah Marx dengan segala konsepsi filsafat dan metode berpikirnya.

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Mimin NP 40 Articles
Editor Nalar Politik