Matinya Rasionalisme di Tengah Kultur Utilitarian

Matinya Rasionalisme di Tengah Kultur Utilitarian
©The Great Courses Daily

Berpikir rasional adalah dasar bagi seseorang untuk berpendapat soal masalah-masalah publik. Rasional artinya upaya untuk mencari kebenaran melalui pembuktian, logika, dan analisis terhadap fakta. Akan tetapi, pikiran-pikiran rasional itu dapat dibatalkan oleh suara orang banyak, yang saya sebut dengan kultur utilitarian.

Utilitarian adalah gerakan etis bahwa apa yang baik adalah apa yang paling banyak memberi manfaat yang pertama kali diucapkan oleh Jeremy Bentham. Konsep utilitarian saat ini juga dipakai dalam organisasi atau kelompok, institusi sosial bahkan dalam kehidupan demokrasi.

Namun konsep tentang utilitarian memiliki kekurangan misalnya munculnya orang-orang dungu yang penuh karisma, sehingga mampu menggerakkan massa untuk menyingkirkan pikiran-pikiran rasional yang dianggap sebagai lawan. Hal ini dapat berakibat buruk pada ilmu pengetahuan maupun perumusan kebijakan. Karena hanya bergantung pada keputusan massa mayoritas dan dasar pikiran rasional bukanlah syarat utama.

Masalah-masalah dalam kultur utilitarian dapat kita lihat dalam perlemen kita hari ini. Dengan partai oposisi kurang dari 30%, jika kita pakai teori utilitarian, angka 30% itu tak ada artinya jika pada akhirnya dibatalkan oleh suara mayoritas. Masalah kultur utilitarian bukan hanya ada pada institusi institusi negara melainkan dalam organisasi sekuler yang ada pada masyarakat, yang mungkin kita pernah mengalaminya.

Pernahkah argumen Anda ditolak karena desakan mayoritas? Pernahkah Anda mengalami dampak buruk dari keputusan mayoritas? Atau bahkan mayoritas itu sendiri yang mengalami dampak buruknya? Itu berarti keputusan itu tidak rasional alias dungu.

Sudah saatnya kita beralih dari budaya semacam itu. Kita harus beralih pada suatu sistem yang acuan kebenarannya bukan hanya didasarkan pada jumlah massa, tetapi bertumpu pada kebenaran yang didasarkan oleh pikiran rasional. Setiap nilai suatu pendapat tak bisa diputuskan oleh jumlah mayoritas, melainkan harus diperdebatkan secara rasional sehingga ia akan berdialektika.

Setiap suara dari masing-masing individu harus diperhitungkan dan dinilai pikirannya; makin banyaknya suara makin sering ia akan berdialektika, makin sering ia memproduksi kebenaran. Tak seperti konsep utilitarian yang cenderung terpolarisasi atau bahkan berpikir monolitik.

Baca juga:
    Daniel Balirante
    Latest posts by Daniel Balirante (see all)