Mau Demo? Demolah!

Mau Demo? Demolah!
©Twitter

Nalar Warga – Mau Demo? Demolah! Lakukanlah hak konstitusional itu. Gak ada yang salah dan maka gak ada juga yang boleh menilai itu sebagai kegiatan negatif.

Bagus-bagus proporsional. Bagus-bagus, hal baik dan cerdas itu kelak bisa dan dapat disampaikan pada rakyat agar mendapat dukungan, misalnya. Itu penting sebagai esensi sebuah demo. Dia membawa dampak bukan sempak dan maka jorok narasi tetap harus dijaga agar gak keluar dari sempak itu.

Mereka yang merasa terzalimi karena secara sepihak pemerintah menaikkan harga BBM boleh tidak setuju. Boleh tidak sepakat dan maka boleh protes. Proteslah, karena ada terlalu banyak hal yang masih jauh dari sempurna.

Tanyakan pada pemerintah kenapa subsidi untuk rakyat bisa cepat dihapus dan konon dengan narasi demi hal baik bagi rakyatnya agar tak selalu tergantung. Tapi ketika itu, bagi aparaturnya, subsidi masih dibiarkan merajalela.

Baju bagus, jam tangan bagus sampai cincin sangat bagus dipakai oleh penyidik gak mungkin tanpa kebijakan “subsidi”, kan?

Ini jenis subsidi yang berbeda. Subsidi kewenangan yang mbablas sehingga tak mudah lagi dideteksi. Anehnya, anggota DPR yang notabene wakil rakyat justru membela dan ngatain rakyat yang diwakilinya sebagai nyinyir.

Tanya pemerintah, berani gak cabut juga subsidi seperti itu? Paling tidak, bila benar bisa, kisah Sambo gak jadi mblandang sampai langit ke-7 dan gak jatuh-jatuh. Ada terlalu banyak hal tak masuk akal terjadi dan kita tak lagi punya daya.

Itu terkait siapa dikontrol dan siapa yang mengontrol yang sudah tidak berjalan.

Baca juga:

Tanya sekalian kenapa hal sepele terkait banyak fasilitas (subsidi) bagi anggota dewan hingga hak pensiunnya justru terlalu sulit dicabut dibanding mencabut subsidi bagi rakyatnya, padahal mereka cuma wakilnya rakyat, kan?

Ya, rakyat yang waras juga tahu bahwa subsidi berlebihan memang tak baik, baik bagi negara maupun rakyatnya, tapi itu harus dibuat clear. Jangan hanya narasi sepihak. Ungkapkanlah keluh kesahmu dan sodorkan dengan bermartabat.

Paling tidak, begitulah seharusnya narasi protes dalam sebuah demo memiliki relevansi yang langsung terkait. Kebijakan seolah berwarna hitam harus dikritisi dengan narasi benar mencari warna putih. Hal terkait atas, cari esensi benar dari makna bawah, jangan lari-lari.

Jangan kaya HNW, gaya narasi protesnya setinggi langit, kaya beneran tau, eh, larinya ke IKN dan hingga infrastruktur. Itu pura-pura dalam perahu Tong…!! Eh kura-kura ya (temenku di Glodok bilangnya kuya.)

*Leonita_Lestari

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)