Mbah Wali Gus Dur Jadi Rebutan

Mbah Wali Gus Dur Jadi Rebutan
Ilustrasi: Shuniyya Ruhama, Timeline Photos

Menyaksikan bagaimana Mbah Wali Gus Dur beserta keluarga dan pecinta beliau menjadi rebutan dari kubu Jokowi-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno adalah fenomena yang menarik.

Bukan karena bagaimana dan siapa Mbah Wali Gus Dur. Namun, ketika salah satu alasannya ialah karena menghormati pemimpin negeri ini yang dirasa lebih sepuh dan lebih senior.

Jika memang karena menghormati yang lebih senior, mengapa hingga detik ini tidak ada gegap gempita kedua kubu gembar-gembor merapat ke Bapak BJ Habibie (Presiden RI 1998-1999)? Apakah juga kubu Pak Prabowo berkenan sowan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri (Presiden RI 2001-2004)? Dan apakah juga kubu Pak Jokowi menyempatkan waktu sowan ke Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI 2004-2014)?

Lalu kedua kubu melakukan klaim telah direstui oleh para sesepuh yang punya segudang pengalaman menjadi nahkoda negeri ini? Dan setiap Presiden telah melakukan yang terbaik.

Sementara itu, secara fisik, Mbah Wali Gus Dur sudah wafat sebagaimana Pak Harto juga wafat. Bedanya, Mbah Wali Gus Dur meninggalkan nilai-nilai yang begitu dipegang dan dilanjutkan oleh para pecinta beliau.

Inilah yang tampaknya menggairahkan kedua belah pihak. Sehingga masing-masing melakukan klaim paling dekat dengan Mbah Wali dan paling berhak mendapat suara para pecinta beliau.

Dari sinilah kita wajib tetap bersikap rasional. Siapa pun yang akan memimpin bangsa ini ke depannya, semoga tetap menjadi yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

Kecintaan kita kepada Mbah Wali adalah kehormatan bagi kita semua. Jangan sampai malah menjatuhkan kita dalam memperkeruh masa depan Indonesia tercinta.

Mbah Wali Gus Dur telah meninggalkan 9 Nilai Gus Dur, yakni:

  1. Ketauhidan
  2. Kemanusiaan
  3. Keadilan
  4. Kesetaraan
  5. Pembebasan
  6. Kesederhanaan
  7. Persaudaraan
  8. Kekesatriaan
  9. Kearifan Lokal

Harus diakui, kedua belah pihak tidak ada yang sempurna memilikinya. Namun, bisa kita lihat lewat rekam jejak yang telah mereka lakukan di masa sebelum masa kampanye ini. Bukan apa yang mereka janjikan.

Sebab, apa yang telah mereka lakukan, itulah sesungguhnya mereka. Sedangkan apa yang mereka janjikan saat kampanye bisa merupakan refleksi dari apa yang telah dan akan dilakukan. Bisa juga hanya pepesan kosong yang akan dibuang begitu saja begitu menang.

Lihatlah pula siapa saja pendukungnya, apa yang telah mereka lakukan selama ini, dan bagaimana sinkronisasi pendukung tersebut dengan 9 nilai Mbah Wali Gus Dur.

Dari sana bisa kita lihat pula siapa yang yang lebih sinkron. Mudah sekali, bukan? Selamat menjadi pecinta Mbah Wali Gus Dur yang cerdas. [sumber]

Shuniyya Ruhama
Shuniyya Ruhama 14 Articles
Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri-Kendal