Media Sosial Itu Identitas

Media Sosial Itu Identitas
Ilustrasi: which-50.com

Nalar WargaSaya ingin mengisi pagi ini dengan catatan ringkas tentang macam-macam media sosial yang saya gunakan. Saya gak tahu kenapa keinginan ini tiba-tiba muncul. Yang jelas, pengalaman pribadi yang ditulis dengan santai.

Ada beberapa macam media sosial yang masih saya gunakan sampai saat ini, meski beberapa orang yang saya kenal sudah lama meninggalkannya. Pertama, Facebook. Saya sempat berpaling dari Facebook dan hanya sekali-kali saja mengunjunginya karena ada tuntutan pekerjaan.

Namun, setelah Facebook berbenah diri dan terus menyediakan fitur-fitur menarik, saya kembali tergoda untuk pamer. Saya gunakan kata “pamer” karena, bagi saya, Facebook adalah ruang pamer.

Setiap orang berhak “memamerkan” apa aktivitasnya, apa yang ada di pikirannya, dan sebagainya. Ini wajar karena setiap manusia memiliki ego yang membuat dirinya cenderung ingin dikenal.

Kedua, Twitter. Saya mulai menggunakan media sosial tersebut pada Januari 2011 di saat teman-teman kongkow sudah lama asyik menggunakannya. Mereka terus membujuk agar saya membuat akun Twitter.

Akhirnya dibuatlah meski akses saya terbatas karena belum memiliki ponsel pintar atau gawai. Saya pun aktif berkicau dengan twit-twit yang gak “penting-penting amat”. Bahkan, seorang kawan sempat berkelakar di kantor, “Dida aktivis Twitter.”

Saya dan mungkin teman yang lain memang keasyikan dan terlena. Karena itu, kita lebih sering muntah di permukaan daripada menyelam di kedalaman. Apalagi, linimasa Twitter begitu cepat dan fiturnya gak terlalu ribet seperti sekarang.

Twitter sekarang menyediakan kolom yang bisa diisi lebih dari 140 karakter. Bagi saya, itu gak asyik karena kita gak bisa lagi berkreativitas menuliskan pikiran dengan menghemat kata. Tapi, dibanding Facebook, Twitter masih menjadi media sosial di mana isu-isu terkini berkembang.

Karena itu, saya sering berasumsi, “Kalau kamu mau tahu aktivitas temanmu, buka Facebook. Tapi, kalau kamu mau tahu isu terkini, buka Twitter.” Ini tentunya didasari sikap bijak dalam bermedsos. Sehingga, saya hanya mengikuti orang-orang yang menarik untuk diikuti.

Ketiga, Instagram. Saya orang yang gak mudah tertarik kepada sesuatu. Tapi, seorang teman menyarankan saya membuat akun Instagram karena ia tahu beberapa koleksi foto saya di Facebook. “Buat akun Instagram, Kang,” katanya.

Akhirnya dibuatlah meski foto-foto yang diambil seadanya melalui ponsel. Seperti Twitter, saya hanya mengikuti orang-orang yang memang menarik untuk diikuti; dan mungkin karena itu, saya gak pernah peduli pengikut.

Instagram menarik. Setiap kali berkunjung, saya selalu teringat sebuah peribahasa Cina, “Sebuah foto memiliki seribu kata.” Ya, foto-foto saya juga gak “bagus-bagus amat” sih. Tapi, saya ingin setiap orang mendapatkan sesuatu dari apa yang saya bagikan. Sok banget, ya?

Keempat, Path. Media sosial ini sempat saya gunakan meski gak lama. Alasannya, tidak ada sesuatu yang menarik di sana. Memang, pengguna bisa melihat siapa saja yang melihat muatan yang ia bagikan. Tapi, saya tetap gak tertarik. Itu saja tentang Path.

Dari celoteh yang asal tebersit ini, mungkin kita perlu bijak bermedia sosial. Sebab, media sosial itu seperti kartu nama atau identitas. Buatlah yang bagus, buat orang lain terkesan. Aduh, kok saya jadi sok bijak?

*Dida Darul Ulum

___________________

Artikel Terkait:
    Warganet