Megaproyek Arab Saudi – Israel, Sebuah Kamuflase Politik

Megaproyek Arab Saudi - Israel, Sebuah Kamuflase Politik
Ilustrasi kerja sama Arab Saudi - Israel

Akhir-akhir ini, sebagian masyarakat Indonesia masih mendambakan laku kehidupan seperti di Arab Saudi, baik secara struktur maupun kultur. Konsep khilafah adalah kepemimpinan yang mereka inginkan. Alquran mereka sebut sebagai satu-satunya pedoman dalam ketatanegaraan.

Bahkan, untuk pengobatan sekalipun, mereka berharap agar kotoran unta (rata-rata impor dari Australia) didatangkan. Dan tentu saja masih banyak lagi laku ke-arab-araban yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Bagaimana jadinya jika tulisan ini menyuguhkan realitas adanya kerja sama antara Arab Saudi dengan Israel? Apakah laku di atas masih mereka praktikkan? Entahlah.

Tanpa bermaksud menuding, saya sendiri masih bingung bagaimana sebagian masyarakat Indonesia memandang Arab Saudi. Terkadang mereka berpikir Arab adalah Islam. Ada juga yang beranggapan Arab sebagai negara. Juga ada yang menyebut Arab sebagai budaya.

Bolehlah memahami Arab sesuka-suka. Tetapi, kita mesti menentukan sikap atas apa yang telah mereka perbuat.

Beberapa waktu lalu, tersiar kabar adanya kerja sama antara Arab Saudi dengan Israel. Berita tersebut memenuhi laman depan tiap media di belahan dunia. Keduanya akan merealisasikan megaproyek pembangunan jalur rel kereta api. Dengan menelan biaya 4,5 USD, Arab Saudi – Israel akan terhubung.  sebuah kamuflase politik paling mutakhir dimainkan di sini.

Proyek yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari (2010-2015) ini diklaim Menteri Transportasi Israel, Yisrael Katz, sebagai jalur perdamaian. Selain membuka jalur perdagangan baru bagi negara-negara teluk, jalur ini juga akan berfungsi untuk mendistribusikan barang dan orang. Namun, untuk kemulusan jalannya proyek tersebut, memang masih membutuhkan persetujuan negara seperti  Kuwait, Bahrain, Irak, Oman, Qatar, Arab Saudi.

Mesranya hubungan kedua negara ini sebenarnya telah tercium sejak beratus-ratus tahun silam. Masing-masing dari kita dapat mengulasnya dalam sejarah Ottoman.

Yang paling kentara bisa kita lihat pada acara Extraordinary Summit Istanbul beberapa waktu lalu. Tatkala Presiden Turki mengajak negara-negara OKI untuk melawan klaim atas negara Yerussalem, dengan menggelora, justru perwakilan Arab Saudi Yousef bin Ahmad Al-Othaimeen menyikapinya dengan biasa-biasa saja.

Setelahnya, muncul pula penawaran Arab Saudi untuk menjadikan kota Abu Dis sebagai ibu kota Palestina yang baru. Maka menambah kuatlah kecurigaan selama ini. Bagaimana tidak, langkah tersebut dianggap lebih moderat ketimbang mengecam klaim Yerussalem yang semula dilontarkan bapak Trump.

Tidak cukup sampai di situ, Arab Saudi dikatakan memiliki suatu prinsip bahwa normalisasi hubungan diplomasi negara Arab dengan Israel hanya dapat terjadi jika ada kejelasan nasib Palestina. Akan tetapi, nasib yang seperti apa, itu tidak pernah terpeta dengan jelas. Barangkali Arab Saudi telah merumuskan defenisi nasib bagi Palestina, dan defenisi tersebut tidak pernah saya atau masyarakat Indonesia ketahui.

Bagaimana tidak, melihat kondisi Palestina yang sampai saat ini masih terkungkung oleh negara Israel, justru Arab Saudi begitu mesranya menjalin kerja sama yang kemudian mampu menumbuh kembangkan perekonomian negara tersebut. Kita sama-sama tahu, keberlangsungan perang, yang barangkali disebut memperjuangkan hak, sangat membutuhkan sokongan biaya yang cukup besar. Bersandar pada kerja sama keduanya, Israel telah memerangi Palestina atas dukungan Arab Saudi.

Masih gampang bagi kita untuk menebak kasus yang persis di hari mendatang. Di antaranya, beredar kabar Arab Saudi yang berkeinginan untuk meminimalisir adiksinya terhadap sumber daya minyak yang telah menumbuh-kembangkan negara tersebut selama ini. Sembari itu, kita dapat melihat telah ditemukannya sumber daya gas alam di negara Israel, dan Amerika sudah nimbrung di dalamnya. Apakah Arab Saudi tidak tertarik?

Ironisnya lagi, terhadap hubungan kerja sama yang telah dibangun kedua negara ini, tentunya melahirkan timbal-balik. Manakala Israel mampu memberikan kebutuhan Arab di segala lini, saat itu pula Arab harus mampu mendorong kepentingan Israel di kancah lokal maupun internasional—mulanya mempengaruhi negara semenanjung Arab, kemudian memenangkan Yerussalem.

Membicarakan kedua negara ini tidaklah mudah, juga tidak sesederhana tulisan ini. Pembahasannya melintasi negara, agama, dan budaya yang relatif berbeda.

Sekelumit yang saya ketahui, negara Arab melalui kerja samanya telah membuka kran pengakuan internasional atas keberadaan Israel. Kemungkinan status Israel di kancah internasional akan kian mantap.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? Lebih pentingkah memperdebatkan jenggot dan serban di suasana negara Palestina yang sedang dan akan terancam?

Saya teringat dengan celotehan yang dilontar bapak Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu. Saat bertemu dengan pemimpin negara Islam di Konferensi Organisasi Kerja Sama Islam, para pemimpin tersebut berujar saran yang cukup menggelitiknya. Bunyinya begini:

Generasi muda Indonesia yang dikirim ke Timur Tengah sebaiknya belajar ekonomi, perdagangan, atau perminyakan. Sebaliknya, generasi muda Timur Tengah (sebaiknya) belajar mengenai Islam ke Indonesia.

Bukan hanya bapak presiden saja yang merasa tergelitik, saya sendiri merasakan hal serupa, melihat dan mendengarnya. Begitu sinisnya Arab Saudi terhadap Iran, sehingga lebih memilih Iran untuk dijadikan musuh ketimbang Israel, hanya gara-gara berbeda pemahaman antara Syiah dengan Wahabi. Masyarakat Indonesia harusnya mampu belajar dari situasi ini.

___________________

Artikel Terkait:
    Latest posts by Abu Bakar (see all)