Melihat Punggung Tuhan

Melihat Punggung Tuhan
Ilustrasi

Dalam kehidupan beriman, kita tidak akan pernah bisa melihat Tuhan seluruhnya. Kalaupun terlihat, yang terlihat hanya bagian punggung Tuhan.

Nalar Warga – Seorang pendeta yang jelita, tadi pagi, seperti sudah 10 hari terakhir ini dia lakukan, mengirim lewat WA sebuah mem ucapan selamat pagi ke saya.

Gambar mem tersebut bagus. Tertulis pada mem itu kata-kata Inggris “Good Morning” dan sekian baris lain kata-kata indah. Dalam bahasa Indonesia, bunyinya begini:

Tuhan itu ada:
di atasmu untuk memberkatimu
di bawahmu untuk menopangmu
di kiri kananmu untuk mengawalmu
di belakangmu untuk mendorongmu maju
di depanmu untuk memimpin

Lalu saya jawab: Thank you. Tapi Tuhan dengan kita juga main petak umpet. Tak kelihatan di mana pun walau ada.

Dia menjawab: Wah, itu pengalaman sendiri ya?

Saya jawab lagi: Kita semua, Anda dan saya dan orang lain, sedang bermain petak umpet dengan Tuhan. Atau lebih tepat: Tuhan sedang bermain petak umpet dengan kita. Ini ketetapan jagat raya. Abadi. Tanpa akhir.

Bermain terus dengan ceria, lari-larian dengan bebas, sekaligus bisa melelahkan, bak kehabisan tenaga, keduanya.

Segera sang pendeta manis itu bertanya: Kenapa tidak deal dengan Tuhan untuk bisa bertemu, saling tatap, saling genggam habis, dan saling merangkul?

Jawab saya pendek saja: Dua pihak tidak seimbang.

Sang pendeta cantik itu penasaran bertanya: Duuh, kok gitu? Kesimpulannya apa dong?

Saya jawab lagi dengan kata-kata ini: Dalam kehidupan beriman, kita tidak akan pernah bisa melihat Tuhan seluruhnya.

Kalaupun terlihat, yang terlihat hanya bagian punggung belakang Tuhan. Tuhan bergerak di depan kita menuju masa depan. Kita cuma bisa lihat bagian punggungnya.

Kita harus berlari maju, mengejar Tuhan, jika mau menyentuh Tuhan, seperti dalam permainan petak umpet. Kita yakin kita bisa mengejar dan memegang Tuhan. Untuk itu, tidak mungkin kita berlari mundur. Tapi, begitu sudah dekat, dan kita mau sentuh dan pegang, Tuhan selalu mengelak.

Tuhan tahu-tahu cepat bersembunyi lagi di balik gunungan bebatuan yang jauh, atau di belakangan kumpulan batang-batang pohon besar di dalam hutan tak bertuan, atau Tuhan melompat dan menyelam ke dalam danau tanpa dasar dan tanpa tepi.

Tuhan itu elusif. Selalu ngeles jika mau digenggam erat. Tuhan hanya bisa dilihat, tidak bisa dicengkeram, sebagian demi sebagian jika kita maju, berlari maju, ke depan, tidak bisa berlari mundur. Jika kita berlari mundur, kita akan pasti keserimpet lalu terjengkang jatuh. Kita terluka. Makin jauh dari punggung Tuhan.

Lalu sang pendeta jelita yang suka berkomunikasi via WA ke saya itu menjawab saya dengan mengirim sebuah emotikon wajah kera yang menutup dua matanya dengan dua belah tangannya. Entah kenapa dia kirim emotikon itu. Mungkin dia tidak mau baca jawaban terakhir saya itu yang dia sudah baca.

Selamat bermain petak umpet.

*Ioanes Rakhmat

___________________

Artikel Terkait: