Melihat Wajah Pendidikan Indonesia di Film Taare Zameen Par

Melihat Wajah Pendidikan Indonesia di Film Taare Zameen Par
©Depoedu

Taare Zameen Par menceritakan seorang anak yang memiliki kesulitan dalam belajar, bahkan dianggap memiliki keterbelakangan mental bisa menjadi seorang anak yang sangat membanggakan.

Pendidikan bukan hanya persoalan bagaimana cara dan proses untuk mencerdaskan seorang anak, agar ketika seorang anak memiliki kecerdasan yang lebih maka kehidupan di masa depannya akan terjamin. Hal ini sudah menjadi doktrin umum setiap orang tak terkecuali dengan orang tua maupun guru. Memaksakan agar seorang anak memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan yang lain.

Padahal dalam kepercayaan sebagai orang Islam seorang anak lahir itu sudah membawa potensi masing-masing, tinggal orang tua dan lingkungan yang mengembangkan potensi tersebut.

Dalam sebuah film Bollywod yang berjudul Taare Zameen Par, film yang dirilis tahun 21 Desember 2007 ini sudah beberapa kali mendaptkana penghargaan di antaranya Filmfare Awards 2008, star screen Awards 2008, Shantaram Awards 2008, dan sebagainya (idntimes.com). Film ini diperankan oleh Darsheel Safary, Amir Khan dan Tisca Chopra dalam film tersebut menceritakan seorang anak yang memiliki kesulitan dalam belajar, bahkan dianggap memiliki keterbelakangan mental bisa menjadi seorang anak yang sangat membanggakan.

Darsheel Safary yang memerankan anak tersebut bernama Ishaan Nandkishore Awasthi  beberapa kali tidak naik kelas, karena tidak bisa membaca dan menulis serta memiliki nilai yang buruk sekali. Sehingga akibatnya semua guru yang di sekolah itu, setiap hari pasti menghukum anak tersebut. Apa pun alasannya pasti anak itu dianggap bodoh dan tidak memiliki apa-apa.

Orang tua yang juga mendampingi anak di rumah tidak mengetahui akan perkembangan anaknya. Mereka hanya mengetahui anaknya harus memiliki nilai yang bagus serta mampu menunjukkan kelebihan yang ia miliki.

Kemampuan seorang guru melihat dan mengontrol muridnya sangat dibutuhkan. Karena begitu banyaknya siswa sehingga seorang guru tidak mampu memberikan perhatian khusus pada satu siswa saja.

Dalam film tersebut, guru-guru tersebut tidak mampu melihat dan mengontrol siswanya. Ishaan yang memiliki kesulitan membaca dan menulis menjadi barang langganan hukuman bagi setiap guru. Laporan perkembangan Ishaan selama sekolah tidak pernah mengalami perkembangan sama sekali.

Lantas siapa yang akan disalahkan dari masalah ini?

Kepala sekolah yang memiliki wewenang di sekolah tersebut berkesimpulan bahwa Ishaan memiliki keterbelakangan mental yang dalam pendidikan ia harus membutuhkan pendidikan khusus. Keputusan kepala sekolah tersebut menjadikan dirinya dikirim ke sekolah yang siswanya diasramakan.

Namun kasusnya tetap saja sama, guru-guru di tempat itu menganggap Ishaan bodoh dan memiliki keterbelakngan mental. Padahal Ishaan yang memiliki bakat melukis salaam disekolah awalnya, di sekolah barunya Ihsaan tidak lagi melukis karena Ihsan selalu dimarahi dan ditertawakan oleh teman dan gurunya sehingga Ihsaan merasa tidak bisa apa-apa.

Tiba ia bertemu dengan seorang guru seni yang bernama Ram Shankar Nikumbh yang diperankan oleh Amir Khan. Ram Shankar adalah seorang guru yang juga mengajar di sekolah SLB.

Ram Shankar pertama kali bertemu Ihsaan di dalam kelas saat ia memberikan tugas untuk melukis untuk semua siswa. Namun Ihsaan tidak mengerjakaannya, setelah itu Ram Shankar melihat Ihsaan sedang dihukum oleh guru lain. Sehingga membuat menjadi penasaran.

Setelah menyelediki semua tentang Ihsaan, maka ia berkesimpulan bahwa Ihsaan mengalami Disleksia penderita ini memiliki gangguan dalam proses belajar dengan ciri kesulitan, membaca, menulis atau mengeja. Ram Shankar yang mengetahui itu mencoba meminta kepada ke kepala sekolah untuk diberikan perhatian khusus untuk mengajarnya. Karena tidaklah mungkin mengajar siswa yang banyaknya 50 lebih dalam satu kelas dengan memberikan perhatian khusus bagi yang memiliki masalah, dan ini banyak ditemukan di sekolah-sekolah kita.

Dan pada akhirnya dengan sungguh-sungguh dengan kesabaran Ram Shankar berhasil mengubah Ihsaan yang tidak tau membaca dan menulis dan bahkan tidak mau lagi melukis menjadi seorang anak yang memiliki kelebihan yang luar biasa. Bahkan saat Ram Shankar membuat event melukis seluruh siswa di sekolah itu, bertujuan untuk memberikan panggung kepada Ihsaan agar ia menunjukkan kelebihannya yang ia miliki yang selama ini terpendam dan guru-guru dan siswa yang lain tidak pernah bisa melihat itu.

Kebahagiaan serta rasa haru menyelimuti perkembangan Ihsaan orang tua yang juga menganggap anaknya nakal, tidak memiliki kecerdasaan dan sebagainya menjadi tidak percaya bahwa anaknya memiliki kelebihan yang luar biasa.

Maka sebenarnya pendidikan itu tergantung kualitas seorang pendidik. Bagaimana menghasilkan siswa yang bukan hanya aspek kognitifnya yang diutamakan, melainkan ada aspek lain yang perlu di kembangkan seperti di film Taare Zameen Par.

Bagaimana mungkin pendidik akan benar-benar fokus dalam mengcerdaskan siswa jika siswa yang begitu banyak dalam kelas mampu ia berikan perhatian satu per satu?

Sepertinya pendidikan kita harus membutuhkan seorang Ram Shankar yang benar-benar meminta waktu untuk mendidik seorang anak yang kelak menjadi inspirasi bagi semua orang. Bukan seorang guru yang menemukan kasus seperti Ihsaan itu menganggapnya bodoh dan memiliki keterbelakangan mental.

Asman