Melupakan 98

Melupakan 98
©Merdeka

Melihat kondisi akhir-akhir ini di mana ada banyak orang yang mendaku diri sebagai aktivis 98 muncul dan mengeluarkan pernyataan yang bermacam-macam tentang gelombang aksi mahasiswa 2020. Di antara berbagai pernyataan yang muncul ke public, pernyataan mereka selalu mempunyai warna yang sama, yaitu mengulang kisah kejayaan masa lalu sekaligus membanding-bandingkan gerakan mahasiswa tahun 1998 dengan gerakan mahasiswa 2020.

Namun hal ini bukanlah yang pertama karena dalam era pemerintahan siapa pun setelah reformasi mereka selalu mengklaim diri yang paling berjasa dalam suatu peristiwa dalam lembar sejarah Indonesia. Hal inilah yang mengingatkan saya dengan suatu istilah dalam dunia psikologi yang dikenal dengan sebutan post power syndrome.

Post power syndrome merupakan keadaan yang sering dialami para pensiunan. Biasanya seseorang yang mengalami hal ini akan cenderung dibayangi masa lalu yang penuh dengan gelimang kejayaan, sulit menerima kenyataan, dan yang paling menggelikan adalah suka untuk mengulang kisah lama yang seharusnya sudah usang dimakan zaman.

Jika membaca literatur-literatur psikologi, akan ditemukan bahwa cara utama untuk mengobati hal ini adalah dengan bantuan penuh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Berbincang-bincang dengan keluarga dan orang-orang sekitar akan menjadi obat tersendiri untuk para pengidap sindrom ini.

Saya menduga hal inilah yang sedang dialami oleh para aktivis 98 sampai sekarang. Apalagi melihat gelombang aksi mahasiswa 2020 yang muncul dengan ide dan perspektif baru dalam melihat arus pergerakan zaman.

Gelombang aksi mahasiswa yang terjadi sepanjang tahun 2019 sampai menjelang penghujung tahun 2020 seakan menyiratkan suatu hal bahwa aktivis mahasiswa yang hidup pada era sekarang ini tidak ingin hidup dalam bayang-bayang semu aktivis 98. Aktivis mahasiswa membahasakan gugatan tersebut secara konsisten dalam setiap aksi-aksi massa yang terjadi belakangan ini.

Berbeda dengan para aktivis 98 yang hanya menginginkan terjadinya perubahan pada segmentasi politik semata. Gerakan nahasiswa saat ini mengusung tema-tema yang lebih ideologis. Persoalan-persoalan mengenai HAM, demokrasi, lingkungan, hukum, dan kesetaraan gender turut menghiasi tuntutan-tuntutan yang disuarakan oleh gerakan mahasiswa saat ini.

Baca juga:

Gerakan mahasiswa tahun 2020 bisa dikatakan adalah generasi yang mempunyai interpretasi baru dalam melihat arus pergerakan zaman. Mereka adalah generasi yang tumbuh di saat akses informasi dan ilmu pengetahuan dapat diakses dengan mudah. Oleh sebab itu, gerakan mahasiswa 2020 adalah para aktivis yang mengusung ilmu pengetahuan sebagai dasar utama untuk melakukan kritik kepada kekuasaan.

Hal lain yang patut menjadi sorotan dalam gerakan mahasiswa 2020 adalah mereka digerakkan oleh dua kata, yaitu solidaritas dan egalitarianisme. Dengan solidaritas, mereka muncul dengan membawa tuntutan yang langsung berasal dari akar rumput. Sedangkan dengan egalitarianisme, mereka menjaga agar gerakan mereka tetap solid dalam satu barisan atas nama “Rakyat”.

Terakhir, jika post power syndrome diobati dengan berbincang dengan orang-orang terkasih di lingkar keluarga dan lingkungan. Di dalam dunia aktivisme, post power syndrome yang dialami oleh para generasi tua diobati dengan gugatan. Hal inilah yang membuat gerakan mahasiswa 2020 muncul sebagai angkatan yang berbicara dengan bahasa menggugat. Mereka tidak sama seperti generasi 98 yang hanya bisa membanggakan diri karena sejarah masa lalu.

Generasi 98 sepertinya lupa bahwa generasi hari ini tidak peduli siapa mereka di masa lalu. Generasi hari ini hanya mengerti bahwa generasi 98 sudah mengkhianati sumpah mahasiswa Indonesia. Oleh sebab itu, gerakan mahasiswa 2020 mengambil peran sejarahnya untuk menggugat para generasi tua yang mengacau. Hidup mahasiswa Indonesia!

Miftah Rinaldi Harahap
Latest posts by Miftah Rinaldi Harahap (see all)