Memahami Cara Pandang Cina dalam Hubungan Bilateral

Memahami Cara pandang Cina dalam Hubungan Bilateral
©Global Times

Nalar Warga – Hari ini kita dihadapkan pada laporan media Cina tentang pertemuan Yang-Sullivan. Apa arti “No Respect, No Cooperation”? Tulisan singkat ini membahas soal pendekatan Cina dalam hubungan bilateral.

Pada waktu Biden mengambil alih Gedung Putih, hubungan Cina & Amerika ada di titik nadir, di mana kedua negara pada dasarnya saling mengecam satu sama lain, sering dengan kata-kata kasar. Itu karena Trump & pembantunya sering omongannya kasar-kasar.

Biden masuk, dia ternyata tidak punya strategi tentang hubungan dengan Cina. Kondisi hubungan dengan Cina sudah sedemikian buruk, antipati terhadap Cina sudah sedemikian rendah di Congress dan publik hasil propaganda kebencian 4 tahun oleh Trump, sehingga Biden sukar gerak.

Biden kemudian memutuskan untuk meneruskan kebijakan anti-Cina dengan Trump. Tetapi ternyata Amerika sukar bergerak tanpa kerja sama dengan Cina, baik untuk urusan domestik maupun urusan global. Jadi bagaimana taktik Biden soal ini?

Kemudian Gedung Putih membuat taktik begitu: Amerika melihat Cina sebagai pesaing utama. Cina dianggap akan mengambil alih posisi Amerika sebagai superpower tunggal, karena itu Amerika akan memperlakukan Cina dengan keras sebagai pesaing.

Tetapi untuk bidang-bidang tertentu di mana kedua negara bisa kerja sama, Amerika mengejar kerja sama. Intinya: Untuk bidang yang dibutuhkan Amerika, Amerika mengharap Cina kerja sama. Untuk bidang lain, Amerika akan menekan Cina.

Cina menolak taktik Amerika ini. Menurut Cina, Amerika harus memperlakukan Cina sebagai rekan satu tingkat, saling menghormati, baru bisa kerja sama. Itulah maksud dari “No Respect, No Cooperation”. Cina tidak akan bekerja sama dengan Amerika kecuali Amerika menghormatinya.

Hubungan Amerika-Cina saat ini mentok, tidak ada negosiasi dagang baru lagi, tidak ada negosiasi apa pun yang bisa mempererat hubungan keduanya. Padahal era Biden tinggal 2 tahun lebih lagi, Biden tidak bisa menembus Cina.

Baca juga:

Cara melihat hubungan bilateral dua negara dengan cara Timur, yaitu yang penting adalah secara makro kedua negara itu saling bersahabat, saling mengerti, saling menghormati. Jika hubungan ini tercipta, maka setiap masalah yang muncul dalam hubungan dua negara akan cepat diselesaikan.

Menurut cara pandang Cina, masalah hubungan dua negara, seperti juga hubungan dua orang, akan muncul terus selama orang masih hidup. Tetapi masalah-masalah itu tidak akan berkembang jadi marak tak terkendali jika hubungan inti sudah benar, saling empati, saling melihat dari sisi lain.

Sebaliknya Amerika melihat hubungan dengan Cina dengan kacamata Barat menghadapi musuhnya. Saling mengintai, saling main kayu, business-like, dan setiap masalah muncul selalu harus saling sikut, lalu negosiasi.

Amerika tidak memandang penting hubungan makro, hubungan persahabatan dan emosional dua negara, mereka fokus ke hal-hal rinci yang mereka ingin capai untuk diselesaikan, tanpa menyelesaikan masalah hubungan inti. Cina menolak pendekatan itu.

Hubungan Cina dengan Rusia memperlihatkan pendekatan ala Beijing. Xi dan Putin diketahui bertemu puluhan kali, membicarakan segala hal, sehingga mereka menemukan diri walau tidak saling setuju untuk isu-isu tertentu, saling mengerti posisi satu sama lain.

Hubungan itulah yang membuat Rusia & Cina lebih saling percaya satu sama lain. Jika muncul masalah, masing-masing pihak tidak saling mengecam pihak lain apalagi secara publik, tapi diselesaikan diam-diam. Kerja sama itulah yang membuat kerusuhan-kerusuhan yang terjadi Kazakhstan tahun lalu cepat beres.

Jadi inilah inti kesuksesan kerja sama langgeng dengan Cina: Beresin saling pengertian secara makro dulu, hal-hal mikro dan rincian akan menyusul dibereskan dengan cepat.

*Mentimoen

Baca juga:
    Warganet