Memahami Konsep Religiositas ala Einstein

Memahami Konsep Religiositas ala Einstein
©Beautynesia

Mula-mula, Max Jammer—penulis buku ini—hendak memberi gambaran ihwal perjalanan keberagamaan (religiositas) Albert Einstein kepada pembaca sebelum secara rinci dibahas mengenai teori relativitas Einstein, pandangannya mengenai Tuhan, kosmos, hingga mistisisme.

Einstein lahir di keluarga Yahudi yang tidak terlalu fanatik beragama. Salah satu indikatornya adalah pemberian nama terhadapnya yang tidak diberi nama sama dengan nama kakeknya (sebagaimana lazimnya dalam mazhab Yahudi).

Bukti lain adalah tidak adanya praktik ritual keagamaan di keluarganya serta tidak pernah ada kunjungan keluarga ke Sinagog (tempat ibadah Yahudi). Bahkan Hermann Einstein, ayahnya, memandang ritual Yahudi sebagai relik takhayul kuno.

Tapi, meskipun begitu, keluarga Einstein tetap mengajari Albert Einstein dengan pendidikan agama Yahudi (melalui saudara jauhnya), pendidikan dasar-dasar iman ke-Yahudi-an. Mungkin saja ini adalah cara untuk meng-counter Albert dari pelajaran Katolik di sekolah.

Konon, menurut beberapa penuturan orang yang telah berbicara langsung atau melalui korespondensi dengan Einstein, banyak hal yang berperan dalam membangun religiositasnya, mulai dari keindahan alam di Munich (tempat keluarganya tinggal setelah pindah dari Ulm) dan keindahan musik.

Mungkin saja peleburan antara musik, alam, dan Tuhan adalah kombinasi unik yang membangun religiositas Einstein pada saat itu. Tapi lebih dari itu, sebagaimana hasil penuturan Einstein sendiri, religiositasnya tersebut terbangun bukan karena keindahan alam dan musik saja, melainkan juga melalui hasil perenungan-perenungan terhadap segala sesuatu di sekitarnya.

Einstein tumbuh sebagai pemeluk agama yang toleran. Di sekolah dasar Katolik, ia menjadi satu-satunya siswa Yahudi. Dia belajar Katakismus kecil sampai Katakismus besar. Einstein tak pernah merasakan perbedaan antara pelajaran Katolik di sekolah dengan pelajaran Yahudi di rumahnya. Bahkan beberapa kali dia membantu temannya yang Katolik dalam menjawab persoalan.

Dia adalah orang yang beragama Yahudi yang juga menghormati keyakinan setiap orang. Hingga kemudian, jelang upacara Bar Mitzvah (pengesahan ssbagai orang Yahudi), Einstein menjadi tidak beragama. Ini bermula dari pertemuannya dengan Talmud (yang konon menjadi sahabat akrabnya).

Baca juga:

Talmud memproyeksikan teori relativitas yang ia tulis kepada Einstein saat mengunjunginya di Munich. Di samping itu, Talmud juga mengarahkan perhatian Einstein ke beberapa ilmu fisika, seperti Pandangan Materialistik Ludwig Buchner, buku Aaron Bernstein, hingga buku Immanuel Kant tentang Kritik atas Nalar Murni. Buku-buku inilah yang konon melahirkan skpetis dalam diri Einstein terhadap agama (seperti pada kisah-kisah Injil).

Ketidakpeduliannya terhadap agama terbukti dengan keputusan Einstein untuk menikahi seorang gadis penganut gereja Kristen ortodoks Yunani, Mileva Maric. Pernikahan beda agama itu digelar tanpa restu dari kedua orang tuanya. Bahkan dengan tegas, Einstein mengatakan bahwa dirinya tidak terlalu suka jika anak-anaknya diajari dengan sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran ilmiah.

Apakah Einstein Benar-Benar Atheis

Einstein mulai mengagumi teori fisika-fisika (sebagaimana disebutkan sebelumnya), hingga akhirnya dia menemukan teori relativitas sebagai evolusioner dari teori fisika pendahulunya, sebut saja Maxwell Lorentz, Newton, dan Galileo yang kemudian membuatnya tidak percaya terhadap Tuhan personal.

Baginya, beragama adalah bentuk kekaguman pada keteraturan-keteraturan hukum fisika yang terjadi di dalam semesta, tanpa tergantung pada Tuhan personal. Nah, ketidakpercayaan Einstein pada eksistensi Tuhan personal inilah yang kemudian membuat orang-orang menyebutnya sebagai ateis.

Ini juga yang melatarbelakangi Einstein sangat memuji Spinoza. Sebab dalam filsafat Spinoza, konsep tradisional tentang Tuhan itu tidak ada. Spinoza juga menolak eksistensi sebuah kosmos yang tunduk pada suatu ajaran tertentu. Melalui Spinoza ini juga, Einstein terpengaruh pada determinisme tak terbatas, yang tidak mengakui adanya Tuhan personal yang memberi pahala dan hukuman pada ciptaan-Nya

Agama dalam pemahaman orang pada umumnya dengan agama dalam interpretasi Einstein itu berbeda. Istilah Agama dalam metafora Einstein yang masyhur, yakni: agama tanpa sains buta, sains tanpa agama lumpuh adalah agama yang mengacu pada ketaatan yang muncul tanpa indoktrinasi dogmatis apa pun. Bukan agama yang diartikan sebagai ajaran suatu mazhab yang diatur oleh suatu kelompok tertentu.

Maka oleh karena itu,Rabbi Hymann Cohen dari West New York dan Guttenberg Talmud Torah berkomentar bahwa sebenarya Einstein itu bukanlah ateis. Ia juga percaya dengan adanya Tuhan, namun ia menggunakan terminologi Matematika.

Dia meredusir yang tak terbatas pada suatu perhitungan diferensial atas tatanan yang tertinggi. Meskipun pada pemahaman sederhana, kita tetap menganggap Einstein sebagai orang yang tidak beragama.

Baca juga:

Buku karya Max Jammer ini tidak hanya mengungkap mengenai bagaimana teori relativitas itu ada, namun juga menjelaskan mengenai bagaimana fisika (begitu juga dengan teori relativitas) bisa memengaruhi religiositas Einstein.

Riwayat Buku
  • Judul buku: Menemukan Tuhan dalam Filsafat Einstein
  • Penulis: Max Jammer
  • Penerbit: Eduka
  • Tahun: 2008
  • ISBN: 978-979-18882-6-4
  • Peresensi: Aqil Husein Almanuri, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengembangan STAINAS Sumenep
Aqil Husein Almanuri
Latest posts by Aqil Husein Almanuri (see all)