Memaknai Puisi, Memaknai Kehidupan

Memaknai Puisi, Memaknai Kehidupan
©ukmfum/tw

Kita sering kali dibingungkan oleh penulis puisi dengan puisi-puisinya yang menggunakan beribu kiasan, metafora, ataupun ungkapan. Tak hanya isi puisinya, dari setiap kata pun juga sungguh membingungkan. Karena banyak kata-kata yang terlihat asing di telinga kita. Mungkin itu karena minimnya literatur kita.

Dari situ kita memahami bahwasanya kekayaan bahasa itu tak dapat diragukan lagi. Serta kekayaan literatur atau banyaknya bahan bacaan serta penghayatan penulis puisi tersebut sehingga dapat menyusun kata demi kata, bait demi bait, menjadi sebuah karya puisi yang indah.

Coba lihat saja salah satu sajak puisi dari WS. Rendra yang berjudul “Mazmur Mawar”:

Kita muliakan Nama Tuhan
Kita muliakan dengan segenap mawar
Kita muliakan Tuhan yang manis,
indah, dan penuh kasih sayang

Tuhan adalah serdadu yang tertembak
Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.

Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur

Tuhan berada di gang-gang gelap
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh

Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi

Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

Dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tua renta
tidur melengkung di trotoar
batuk-batuk karena malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar

Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
menangis di tepi jalan.

Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,

Para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, penganggur, dan peminta-minta
Marilah kita datang kepada-Nya
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Dari puisi tersebut, kita sulit memahaminya dengan sekali membaca saja. Bahkan dari judulnya pun sudah membuat kita berpikir secara radikal.

Nilai-nilai dalam puisi mayoritas tersirat maknanya. Puisi yang indah adalah puisi yang membuat pembaca berpikir lalu dapat menghunjam ke dalam hati. Dengan kata lain, dari otak turun ke hati, lalu berjalan pada realisasi kehidupan nyata.

Banyak penulis puisi legendaris, seperti Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, menuliskan puisi-puisi fenomenal hingga sekarang. Karya mereka seakan abadi. Sebab mereka menuliskan dengan demokrasi hati: dari hati, untuk hati, dan oleh hati.

Seperti itulah kiranya pula kita memaknai kehidupan.

Baca juga:

Gary Zukav, seorang penulis asal negeri Barat, pernah mengatakan, “Kita semua menjalani kehidupan dalam sebuah dunia makna. Kehidupan dunia menjelma sekolah kehidupan, sebuah arena fisikal mengenai pengalaman personal dan kolektif kita. Kita semua adalah murid kehidupan, sementara pengalaman kita menjadi kurikulumnya.”

Sebagaimana manusia yang dikaruniai akal pikiran dan hati nurani, pemaknaan memang sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Sesuatu yang tanpa makna pasti akan sia-sia.

Kehidupan juga melewati banyak inca-binca atau kerancuan. Sebab itulah yang dinamakan dualisme atau dalam Islam disebut dengan sunnatullah. Di saat kita mengalami fase rendah, di situ kita diuji seberapa tangguh kita.

Tetapi fakta yang terjadi pada dewasa kini, makin berat diuji, maka makin membuktikan pula keangkuhan manusia. Semisal, seseorang yang kaya raya lalu tiba-tiba bangkrut, pelampiasan mereka: ada yang dengan bunuh diri, minum minuman keras, menyerah dan pasrah tanpa usaha sedikit pun untuk bangkit.

Hal itu merupakan suatu keangkuhan karena mereka sudah diberi sebuah energi positif berupa kesempatan hidup, pemikiran matang, serta hati yang suci, namun tidak serta-merta digunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan solusi bagaimana dirinya harus bangkit dari sebuah keterpurukan.

Seperti dalam film Ayat-ayat Cinta 2, ada sebuah kata-kata yang memiliki makna sangat dalam, yakni “Terkadang kita harus mundur ke belakang agar dapat melompat ke depan lebih jauh”.

Di saat kita mendapat suatu kebahagiaan ataupun suatu nikmat, terkadang manusia juga merasa lemah di sana. Sebab, mereka terlena dengan kenikmatan atau kebahagiaan yang diberikan Tuhan hingga lupa bagaimana cara memaknai kebahagiaan tersebut agar kebahagiaan itu tak datang dengan sesaat.

Banyak sekali saat kehidupan manusia di bawah, mereka memohon-mohon pada sang kuasa. Pada saat sudah di atas, mereka lupa. Bahkan, terkesan tak mengingat bagaimana perjuangan mereka saat menduduki fase di titik bawah.

Memang kehidupan itu sulit untuk ditebak dan dimaknai. Sama halnya puisi. Pesan, hikmah, dan kebijaksanaan yang dapat dipetik selalu tersirat. Kita perlu berpikir dan merenung untuk dapat mengambil pesan moral dalam setiap peristiwa kehidupan.

Dengan itu, maka libatkanlah Tuhan dalam setiap peristiwa kehidupan. Sama halnya puisi, libatkan selalu perasaan dalam setiap kata-katanya. Terutama perasaan penulis saat menyusun huruf demi huruf menjadi bait sehingga menjelma menjadi sebuah puisi bernyawa.

Oleh karena itu, sejatinya puisi adalah miniatur kehidupan. Apa pun kategori puisinya, semua memerlukan perenungan agar kita dapat menemukan makna tersirat di dalamnya.

Dalam kehidupan juga begitu halnya. Jika kita selalu merasa biasa-biasa saja berarti kita tak pernah merenungkan setiap skenario dari Tuhan. Sebab, Tuhan selalu menyelipkan makna yang tersirat pada setiap fase kehidupan manusia dan Tuhan maha pemberi metafora pada seluk-beluk kehidupan.

Moh. Ainu Rizqi
Latest posts by Moh. Ainu Rizqi (see all)