Memaknai Sila Pertama

Memaknai Sila Pertama
Foto: Nusantaranews

Nalar Warga – Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, apa maknanya?

Ada banyak usaha untuk mereduksi makna sila ini menjadi makna sempit. Bahwa warga negara Indonesia harus memeluk agama. Dan agama yang dimaksud adalah enam agama yang diakui pemerintah saja.

Ini jelas tafsir konyol, bahkan fasis, terhadap sila pertama. Enam agama yang dimaksud semuanya berasal dari luar Indonesia.

Sementara itu, ada puluhan atau mungkin ratusan agama yang sudah lebih dahulu dianut oleh nenek moyang bangsa Indonesia, dan masih dianut hingga kini. Konyol sekali kalau mereka harus meninggalkan agamanya, dan masuk ke agama pendatang itu.

Terlepas dari soal asli atau pendatang, beriman itu hak. Hak itu boleh diambil atau tidak. Ekstremnya, orang mau bertuhan atau tidak, silakan saja.

Tapi andaikan pun kita sepakati bahwa setiap orang harus bertuhan, tentu kita tak bisa memilihkan Tuhan untuk dia. Setidaknya Tuhan mana yang hendak dia sembah, itu menjadi hak dia.

Karena itu, Pasal 29 UUD kita memastikan itu. Rumusannya adalah agama dan kepercayaan. Agama bisa kita terjemahkan sebagai organized religion, di antaranya 6 agama tadi. Kepercayaan lebih encer sifatnya. Ia bisa berupa kelompok kecil aliran pemikiran spiritual, bahkan pemikiran individual sifatnya.

Secara pragmatis, kalau ada orang menyembah batu di pinggir jalan, maka hak dia untuk menyembah batu itu harus dihormati, di bawah naungan Pancasila dan UUD. Nah, kita tidak perlu tahu pula Tuhan mana yang dipuja atau disembah orang. Karena itu bukan urusan kita.

Bagaimana pun tafsirnya, sila pertama itu lebih dekat kepada memberi kebebasan ketimbang memaksa.

*Kang H Idea

___________________

Artikel Terkait: