Memancarkan Cahaya Iman untuk Kehidupan Berbangsa

Memancarkan Cahaya Iman untuk Kehidupan Berbangsa
©Tirto

Cahaya iman yang berada dalam cakrawala jiwa sebagai bagian dari kesalehan individu harus memancar keluar (ke alam nyata).

Orang-orang beriman, menurut Nurcholish Madjid (Cak Nur), memiliki beberapa kepribadian agung yang tergambarkan dalam Alquran. Di antaranya sebagai berikut:

Rendah hati, rajin, dan tulus beribadah kepada Allah. Tidak kikir dan tidak juga boros harta. Selalu menerima nasihat orang lain yang berkaitan dengan ajaran-ajaran Allah.

Juga, mempunyai tanggung jawab tinggi terhadap keluarga dan kehidupan sosial. Menjauhkan diri dari melakukan kesaksian palsu atau dalam konteks sekarang: dengan praktik mafia hukum. Menepati janji.

Beberapa kepribadian ini merupakan manifestasi rasa kemanusiaan yang sangat tinggi yang terberikan dari kaum beriman. (Budhy Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Edisi Digital 2012, II: 1469-1472)

Cak Nur menambahkan bahwa iman terkait erat dengan amal saleh (perbuatan baik). Keduanya tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Agar tercipta keseimbangan antara ḥabl min allâh (cinta kepada Allah) dengan ḥabl min an-nâs (cinta kepada manusia).

Menurutnya, iman dan amal saleh merupakan konsep Islam yang sering tersebut secara berbarengan dalam Alquran. Pun demikian, dia masih menganggap iman dan amal saleh saja tidak cukup. Tetapi juga harus ada kebebasan yang cukup untuk mengingatkan apa yang baik dan benar, seperti amanat dalam surat al-‘Aṣr (103): 1-3.

Sehingga keterbukaan dan kebebasan berpendapat dapat terwujudkan. Dengan demikian, umat Islam dapat terhindarkan dari hawa nafsu (keingin pribadi) dan otoritarianisme atau sikap mau menang dan benar sendiri (Ensiklopedi Nurcholish Madjid, II: 773 & 1020-1021).

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, Yûsuf al-Qarâḍâwî menyebutkan hadis Nabi yang berbunyi:

Baca juga:

Demi Dia (Allah) yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk ke dalam surga sampai kalian benar-benar beriman. Kalian tidak benar-benar beriman sampai kalian mencintai orang lain (HR. Muslim).

Oleh karena itu, iman, menurut al-Qarâḍâwî, memberikan efek positif yang sangat nyata. Entah kepada diri sendiri maupun kepada kehidupan sosial, seperti cinta kepada Allah, alam sekitar, kehidupan, kematian, umat manusia.

Keimanan memberikan manfaat luar biasa kepada kehidupan umat manusia, baik secara individu maupun komunal. Itu untuk mencapai tujuan dan mewujudkan cita-cita mereka, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun berkaitan dengan urusan akhirat.

Iman merupakan jalan untuk meraih kebahagiaan dan memurnikan kehidupan secara umum, kekuatan moral dan moral kekuatan, jiwa kehidupan dan kehidupan jiwa, keindahan dunia dan dunia keindahan, cahaya semesta dan semesta cahaya. Pendek kata, ia merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan umat manusia, baik individu maupun sosial.

Secara individu, iman berfungsi sebagai pengaman, meraih kebahagiaan, dan mengembangkan diri sendiri. Sementara secara sosial, ia berfungsi sebagai penyeimbang terhadap kehidupan agar berjalan stabil. Keduanya saling berhubungan dan melanjutkan roda kehidupan secara sukses dan efektif (The Impact of Iman in the Life of the Individual, 2001: 167-180 & 207).

Bahkan ‘Allâl al-Fâsî mengembangkan konsep iman secara modern yang mengarah langsung kepada pembangunan dan pengembangan bangsa dan negara—sebagai bagian penting dalam kehidupan umat manusia. Menurutnya, iman kepada Allah (îmân bi allâh) memiliki cakupan atau implikasi terhadap iman kepada kehidupan (îmân bi al-ḥayâh) dan manusia (îmân bi al-insân).

Dengan kata lain, Allah tidak menciptakan kehidupan dengan main-main (sia-sia). Tetapi ia diciptakan sebagai anugerah kepada seluruh makhluk.

Karenanya, keimanan kepada kehidupan ini kita harapkan memberikan dampak nyata kepada seseorang (mukmin) untuk mencintai dan peduli terhadap kehidupan. Bukan karena ia mengandung banyak kenikmatan dan kesenangan, tetapi ia merupakan ladang yang sangat berharga untuk berbuat baik, berjuang, dan jihad.

Halaman selanjutnya >>>

    Latest posts by Nasrullah Ainul Yaqin (see all)