Memasyarakatkan Rumah Baca sebagai Senjata Melawan Kecanduan Game Online

Memasyarakatkan Rumah Baca sebagai Senjata Melawan Kecanduan Game Online
©Dok. Pribadi

Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah cara untuk membuka jendela tersebut. Tetapi orang-orang berpikir jika membaca merupakan salah satu kegiatan yang cukup membosankan. Terlebih seiring dengan perkembangan zaman yang sudah modern dan kaya akan teknologi ini orang-orang menjadi malas untuk membaca.

Masyarakat lebih melirik kepada smartphone yang lebih mudah dan cepat untuk diakses dan berhasil mencuri perhatian banyak khalayak. Hal ini menjadikan budaya literasi krisis di kalangan masyarakat Indonesia.

Padahal kegiatan membaca memiliki banyak sekali manfaat. Selain dapat mencegah risiko terkena penyakit Alzaimer, juga berguna meningkatkan daya imajinasi, memperkaya kosakata. Dengan kebiasaan membaca juga dapat melatih diri untuk mengemukakan gagasan lewat tulisan serta memperluas wawasan dan membuka pikiran.

Budaya literasi juga bertujuan agar masyarakat itu lebih peka terhadap lingkungan, tidak hanya pada lingkungan saja, tetapi juga terdapat pada dunia politik di Indonesia sendiri. Masyarakat harus pintar saat melihat kondisi lingkungan di Indonesia pada saat ini. Jangan hanya menerima suatu informasi saja lalu setelah itu dilupakan.

Alasan berdirinya Rumah Baca pada 20 Januari 2014 di Desa Talang Buluh, Kec. Talang Kelapa, Kab. Banyuasin tidak lain disebabkan karena hal-hal yang sudah dijabarkan di atas. Tentu saja kegiatan rumah baca ini dilakukan untuk menambah wawasan di bidang Literasi karena minimnya sumber daya baca dan supaya masyarakat sekitar lebih giat membaca sehingga nantinya mereka memiliki wawasan yang luas, juga sebagai wadah pembelajaran dan aktivitas positif di masa pandemi.

“Dengan adanya taman baca ini anak-anak lebih mempunyai semangat dalam berliterasi (membaca),” tutur Dilla selaku pengelola Rumah Baca desa Talang Buluh.

Di samping itu, Ahmad Kurnianto, salah satu Mahasiswa yang sedang ber-KKN kelompok 32 UIN Raden Fatah Palembang di desa ini bersama rekan-rekan lainnya memprogramkan untuk ikut membantu memasyarakatkan Rumah Baca ini agar keberlangsungan pengadaan Rumah Baca di desa ini dapat terus berjalan.

“Bahwa dengan berdirinya Rumah baca ini mampu memberikan nilai positif bagi masyarakat sekitar, apalagi di masa pandemi di mana banyak sekali waktu luang sehingga mereka menggunakannya untuk membaca.”

Baca juga:

Memang sangat jarang ditemui di masa sekarang ini ada mahasiswa yang berpikir untuk kembali ke masyarakat membagikan ilmunya dan tumbuh bersama masyarakat untuk memajukan bangsa ini dengan kegiatan bersifat sosial.

Mahasiswa seakan menjadi sebuah lambang bagi orang berpendidikan dan berpengetahuan luas di era ini. Dan ini seperti menjadi sebuah sekat.

Fakta bahwa makin tahun makin banyak jumlah anak muda di tanah ibu Pertiwi ini yang mendaftarkan dirinya menjadi anggota dari sebuah kampus. Tentu ini menjadi hal yang menarik untuk dibahas mengingat ada fakta lain yang terungkap bahwa mahasiswa era milenial ini malah makin sunyi dan sepi akan aspirasi.

Kembali ke masa lalu, ketika pendahulu kita dibungkam dan diasingkan, kita juga tahu bagaimana kesatuan dan suara para mahasiswa era itu. Mereka mampu menggulingkan sebuah rezim yang mengakar kuat dan dalam di bumi Indonesia ini.

Kini, kita mahasiswa berada di era yang berbeda dari masa-masa kelam itu. Kini kita bebas bersuara. Kini kita bebas berorganisasi, bebas berserikat, dan membuat komunitas, bersuara maupun kelompok.

Kita mahasiswa yang dianggap sebagai agen perubahan, mahasiswa memang menyandang beban dan tugas mengasyikkan di mana kita harus aktif dan mengamalkan ilmu yang kita dapat di kampus atau kosan.

Lucunya adalah saat ini banyak mahasiswa termasuk saya sendiri yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sehingga terasing dari masyarakat, terasing dari isu sosial, dan terasing dari dunia yang sesungguhnya yang ada di depan mata kita. Isu krisis literasi yang sudah akut salah satunya.

Baca juga:
Ahmad Kurnianto