Membaca Generasi Bangsa Melalui Lir-Ilir

Dengan adanya gairah, maka masa depan bangsa akan makin cerah. Sebaliknya, tanpa adanya gairah, bangsa ini akan makin tidak jelas serta tidak menentu.

Gairah itu layaknya sepasang pengantin baru. Kita tahu pengantin baru, mereka terlihat bahagia bersama pasangannya, yang mereka pikirkan bukan lainnya, tetapi bagaimana mereka menata masa depan untuk hidup bersama dan bahagia bersama. Tentu gairah ini harus dimiliki oleh bangsa ini, agar tercipta kemesraan antara alam, pemimpin, dan rakyatnya.

Bait keempat, yaitu “Cah Angon- Cah Angon Penekno Blimbing Kuwi (Anak Penggembala, Tolong Panjatkan Pohon Blimbing itu)”. Di sini terdapat sebuah kalimat “Cah Angon” yang bermakna “Anak Gembala“. Maksudnya adalah anak atau tukang gembala, seperti gembala kambing, sapi, dan lain sebagainya.

Sunan Kalijaga dalam bait ini tidak menggunakan kalimat “Pak Jendral, Intelektual, Kiai, Seniman, Sastrawan atau yang lainnya, akan tetapi beliau menggunakan kalimat “Cah Angon (Anak Gembala)“. Tentu kita tahu tugas dari “Cah Angon” atau yang kita sebut “Tukang Gembala”, yaitu  menjaga, merawat serta menggiring hewan yang berada dalam tanggungannya. Hewan yang berada dalam gembalanya tidak boleh hilang, sakit, dan kelaparan.

Dalam konteks bangsa Indonesia, “Cah Angon” bisa bermakna seorang doktor, seniman, kiai, jenderal atau bahkan sastrawan, akan tetapi harus memiliki daya “Angon (Gembala)”, yakni daya kesanggupan “meng- Gembala-kan” dirinya merangkul semua pihak leboh-lebih sesama bangsa.

Selain itu juga harus menciptakan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan (Emha Ainun Najib). Jadi, kata “anak gembala” dapat diartikan merawat, melayani, mengatur dengan baik dan berusaha untuk terus meningkatkan sampai berhasil meskipun harus melangkah perlahan untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya3.

Dalam kalimat “Penekno Blimbing Kuwi” yang berarti “Pohon belimbing”, yaitu sebuah pohon yang memilki buah bergigir lima, berasa asam manis segar dimakan dan bisa digunakan untuk membersihkan sesuatu yang lengket4. Dalam bait ini, Sunan Kalijaga menggunakan kata “Penekno Blimbing Kuwi” tidak menggunakan kata “Penekno Palem Kui”, “Penekno Sawo Kuwi”, atau buah yang lainnya, tetapi menggunakan kata “Belimbing”, yakni buah yang bergigir lima (Emha Ainun Najib).

Tentu yang harus memanjat pohon “Belimbing bergigir lima” itu harus “Bocah Angon”, yakni anak gembala yang memiliki daya “Angon (Gembala)” guna mendapatkan buahnya yang bergigir lima. Makna dari “gigir lima” di sini dapat diartikan hal yang bermanfaat, dalam konteks Indonesia adalah lima poin Pancasila. Jika dalam islam, “gigir lima” bisa bermakna lima rukun islam, termasuk juga salat lima waktu.

Bait kelima, yaitu “Lunyu- lunyu Yo Penekno Kanggo Mbasuh Dodotiro (Walaupun Licin Tetap Panjatlah Untuk Mencuci Pakaian)”. Bagaimanapun licinnya pohon tersebut, sang “Bocah Angon” tetap harus memanjatnya guna mendapatkan buahnya. Karena air sari pati dari belimbing lima gigir itu dibutuhkan oleh bangsa Indonesia untuk mencuci pakaiannya.

Pakaian adalah sesuatu yang menutupi kekurangan yang terdapat dala diri manusia, juga sesuatu yang mempercantik diri manusia. Pakaian di sini juga bisa bermakna akhlak, karena yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah pakaian.

Misalnya ketika manusia melepas semua pakaiannya (baca: Telanjang), di situlah manusia kehilangan martabatnya sebagai manusia. Akhlak berupa perilaku, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, bangsa, dan kepada Tuhannya.

Bait keenam, “Dodotiro- dodotiro Kumitir Bedhah Ing Pinggir (Pakaian- pakaian Yang Koyak Disisihkan)”. Dalam bait ini, pakaian yang koyak (robek) dipisah untuk diperbaiki. Dengan artian bahwa hal-hal yang rusak, jelek, dan lain sebagainya yang timbul di Indonesia harus disisihkan sementara waktu agar nantinya dapat diperbaiki dan dibersihkan menggunakan air sari pati dari buah belimbing yang bergigir lima.

Bait ketujuh, “Dondomono Jlumatono Kanggo Sebo Mengko Sore (Jahitlah, Benahilah Untuk Mengahadap Nanti Sore)”. Yaitu pakaian yang koyak harus dijahit, diperbaiki, dan dibenahi untuk persiapan dipakai lagi. Artinya, kerusakan, kejelekan, serta kekurangan harus segera diperbaiki dan dibenahi untuk persiapan masa depan bangsa Indonesia.

Di sini, “Kanggo Sebo Mengko Sore” dapat bermakna pembenahan dan perbaikan, sebagai persiapan menghadap nanti sore. Sebab sore hari adalah persediaan untuk menghadapi hari esoknya.

Di akhir bait, Sunan Kalijaga menutup syairnya dengan kalimat “Mumpung Padhang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane (Mumpung terang rembulannya, Mumpung banyak waktu luang)”, Artinya, kerusakan, keburukan serta kekurangan harus segera mungkin diperbaiki sebelum terlambat, mumpung keadaan masih memungkinkan untuk itu, agar tidak mengalami penyesalan di kemudian hari.

Sebagaimana kata pepatah, “sedia payung sebelum hujan”, tidak ada kata terlambat jika kita sudah mempersiap sejak awal. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw mengingatkan:

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Abdullah Mudhar (see all)