Membaca Golongan Karya

Membaca Golongan Karya
Ilustrasi: rashidridha.files.wordpress.com

Cukup jelas bahwa Golongan Karya hari ini telah menyimpang jauh dari gagasan awal pendiriannya. Ia kini lebih dekat dengan islamisme daripada “kolektivisme” dan “asas kekeluargaan” sebagaimana dibayangkan para pendirinya.

Nalar Warga Membaca buku ini, yang muncul di pikiran saya adalah: lalu siapakah ahli waris pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Soepomo, Soekarno, dan Hatta?

Keempat tokoh tersebut mempunyai pemikiran yang unik mengenai nasionalisme Indonesia. Keempatnya berusaha menggali dan lalu mengawinkan suatu, katakanlah, budaya politik yang tumbuh secara organik dalam pengalaman bangsa ini dan gagasan-gagasan yang datang dari Eropa. Dari keempatnya, lahir konsepsi awal tentang “kolektivisme” dan “asas kekeluargaan”.

Dalam perkembangannya, konsepsi tersebut melahirkan Golongan Karya (Golkar) pada akhir 1950-an. Meski Soekarno adalah orang yang paling berperan di balik itu karena ketidaksukaannya terhadap partai-partai politik yang ada, Golkar kemudian diambil alih oleh tentara sebagai kendaraan untuk menghajar PKI (Partai Komunis Indonesia).

Di era Orde Baru, jelas Golongan Karya adalah satu-satunya partai—tetapi bukan partai yang digunakan oleh Pak Harto untuk melegitimasi kekuasaannya di kancah elektoral.

Satu hal yang hilang dalam analisis buku David Reeve yang sangat bagus ini adalah momen ketika para aktivis Muslim berbondong-bondong masuk ke dalamnya sejak akhir 1970-an. Ketika Pak Harto mengalihkan sumber dukungannya dari tentara ke Islam pada akhir 1980-an, para aktivis Muslim tersebut telah menjadi petinggi Golkar.

Mereka, yang umumnya berlatar belakang Islam modernis, berkoalisi dengan para pengusaha dalam menjalankan roda organisasi dan menentukan corak Golongan Karya hari ini.

Cukup jelas bahwa Golkar hari ini telah menyimpang jauh dari gagasan awal pendiriannya. Golkar hari ini lebih dekat dengan islamisme daripada “kolektivisme” dan “asas kekeluargaan” sebagaimana dibayangkan para pendirinya. Tetapi apakah jangan-jangan islamisme merupakan sebentuk “kolektivisme” dan “asas kekeluargaan” abad ke-21?

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)