Membaca Makna dan Motif Pesan

Membaca Makna dan Motif Pesan
©Vadim Trunov/FineArtAmerica

Nalar Warga – Di dunia komunikasi, setiap pesan yang disampaikan, apa pun bentuknya, akan direkam di benak penerima pesan. Di ruang digital, tiap pengguna akan meninggalkan jejak yang dicatat pengguna lain sehingga, ketika diperlukan, orang bisa memunculkan kembali rekaman itu.

Ini era YOU ARE THE MESSAGE di mana semua perilaku kita mengandung pesan yang bisa dimaknai oleh orang lain. Maka pesan-pesan yang kita sampaikan sesungguhnya mencerminkan gambaran siapa kita, posisi kita, dan motif yang menjadi latar kenapa kita mengambil posisi tertentu.

Kita bisa mengenali orang-orang dengan karakter hate speech, rasis, bias gender, suka menghina atau memberi label negatif ke orang lain, dan sebaliknya. Ada ciri khas yang melekat pada diri seseorang yang terbaca melalui pesan-pesannya. Ini bisa dianalisis dengan satu metode yang dinamakan KOMUNIKASI FORENSIK.

Istilah “forensik” biasanya kita dapati di dunia kedokteran, hukum, atau IT. Dalam analisis komunikasi forensik, teknis kinerjanya serupa, yakni melakukan pengamatan terhadap bagian-bagian yang diforensik dan cara kerja bagian-bagian itu, lalu menemukan dan menafsirkan gejala yang selalu berhubungan dengan objek yang dianalisis.

Kalau di bidang kedokteran, yang menjadi objek forensik adalah organ-organ tubuh manusia. Dalam bidang komunikasi, yang menjadi objek forensik adalah PESAN:

  1. Visual message
  2. Auditory message
  3. Tactile message
  4. Olfactory message
  5. Gustatory message

Bisa salah satu atau gabungan lebih dari dua objek itu.

Dalam sebuah pesan komunikasi, terkandung makna yang bisa muncul dalam pesan verbal-non-verbal. Melakukan forensik berarti memaknai atau menginterpretasi tanda-tanda yang ditemukan dalam pesan. Ini bisa dilakukan di berbagai level komunikasi, apakah interpersonal, grup, komunitas, bahkan komunitas publik seperti di media sosial.

Asumsi utama dalam forensik komunikasi: semua pesan tidak hanya mengandung makna, tapi juga memuat motif dan kepentingan-kepentingan tertentu dari si pemilik pesan. Selalu ada agenda tersembunyi di balik sebuah pesan, ketika kita menghubungkannya dengan objek benda, kata atau gambar penanda, dan sebuah peristiwa.

Baca juga:

Ada beberapa teori yang bisa digunakan dalam melakukan forensik, misalnya teori Triangle of Meaning Charles S Pierce & IA Richard yang menghubungkan kata, objek, dengan interpretasi. Misalnya gambar guling, dihubungkan dengan kata “tukar guling” yang kemudian diinterpretasikan sebagai gambaran terjadi pertukaran barang dengan barang.

Pesan Bantal Guling

Atau menggunakan model IA Richard, yang menghubungkan satu objek tertentu dengan peristiwa masa lalu atau sosok tertentu, yang kemudian diinterpretasi sehingga menghasilkan satu pemaknaan pesan. Misalnya objek judul lagu, foto mantan, peristiwa masa lalu, yang mendadak diunggah lagi. Bisa diinterpretasi: why?

Bisa juga menggunakan model analisis pentad Kenneth Burke, di mana objek forensik adalah simbol yang digunakan sebagai referensi objek/peristiwa. Latar belakang mengapa simbol itu digunakan, siapa yang menggunakan, alat/media yang digunakan, dan untuk tujuan apa. Model ini bisa lebih komprehensif.

Jadi, ketika kita melihat pertukaran pesan antara dua atau lebih pihak yang berkomunikasi, baik langsung atau tidak langsung, kita bisa melakukan analisis percakapannya. Membaca konteks wacana secara keseluruhan, lalu menemukan motif yang terselubung di balik makna pesan.

Lalu apa manfaatnya?

Supaya berdasar penafsiran yang dilakukan, kita bisa memberi respons yang tepat, mencegah interpretasi yang tidak tepat, bahkan bisa menghasilkan kesepahaman atau intersubjektivitas makna atas suatu pesan. Ini berguna juga untuk membantu menemukan motif dalam proses hukum.

Nah, setelah tahu soal ini, kita bisa lebih hati-hati dan lebih cermat menyampaikan pesan, terutama di media sosial. Karena efek pemaknaan ini tidak selalu positif dan selalu memiliki dampak lanjutan. Tapi secara umum, keterampilan melakukan pemaknaan dan analisis wacana bisa menciptakan ruang kritis di ruang digital.

Pesan Wacana

*Rya Wiedy

    Warganet