Membaca Sejarah dan Krisis Kebudayaan Masa Kini

Membaca Sejarah dan Krisis Kebudayaan Masa Kini
©Wikipedia

Berbicara soal kebudayaan, apalagi soal krisis kebudayaan, tentu mencakup segala aspek kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini berhubungan erat dengan identitas dan jati diri suatu bangsa yang bertujuan mengangkat martabat manusia, bukan hanya pada kesejahteraan ekonomi, tetapi juga membawa manusia pada hal yang transenden.

Kebudayaan membimbing manusia untuk mengetahui kebaikan tertinggi, keindahan, dan keluhuran. Namun, apa jadinya implementasi dan perdebatan teoritik mengenai kebudayaan yang terjebak dalam kecenderungannya yang pragmatis dan takluk atas kepentingan ekonomi global?

Kebudayaan pun mejadi hajat hidup manusia, namun tidak melulu bicara soal sandang, pangan, dan papan. Maka jauh dari hal itu, kebudayaan harus meliputi pengertian bersama mengenai jati diri dan martabat bangsa. Hal ini mungkin berlaku dalam sosial, ekonomi, politik, pendidikan, maupun agama. Kebudayaan yang menjadi jati diri bangsa berdasarkan pada keterikatan segala elemen mayarakat dengan tanah kelahiran, tradisi, dan bahasa.

Dengan mendasarkan landasan kebudayaan kepada hal di atas, tentu akan memungkinkan para pelaku budaya tidak terjebak pada sesuatu hal yang parsial dan serimonial saja. Karena kita tidak bisa memungkiri dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini.

Misal, di mana-mana dan di setiap tempat, kita dengan mudah melihat pertunjukan yang tampil dan pementasan seni budaya, baik teater, musik, tari-tarian daerah, dengan dalih mempertahankan dan memperkenalkan kebudayaan. Namun, pementasan atas nama kebudayaan tersebut tidak teriringi aspek kognitif.

Mementaskan dan mempertontonkan budaya yang seperti itu hanya mengarahkan kita pada suatu pertanyaan besar: hendak ke manakah arah kebudayaan kita? Apakah budaya hanya soal serimonial belaka, dangan harapan bahwa dengan melestarikan kebudayaan daerah akan menghasilkan uang?

Pertanyaan ini muncul karena tontonan tidak mampu mengajak kita untuk menyelami masa lalu dan memetik nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Tontonan hanya sebatas hiburan yang pragmatis.

Kelihatannya, kebudayaan dan para pelaku yang terlibat di dalamnya tampak melakukan pergerakan. Namun, gerakan tersebut bukan sebuah strategi dan siasat kebudayaan untuk membimbing kita menuju masa depan, dan bukan untuk mengantarkan kita pada hal yang transenden, melainkan hanya gerak-gerik belaka yang hendak menghabiskan anggaran tahunan dari pemerintah.

Baca juga:

Dan perlu kita pahami bahwa gerak-gerik tidak akan bisa melakukan perubahan besar. Ia hanya kasak-kusuk dan hanya akan mengambil proyek tahunan anggaran negara saja.

Jelas terlihat bahwa kebudayaan kita takluk pada kekuatan pasar dan memaknai kebudayaan sebagai komoditas yang laku di pasaran dan bisa menghasilkan uang. Dengan keadaan yang seperti itu, mustahil kita akan menemukan identitas diri sebagai bangsa seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.

Memang, pada satu titik tertentu, kontestasi kebudayaan hendak bicara identitas nasional, bahkan sebagai pengejawantahan diri sebagai masyarakat yang merdeka. Namun, di lain pihak, kebudayaan dan identitas nasional sekarang sedang mengalami kemerosototan dan gerak mundur seiring dengan kemunduran kesadaran atas sejarah dan kebudayaan itu sendiri.

Sehingga, bangsa ini pun kehilangan arah untuk menuju masa depan. Dinamika kebudayaan terletak nasibnya pada nalar pasar. Melakoni budaya dan eskpresi kesenian hanya sampai pada batas-batas yang sudah ditentukan oleh kepentingan pasar.

Berbudaya bukan lagi sebagai proses perealisasian diri, tetapi untuk ekonomi. Persoalannya bukan sekadar pasar yang bermotif ekonomi dan menghilangkan pasar bukan solusi yang baik. Yang lebih tragis adalah nalar pasar ini merambat ke segala sektor  kehidupan masyarakat.

Tahap demi tahap dari perkembangan dalam menata kebudayaan kita selalu mengalami pengasingan, pemiskinan, kemerosotan, dan pendangkalan. Entah itu defenisi, bobot, maupun cakupannya dalam kehidupan masyarakat secara umum.

Di situasi seperti inilah kita membutuhkan peta kebudayaan yang serius untuk memetakan langkah awal merajut kebudayaan agar tidak terjebak dalam gerak-gerik. Sebab krisis kebangsaan yang sedang melanda bersumber dari krisis kebudayaan. Dalam hal ini, segala elemen pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab atas krisis kebudayaan.

Hari ini nyaris tidak ada suatu upaya untuk membongkar sumber krisis kebudayaan yang telah lama terjadi. Tidak ada langkah untuk membongkar kemunduran kesadaran atas kebudaaan dan kesadaran sejarah atas bangsa ini. Saat ini bangsa kita kehilangan peta untuk menuju masa depan.

Halaman selanjutnya >>>
Irsal Mas'udi
Latest posts by Irsal Mas'udi (see all)