Membangun Karakter Pemuda; Refleksi 17 Agustus

Membangun Karakter Pemuda; Refleksi 17 Agustus
Instagram

Menjelang 17 Agustus, masyarakat siap-siap menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Hari itu merupakan hari besejarah bagi bangsa Indonesia. Hal itu ditandai dengan terpasangnya hiasan-hiasan yang bersimbolkan kenegaraan, mulai aksesoris berbentuk bendera hingga burung garuda Pancasila, dari yang berciri khas lokal hingga nasional.

Hiasan itu tersebar di jalan, di gang, maupun di pagar. Berbagai lomba dan kegiatan seperti upacara perayaan diselenggarakan untuk menyambutnya. Seluruh masyarakat secara bersamaan berlomba-lomba untuk memperingatinya.

Cikal bakal 17 Agustus sebagi Hari Ulang Tahun Repulik Indonesia berawal dari pengeboman oleh Amerika Serikat terhadap dua kota di Jepang pada 6 Agustus 1945, yakni Hiroshima dan Nagasaki. Hal ini menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Kira-kira membutuhkan waktu 12 hari para tokoh bangsa untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Karena adanya beberapa persoalan yang menghambat jalannya proklamasi, seperti proses negosiasi dengan Jepang yang tidak mau melepas kekuasaannya, juga persoalan internal pemerintahan waktu itu.

Tepat pada 17 Agustus 1945, dikumandangkanlah teks proklamasi oleh Ir. Soekarno, ditemani oleh Drs. Moh. Hatta. Hal ini membuat gempar di kalangan tentara Jepang dan menjadi berita gembira di kalangan rakyat Indonesia.

Tentu pencapaian keberhasilan kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari peran pemuda. Sebagaimana peristiwa menjelang proklamasi, kaum muda yang dipimpin Syahrir terus memberikan dorongan kepada Soekarno dan Hatta.

Syahrir telah menyiapkan pasukan lengkap dengan senjatanya untuk menghadapi tentara Jepang jika mereka menggunakan kekerasan. Karena waktu itu kaum tua, seperti Soekarno dan lainnya, masih dalam penyelesaian proses negosiasi dengan tentara Jepang.

Nasruddin Anshoriy mengatakan, di situ terdapat perbedaan pendapat antara mereka yang menghendaki kekuatan sendiri dengan mereka yang menginginkan penyelesaian dengan jalan negosiasi. Namun akhirnya mereka menyadari bahwa negosiasi tanpa dukungan kekuatan sendiri menyebabkan posisi tawar menjadi lemah. Sebaliknya, perjuangan dengan kekuatan sendiri saja tidak akan membuahkan hasil yang lebih baik (HM. Nasruddin Anshoriy Ch, 2008; 2).

Hari 17 Agustus memberikan pemahaman bahwa kita harus melakukan refleksi diri tentang bangsa Indonesia. Misalnya dengan mengambil semangat tentang pemudanya, karena kemajuan suatu bangsa ada pada para pemuda.

Nur Kholis Setiawan membahasakan pemuda sebagai masa depan suatu masyarakat. Mereka pemegang kunci alih generasi (M. Nurkholis Setiawan, 61: 2012).

Jika suatu bangsa keadaan pemudanya tidak mempunyai kreativitas yang memadai, jangan harap suatu bangsa akan maju. Kita tahu keberhasilan perjuangan proklamasi karena adanya dorongan dan semangat dari kaum muda. Jika hanya kaum tua yang bergerak waktu itu, jelas tidak akan membuahkan hasil yang baik.

Dalam konteks saat ini, di tengah carut-marut era media membuat pemuda semakin terombang-ambing. Berbagai informasi kian menyerbu dari berbagai penjuru, dari radikalisme, kriminalitas, hingga hal-hal yang berdampak negatif, seperti narkoba dan lain sebagainya. Sehingga mereka secara tidak langsung teseret oleh arus yang dibawa media tersebut.

Di samping itu, pemuda saat ini tengah dilanda demam media sosial (medsos) dan permainan yang tidak berguna. Kesibukan mereka hanya mengunggah foto di akun medsos, main Games, dan curhat. Hal itu membuat mereka sibuk dengan aktivitas menjemukan yang secara nyata tidak berguna dan membuang waktu.

Aktivitas pemuda sekarang disibukkan dengan aktivitas yang membosankan. Keadaan seperti itu membuat mereka seakan tak acuh terhadap dunia nyata yang berada di sekitarnya.

Patut kiranya 17 Agustus saat ini dijadikan momentum untuk merefleksikan keadaan bangsa saat ini. Perlu menggali potensi pemuda, baik dari aspek pengetahuan tentang bangsa, politik, ekonomi, dan ruang sosial budaya.

Dari aspek politik dan kebangsaan, Nasruddin Anshoriy mengungkapkan diperlukan pendalaman pengetahuan tentang sejarah Indonesia. Dari aspek ekonomi, Nur Kholis Setiawan mencontohkan dengan pengembangan kreativitas diri, yakni dengan membangun jiwa kewirausahaan.

Sementara dari aspek sosial, yaitu ikut andil kegiatan masyarakat seperti karang taruna dan lain sebagainya. Agar citra diri bangsa terus hidup selamanya.

_____________

Baca juga:
Latest posts by Abdullah Mudhar (see all)