Membangun Toleransi Multikultural Generasi Z

Membangun Toleransi Multikultural Generasi Z
©iStock

Membangun Toleransi Multikultural Generasi Z

Pada era digital saat ini, yang ditandai dengan internet, perangkat mobile, dan perangkat lunak interaktif, akses terhadap informasi menjadi makin luas dan cara kita mengonsumsi, memproses, serta memahami informasi telah berubah secara drastis. Kemajuan teknologi digital abad ke-21 mengubah cara masyarakat berkomunikasi, berinteraksi, dan berbagi informasi.

Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), dari total populasi 274,9 juta jiwa, sebanyak 73,7 persen menggunakan internet dan 170 juta orang aktif di media sosial. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, menyumbang paling banyak yaitu 34,4% dari pengguna internet di Indonesia.  Generasi Z mendominasi pengguna internet karena mereka sangat terbuka terhadap inovasi dan perkembangan teknologi.

Kemudahan akses informasi dan keterbukaan Generasi Z ini telah mengakibatkan pergeseran dari paradigma pendidikan tradisional k e metode pembelajaran yang lebih dinamis, fleksibel, dan terintegrasi dengan teknologi. Namun, di tengah perkembangan ini, multikulturalisme menghadapi tantangan baru sebab internet dapat memunculkan ancaman baru seperti penyebaran informasi tidak akurat yang dapat menyebabkan intoleransi antarbudaya.

Digital Natives dalam Dunia yang Beragam

Dari ponsel, media sosial, hingga kecerdasan buatan, Generasi Z merupakan generasi pertama yang lahir dan tumbuh di dunia ketika teknologi dan dunia digital sudah berkembang pesat. Marc Prensky (2001), seorang penulis dan pembicara terkemuka dari Amerika yang berfokus pada bidang pendidikan, memperkenalkan istilah “digital natives” untuk menggambarkan generasi siswa muda yang tumbuh bersama teknologi.

Generasi Z tidak menganggap teknologi sebagai sebuah cara untuk melarikan diri dari dunia nyata, melainkan sebagai bagian integral dari kehidupan mereka. Mereka melihat bahwa batasan antara kehidupan “digital” dan “nyata” sangat kabur. Bagi generasi ini, kedua pengalaman tersebut tidak terpisah, melainkan saling terhubung dan berinteraksi dalam semua aspek kehidupan.

Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini memiliki banyak pengaruh pada paradigma Generasi Z. Paradigma yang biasanya hanya didapatkan di bangku sekolah, kini didapatkan juga dari pengalaman interaktif dengan teknologi di sekitar mereka. Gen Z mendapatkan paparan berbagai informasi, berkomunikasi, dan berinteraksi lintas budaya dengan lebih intens.

Indonesia merupakan negara multikultural dengan lebih dari 300 suku, 200 bahasa daerah, dan berbagai aspirasi kultural yang beragam. Hal ini mendorong perlunya sikap toleransi dalam interaksi sosial, sebagaimana nilai-nilai pendidikan multikultural yang menekankan pentingnya menghormati perbedaan budaya, bahasa, suku, dan agama.

Baca juga:

Generasi ini memiliki keragaman ras dan etnis yang paling tinggi, sehingga sulit untuk membuat generalisasi yang dapat diterapkan secara umum (Rue, 2018). Keragaman etnis terpampang bebas di internet memberikan peluang sekaligus tantangan dalam multikulturalisme. Gen Z juga menghadapi berbagai disrupsi informasi dari internet yang membuat mereka rentan terhadap misinformasi dan stereotip negatif

Tantangan besar bagi multikulturalisme di era teknologi adalah apropriasi budaya dan penafsiran yang beragam. Teknologi memudahkan akses, berbagi, dan peniruan elemen budaya dari kelompok lain, menimbulkan kekhawatiran tentang penghargaan terhadap asal-usul dan konteks budaya, serta potensi penggunaan yang tidak etis. Hal ini yang membuat pendidikan multikultural yang intensif bagi Gen Z penting (Habibah, Kartika & Rizqi, 2023).

Pendidikan multikultural adalah proses pembangunan kapasitas manusia yang menghargai keragaman dan perbedaan dalam masyarakat, yang berasal dari prinsip pluralisme budaya dan kesetaraan dalam sistem pendidikan. Pendidikan ini mengajarkan pentingnya menerima dan mengelola perbedaan dengan memperlakukan semua individu secara adil, tanpa memandang perbedaan sikap atau perilaku mereka (Kusumaningrum et al, 2022).

Pentingnya Literasi Digital bagi Para Digital Natives

Era digital membawa implikasi besar bagi sektor pendidikan multikultural, dengan ruang kelas tradisional yang semakin tergeser oleh interaksi lintas budaya di ruang internet. Terutama setelah pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang mempercepat adaptasi siswa secara global terhadap pembelajaran daring, mengakibatkan siswa menghabiskan lebih banyak waktu dalam aktivitas online.

Ancaman yang tidak terlihat dari internet adalah kehadiran algoritma. Algoritma berfungsi sebagai sistem mekanisme yang memberikan rekomendasi konten kepada pengguna berdasarkan perilaku pribadi mereka. Sistem ini cenderung memisahkan pengguna ke dalam “gelembung” informasi yang memperkuat sudut pandang yang sudah ada dan membatasi eksposur mereka terhadap sudut pandang yang berbeda.

Algoritma juga dapat memperkuat stereotip dan bias budaya yang ada di platform digital. Dalam konteks apropriasi budaya, algoritma bisa memengaruhi bagaimana budaya-budaya minoritas direpresentasikan dalam media digital. Jika algoritma tidak dirancang dengan baik, hal ini dapat mengakibatkan penggunaan yang tidak etis terhadap budaya lain, tanpa mempertimbangkan keaslian dan konteks budaya yang sebenarnya.

Masalah yang lebih dalam adalah bahwa algoritma sering kali merupakan “kotak hitam”, di mana pengguna tidak memiliki transparansi atau pemahaman yang jelas tentang bagaimana keputusan diambil atau konten disajikan (Habibah, Kartika, & Rizqi, 2023). Ketidakjelasan ini meningkatkan risiko manipulasi informasi atau penyalahgunaan yang dapat memperburuk polarisasi dan konflik sosial dalam masyarakat yang memiliki keberagaman budaya seperti Indonesia.

Oleh karena itu dalam paparan budaya dunia yang beragam, para digital natives ini memerlukan pendidikan multikultural yang berbasis digital. Ini tidak hanya mencakup pemahaman tentang keberagaman budaya dan penghargaan terhadap perbedaan, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi dan menilai informasi yang mereka konsumsi secara kritis atau yang lebih sering disebut sebagai literasi digital.

Halaman selanjutnya >>>
Fida Afra' Effendi
Latest posts by Fida Afra' Effendi (see all)