Membedah Makanan Sehat dalam Alquran

Membedah Makanan Sehat dalam Alquran
Ilustrasi: Sampul Buku

Menjaga pola hidup sehat merupakan suatu anjuran yang penting dijalani dalam hidup ini. Sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki dimensi kebinatangan (hayawâniyaniyyati), manusia dituntut untuk mempertahankan hidup dengan mengonsumsi makanan sehat (pemula) dan diakhiri dengan minuman (penutupnya).

Namun, apakah manusia cukup sekadar menyantap sekian macam-macam makanan lezat, tanpa memedulikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pada kesehatan?

Padahal jelas dipaparkan di dalam Alquran; fal yandhzuril insânu ilâ tha’âmi (QS. ‘Abasa 80:24). Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Meskipun ayat tersebut bersifat umum (‘âmm) dan tujuan pokoknya adalah mengantarkan manusia untuk beriman kepada Allah SWT, namun secara khusus dapat dipahami adanya semacam anjuran untuk memilih makanan-makanan yang sehat, halal, dan bermutu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa makanan (ṭa′âm) merupakan sumber energi bagi tubuh kita untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kita juga membutuhkan kalori dan nutrisi sesuai dengan jumlah atau porsi kebutuhan tubuh agar tetap sehat.

Namun demikian, yang perlu digarisbawahi adalah terkadang kita abai dengan tubuh kita sendiri. Kita selalu memanjakan dengan makanan-makanan yang cepat saji setiap hari, tanpa memikirkan dampak terburuk di kemudian hari.

Dampak buruk bagi kesehatan serta timbulnya macam penyakit tidak hanya monopoli bagi orang yang tidak atau jarang berolahraga. Bersarangnya penyakit juga dikarenakan konsumsi makanan sehat serta bergizi yang cenderung diabaikan. Tidak salah kemudian Rasulullah memberikan teguran kepada kita untuk mengonsumsi makanan sekadar, bukan selebih-lebihnya.

Melalui buku ini, Fairuzah Tsabit berusaha membedah tiap-tiap nash qathi’ yang berkaitan dengan makanan ala Qur’ani, kemudian disinergikan dengan realitas masyarakat (dominasi budaya hedonistik – konsumeristik).

Oleh karena itu, sebagai manusia yang berakal (hayawân al nâtiq), mengambil sebuah tindakan preventif (sedia payung sebelum hujan) adalah jalan terbaik. Mengapa demikian, menyangsikan aneka makanan dengan asumsi belakangan ini umat Islam maupun masyarakat pada umumnya cenderung memilih makanan yang kemasannya menarik dan siap saji. Kenikmatannya terasa di bibir namun tidak memperhatikan dampak beserta risiko yang akan terjadi, baik secara jasmani dan rohani. Betapa kesehatan sangat urgen di dalam hidup ini.

Buku ini semacam oase pengetahuan tambahan yang begitu spesifik – tematik – sistematis  dalam membedah persoalan makanan sesuai petunjuk Alquran. Tawaran atas upaya rekonstruksi pola hidup sehat ala Qur’ani.

Pemaparan penulis di dalam buku ini, secara komprehensif menyugesti pembaca mengenai urgensi makanan sehat, thayyib, halal, dengan tidak menafikan nilai kelezatannya. Di samping itu juga, problem halâlan thayyiba perlu dikaji ulang dan terperinci (tafshili) dengan nalar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan (accountable).

Di dalam buku ini, penulis juga memunculkan perbandingan corak tafsir (muqâranatu al tafâsir) dengan berbagai sumber-sumber makanan halal dan bergizi ala Qur’ani, yang dilanjutkan dengan ragam pandangan para ulama klasik dan kontemporer melalui pendekatan ilmiah beserta aspek kesehatannya secara komprehensif.

Di lain bab, dikupas juga mengenai hikmah diharamkannya beberapa jenis makanan di dalam Alquran serta keterkaitan makanan yang sehat dengan kesehatan jasmani dan rohani.

Buku ini sarat muatan pesan mendalam tentang bagaimana kita menjaga dan menciptakan pola hidup sehat dengan makanan sehat, berkah, dan bergizi sesuai ajaran Islam. Pertanyaannya kemudian, bagaimana menjaga pola hidup sehat dengan makanan-makanan yang sehat? Tentu semua itu terpulang kepada masing-masing orang.

Judul Buku: Makanan Sehat dalam al-Qur’an
Penulis: Fairuzah Tsabit
Penerbit: Pustaka Ilmu
Cetakan: I, Januari 2013
Tebal: 205 halaman

    Fathor Razi

    Alumnus Magister Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Latest posts by Fathor Razi (see all)