Membela Harta, Manifestasi Membela Agama

Membela Harta, Manifestasi Membela Agama
┬ęBumi Setrojenar/Blogspot

Membela harta adalah manifestasi dari agama.

Tuhan (Allah) menciptakan makhluk yang berakal (manusia) ini yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Filosof Yunani Aristoteles (384-322 SM) menyebutnya dengan hayawanunnatiq (hewan yang berakal).

Tentu Tuhan punya alasan kenapa manusia itu memiliki akal. Rene Descartes mengatakan, aku berpikir maka aku ada, maka sudah pasti tujuan penciptaan akal manusia untuk berpikir.

Dari berpikir tersebut bisa membedakan hitam-putih, baik-buruk, atas-bawah. Dari akal tersebut kemudian manusia bisa menentukan keberlangsungan hidupnya, yaitu mundur atau maju; semua tergantung akal.

Kaitannya dengan judul di atas, yaitu harta merupakan logistik untuk manusia. Harta yang saya maksud di sini berupa rumah, tanah, hewan ternak, dan sesuatu yang bisa menghasilkan dan digerakkan untuk manusia ambil manfaatnya dan dari harta tersebut manusia bisa bertahan hidup.

Harta tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan manusia mengingat manusia adalah makhluk ekologis, makhluk yang membutuhkan tempat tinggal (sandang, pangan, papan). Inilah yang kemudian menjadi kehidupan manusia untuk melakukan keberlangsungan sosialnya, menjalankan ritual keagamaannya.

Lantas bagaimana kemudian keberlangsungan hidup ini akan berjalan jika manusia terampas hartanya? Maka secara tidak langsung perampasan ini berindikasi pemerkosaan terhadap agama.

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Manusia membutuhkan bantuan dan pertolongan yang lain. Dalam konteks ini adalah negara sebagai penjamin kehidupan rakyatnya, yaitu Indonesia.

Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menganut paham demokrasi dan berideologi Pancasila. Setiap individu dan masyarakat terjamin hidupnya dalam undang-undang sebagaimana yang tertuang dalam pasal 28 G Ayat 1 UUD 1945 yang bunyinya:

  1. Hak atas perlindungan pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda, ha katas rasa aman, dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi Manusia.
  2. Hak untuk bebas dalam penyiksaaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia.

Dalam hal ini, negara harus menindak tegas terhadap kelompok yang melanggar pasal di atas tersebut, bahwa negara harus melindungi hak hidup warganya. Apabila hak dan kewajiban individu ini terzalimi, negara (penegak hukum) harus berada di garis terdepan untuk membela mustdafin ini (kaum yang tertindas).

Baca juga:

Senapas dengan hal itu, agama mengutuk keras kelompok yang menzalimi rakyatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (iman) kepada Allah dan Rosulnya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Qs: Alhujarat 49:15)

Konteks ayat di atas merupakan sebuah keharusan manusia dalam melakukan jihad (perjuangan) untuk menuntut hak dan kewajibannya. Hadis Nabi mengatakan, apabila dari seorang melihat sebuah kemungkaran, ubahlah dengan tangannya; jika tidak bisa, dengan lisannya; jika masih tidak bisa, dengan hatinya; itu pun selemah-lemahnya iman.

Kata “mungkar” secara etimologi adalah kejelekan. Kejelekan di sini bisa kita artiluaskan dengan penindasan, perampasan, perusakan, dan kesewenang-wenangan. Kemungkaran, kalau kita kontekskan ke realitas sosial, adalah tindakan yang merugikan orang, kelompok, dan institusi.

Bagaimana negara melindungi hak warganya jika harta rakyatnya terampas atau terusir dari tempatnya yang katanya kekuasaan penuh dari negara ada pada kekuasaan rakyat, dari rakyat untuk rakyat?

Kasus yang menimpa masyarakat Kulon Progo, Daerah Istemewa Yogyakarta berlangsung tragis. Terjadi pengusiran warga dari rumahnya yang dilakukan oleh aparat penegak hukum karena dampak pembangunan bandara. Tindakan ini merupakan sebuah tragedi yang sangat tidak mencerminkan penegak hukum.

Fatalnya adalah pemaksaan beserta tindakan yang represif sehingga dari tindakan tersebut membuat warga mengalami luka dan terganggu psikologinya. Kenapa negara membiarkan rakyatnya tertindas di tanahnya sendiri? kenapa negara kehilangan rasa kemanusiaannya?

Halaman selanjutnya >>>
Ainur Rohman