Membela Kebenaran, Mengisi Kemerdekaan

Membela Kebenaran, Mengisi Kemerdekaan
Ilustrasi: Pintaram

Semangat membela kebenaran dan keadilan merupakan tugas besar kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Tugas utama nan sakral tersebut merupakan parameter dari apa pun yang kita kerjakan.

Umur bulan Agustus tahun ini masih belasan hari. Kurang beberapa minggu lagi ia akan meninggalkan kita. Meninggalkan kenangan-kenangan yang luar biasa heroik dan menguras pemikiran.

Terkenang perjuangan para embah buyut. Menenteng senjata di medan perang. Makan seadanya, minum seadanya, tidur beberapa jam saja. Tapi keyakinannya, semangatnya, dan keberaniannya sungguh sangat luar biasa.

Karena kuat dan beraninya para pejuang, tercetuslah kejadian-kejadian heroik yang menancap dalam batin. Dikibarkannya sang saka Merah Putih dan berkumandangnya naskah Proklamasi Kemerdekaan adalah hasil nyata dari perjuangan berat tersebut. Dunia bergemuruh. Mereka takjub. Ada pula beberapa di antaranya yang langsung mengakui kemerdekaan negara ini.

Apakah perjuangan merebut kemerdekaan itu singkat? Tentu saja tidak. Di samping butuh waktu beratus-ratus tahun, pula yang paling utama adalah pantang mundurnya embah buyut kita dari paksaan, penyiksaan, dan pengucilan para penjajah.

Tokoh-tokoh kemerdekaan kesohor kita, seperti tercatat di buku-buku sejarah, pernah mencicipi penyiksaan dan pengucilan itu. Belum lagi tokoh-tokoh yang identitasnya tidak ter-cover. Namun aneh, justru dari penyiksaan dan pengucilan itulah menumbuhkan semangat membara, menebalkan lagi keberanian dan tekad kuat untuk segera mengusir penjajah.

Biasanya, seseorang yang sehat ketika dia disakiti orang lain atau masa depannya dihambat akan lemas dan ketakutan. Keberaniannya akan turun, down, bahkan sampai ada pula yang depresi. Terhambatnya masa depan itu seakan sudah membunuh jiwanya. Jiwanya mati dari kebenaran. Ia takut akan paksaan.

Tentu ada yang menjadi titik tolak mengapa paksaan dan pengucilan para penjajah kepada para pejuang kita tidak bernilai guna. Silakah renungkan bersama, ada apa sebenarnya dalam diri pejuang atau pahlawan kita yang bernyali kuat itu? Kira-kira apa ambisi yang mereka cari dari negara yang sudah hancur sistem dan kedaulatannya semenjak Belanda mendudukinya?

Sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, muncullah sebuah hipotesa. Bahwa para pejuang dan pahlawan pantang menyerah. Tentu itu semua atas dasar membela kebenaran.

Mengejar kemerdekaan adalah benar. Mengusir penjajah adalah benar. Cinta tanah air adalah benar. Berjuang sampai titik darah penghabisan juga jalan kebenaran.

Makna ini merupakan penemuan yang sebenarnya mengada dalam batin kita. Namun karena ditutupi oleh isu-isu menarik menurut kita, pengakuan akan jalan kebenaran itupun terhambat. Hingga sulit menemukan makna itu, apalagi di era penuh carut-marut budaya populer yang menjadi tutup-tutup yang berserakan itu.

Salah satu ulama besar, Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, bahkan mendedah sebuah kalimat penting: Hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Apa maknanya?

Tentu beliau memberikan pesan mendalam dari ungkapan itu: memperjuangkan kedaulatan tanah air merupakan kebenaran. Menurut siapa? Tentunya menurut kita dan Tuhan. Ketika kebenaran dari Tuhan sudah kita tancapkan, janganlah ada keragu-raguan, ketakut-takutan, dan kemenyerah-menyerahan.

Walhasil, dari secuil kalimat pendek sarat makna tersebut—dan tentu fatwa-fatwa Hadratus Syeikh lainnya itu, mampu menggerakkan hampir seluruh pemuka agama yang ada di negeri ini. Ulama pun menjadi panutan. Mereka senantiasa menjadi sumber jawaban dari para pembesar negara kita, tak terkecuali Ir. Soekarno dan Bung Hatta.

Tentu ada rasa yang berbeda ketika ulama turun tangan dalam kancah perjuangan. Yang paling besar tentu saja. Sebab kemurnian ilmu dan kebeningan hatinya, semangat dan keberanian dalam berjuang serasa mendapat siraman yang menyuburkan. Hidup atau mati, para pejuang kita sudah tidak peduli. Pokoknya perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Di sinilah letak tiang pancang yang perlu kita lihat dan rasakan bersama. Ialah tiang pancang tentang pembelaan akan kebenaran.

Kita yang hidup hari ini, detik ini, yang sudah menikmati kemerdekaan di tahun 2018 pada titik ke-73, tentu ada harapan-harapan besar. Ada cita-cita besar dan tidak kalah heroiknya pula dengan pejuang dulu. Itu tiada lain semangat untuk bertindak benar dan membela kebenaran dalam situasi apa pun.

Semangat membela kebenaran dan keadilan merupakan tugas besar kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Tugas utama nan sakral tersebut merupakan parameter dari apa pun yang kita kerjakan. Bersosial, berpolitik, dan berbudaya tanpa meninggalkan watak kebenaran itu.

Betapapun berat, pahit, dan susahnya proses kehidupan membela kebenaran itu, kita tetap wajib mempertahankannya. Malu rasanya, hancur jiwa kita, jika perjuangan panjang dan melelahkan para pahlawan hanya kita isi dengan menumpuk kekayaan untuk diri sendiri dari jalan mana saja.

“Yang harus” (das sollen) banyak bertatapan dengan “yang terjadi” (das sein). Selama ini sesuatu yang ideal itu dengan lantang ditantang dengan sesuatu yang terjadi, yang nikmat, tapi sering menipu kita.

Mereka seperti kebenaran, namun sebenarnya kebatilan. Sepertinya membela rakyat, tapi di belakang membela kelompokmua sendiri, bahkan mencongkel uang rakyat sebanyak-banyaknya. Dengan dalih yang dibenar-benarkan menurutnya.

Di sinilah sebenarnya realitas perjuangan kita dalam membela kebenaran itu bertemu dengan musuh yang nyata. Musuh yang mengubah kebatilan menjadi penuh warna, bentuk, dan rasa yang menggiurkan kita. Dan sebagian dari kita ada pula yang mengikut di dalamnya.

Dibutuhkan prinsip yang kuat, strategi yang tepat, dan keyakinan teguh. Salah satu strategi tepat pernah pula didedah kembali oleh Hadratus Syeih tentang membela kebenaran. Tepatnya, beliau menciptakan quote tentang peluang lemahnya sebuah kebenaran. Beliau berkata:

Inna al haq yadl’ufu bi al ikhtilaf wa al iftiraq, wa inna al bathil qad yaqwa bi al ittihad wa al ittifaq (sungguh kebenaran bisa lemah karena perselisihan dan perpecahan, dan kebatilan kadang menjadi kuat sebab persatuan dan kekompakan).

Jika ditarik pada realitas kebangsaan sekarang ini, kita memang bersatu dan kompak dalam perjuangan. Namun kekompakan dan persatuan itu tidak dalam satu wadah nasionalisme, tetapi wadah golongan kita sendiri. Perjuangan tersebut pastilah demi golongannya saja, bukan yang rahmatan lil ‘alamin.

Golongan tersebut bisa jadi partai politik yang kita taati atau bisa pula kelompok-kelompok tertentu yang kita hadap-hadapkan (sentimen) dengan kelompok lain. Keironisan tersebut bermula dengan terjadinya pembelahan akibat kepentingan politik jangka pendek (baca: lima tahunan) seperti fenomena akhir-akhir ini.

Padahal musuh (kebatilan) substansial itu bukanlah kelompok lain yang berbeda politik tersebut. Bagi bangsa ini, musuh substansial kita sangatlah jelas, antara lain kemiskinan, kebodohan, diskriminasi, dan ketidakadilan hukum.

Itulah yang sebenarnya patut dilawan oleh kita bersama. Karena perlawanan itulah wujud pembelaan akan kebenaran. Tetapi lagi-lagi kita tidak akan mampu memenangkan perjuangan tersebut tanpa persatuan dan kekompakan semua anak bangsa.

Maka mari kita bersungguh-sungguh dalam mengisi kemerdekaan negeri kita tercinta ini dengan kekompakan dan semangat persatuan. Tanpa persatuan dan kekompakan, sama saja kita akan berjuang sendiri-sendiri.

Betapa mudahnya kita akan dikalahkan jika kita sendirian, sepi teman, dan tanpa persatuan menghadapi musuh—para pengusung kebatilan—yang berkumpul dan kompak.

_____________

Baca juga: