Membentuk Calon Pemimpin yang Berintegritas

Membentuk Calon Pemimpin yang Berintegritas
©Kementerian PUPR

Kepemimpinan merupakan sikap atau proses seseorang dalam memengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk mewujudkan tujuan bersama. Sosok pemimpin muda tidak hanya mampu memengaruhi, namun juga menghargai pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang, tanpa mengabaikan alasannya. Sosok pemimpin haruslah bisa memimpin dan tentunya mau dipimpin.

Untuk mencapai tujuan dan harapan terhadap sosok, tokoh, pemimpin yang berintegritas, diperlukan berbagai upaya dalam mencetak generasi penerus yang sesuai dengan keinginan masyarakat Indonesia. Karena sesungguhnya manusia diciptakan ke dunia menjadi pemimpin, baik pada diri sendiri, keluarga, maupun negara.

Saat ini, kita dihadapkan pada situasi yang sangat memprihatikan dengan kelakuan para pejabat penting, baik pada tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai negara dengan maraknya korupsi disebabkan integritas individu yang amburadul.

Menjadi pekerjaan rumah yang berat apabila terjadi pembiaran. Bagaimana mungkin Indonesia dapat sejajar dengan negara yang maju bila generasi muda tidak diperkenankan kepada nilai-nilai integritas, kemudian menjadi kewajiban bersama dimulai dari diri sendiri, keluarga, pendidikan, baik agama atau umum didukung dengan lingkungan yang baik?

Pendidikan agama adalah dasar bagi pembentukan karakter berintegritas. Tanpa pendidikan agama, mustahil seseorang dapat menjadi baik, agama sebagai tuntutan, panduan, kepercayaan di dalam mengarungi kehidupan. Agama telah mengajarkan manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tentang Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, adil, peduli, sederhana, kerja keras, mandiri, adil, serta taat dan patuh di dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama.

Orang-orang hebat di masa lalu, masa kini, dan masa depan selalu punya irisan yang sama dalam proses penciptaannya. Pertama, dibentuk oleh keluarga. Rumah tangga adalah fondasi utama untuk melahirkan calon pemimpin berintegritas di masa depan. Di sini untuk pertama kali nilai-nilai agama ditanamkan. Di sini kemampuan dasar diberikan. Di sini kepedulian untuk pertama kali diajari.

Role model di dalam pendidikan keluarga menjadi penting, di mana orang tua menjadi panutan sang anak dengan segala tutur kata, sikap, perilaku di dalam memberikan pemahaman kepada anak dimulai dari mengenalkan anak terhadap nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab yang bisa dimulai dengan kegiatan di dalam rumah seperti mengejarakan anak membersihkan tempat tidur, beribadah tepat waktu.

Selain itu, di dalam konteks keindonesiaan, di dalam rumah tangga seyogianya orang tua harus memberikan  penanaman nilai-nilai Pancasila, yang menghendaki penghormatan terhadap keberagaman, kepedulian sosial dan ketaatan terhadap Ilahi, kemudian menjadi fondasi awal di dalam kehidupan masyarakat.

Baca juga:

Guru memiliki peranan penting di dalam membentuk karakter integritas pada generasi muda, dengan adanya pendidikan formal dari usia dini sampai dengan perguruan tinggi berpengaruh dalam perkembangan sebuah bangsa. Kurikulum sekolah dapat mewujudkan manusia terampil di bidangnya dan itu sudah dapat dibuktikan. Tapi satu hal bahwa melahirkan tenaga terampil yang berintegritas membutuhkan peran serta rumah tangga, sekolah, dan lingkungan.

Guru menjadi contoh dalam bersikap dan bertindak dengan berlaku adil tanpa diskriminasi terhadap anak didiknya, memberikan kesempatan yang sama dalam mengasah kemampuan intelektual peserta didik. Selain itu, para pendidik juga dituntut mengembangkan keilmuannya.

Transformasi dunia pendidikan yang begitu pesat pada saat ini menuntut para pendidik secara teliti dan cermat. Salah satunya, pendidikan antikorupsi yang wajib ditanamkan kepada peserta didik dengan salah satu para guru tidak menerima hadiah yang diberikan oleh orang tua peserta didik karena itu adalah gratifikasi. Banyak sekolah telah membentuk kantin kejujuran yang bertujuan agar para peserta didik belajar tentang nilai kejujuran.

Lingkungan memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang, karena lingkungan yang baik akan berpengaruh terhadap perkembangan generasi muda. Di tengah pergaulan yang pada saat ini sangat memprihatikan membuat orang tua haruslah dengan ekstra mengawasi pergaulan anak-anaknya.

Butuh kerja keras untuk membentuk calon-calon pemimpin yang berintegritas. Ini bukan pekerjaan mudah. Kombinasi peran penting orang tua, guru, dan lingkungan menjadi trio yang membentuk manusia yang memiliki kepekaan, kepedulian, kejujuran, dan kecerdasan sebagai manusia, kemudian akan menjadi sosok,tokoh pemimpin yang berintegritas.

Dengan cara penanaman nilai-nilai integritas dari rumah tangga, pendidikan dan lingkungan, kelak kita akan menemukan generasi yang mampu dengan cerdas dan cermat memimpin dengan kewibawaan menjadi contoh teladan karena selalu patuh dan taat terhadap norma aturan dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan agama dan undang-undang, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan melayani masyarakat atau anggota organisasi, institusi, lembaga dengan hati yang tulus dan ikhlas.

Baca juga:
    Tomi Subhan
    Latest posts by Tomi Subhan (see all)